Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Archive for the tag “review buku perfect pain”

[Review] Novel : Perfect Pain


 

Judul : Perfect Pain

Penulis : Anggun Prameswari

Penerbit : GagasMedia

Cetakan : Pertama, 2015

ISBN : 979-780-840-8

Tebal : 315 Halaman

Blurb

Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati hati yang berani mencintai.

Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai.

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. karena sejatinya cinta tidak menyakiti.

Orang lain akan mencintaimu persis seperti caramu mencintai diri sendiri, Bi (Bunda Roem, Hal 189)

Bidari, seorang istri yang memiliki satu anak laki-laki bernama Karel. Perempuan yang tidak pernah merasa dirinya cantik dan berharga. Hal ini karena sedari kecil dia sudah mendapatkan didikan yang sangat keras dari ayahnya. Dididik dengan makian dan intimidasi, selalu salah di mata ayahnya, tidak pernah benar, tidak membanggakan dan stigma negatif lainnya yang dilekatkan padanya. Karena masa lalunya yang seperti itulah mengakibatkan Bi (panggilan Bidari) menjadi perempuan yang tidak mampu mencintai dan menghargai dirinya sendiri.

Rumah adalah tempat kau titipkan hatimu agar kau ada alasan untuk Pulang. (Hal 7)

Pelariannya dari rumah setelah lulus SMA dengan seorang Bram yang dianggapnya mencintainya menjadi sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Bi pikir Bram adalah solusi baginya sebagai tiket keluar dari rumahnya dan dari ayahnya. Nyatanya yang terjadi justru sebaliknya. Bram justru lebih menyakitinya lahir dan batin. Pukulan demi pukulan untuk kesalahan kecil sekalipun selalu Bi dapatkan. Bukan satu dua kali Bram melakukannya bahkan Bram selalu melakukannya di depan anaknya, Karel.

Jangan jadikan orang lain alasanmu bahagia atau sedih. Pada dasarnya manusia itu sendiri, kita lahir sendiri, mati juga sendiri. Jadi, jangan takut pada kesendirian (Sindhu, Hal 91)

Karel menjadi satu-satunya alasan kuat Bi untuk terus bertahan, bertahan hidup dan bertahan dari penjara pernikahannya. Dia harus tetap hidup demi Karel meski biru lebam fisik dan hatinya. Karel adalah kekuatan baginya. Sampai suatu hari Bram bukan hanya memukuli dirinya tapi juga Karel, dan nyaris membunuhnya. Saat itu kekuatan seorang Ibu yang akan melakukan apa saja demi anaknya membuatnya berani melawan dan memukul Bram yang sedang mencekik Karel. Sampai akhirnya mereka berhasil melarikan diri ke rumah sakit.

Setelah dirawat mereka ditampung oleh Sindhu, seorang pengacara muda yang khusus menangani kasus-kasus KDRT. Sindhu adalah kekasih Miss Elena, guru menggambar Karel dan Sindhu menjadi pengacara resmi Bi. Sindhu sendiri memiliki alasan khusus yang berhubungan dengan masa lalunya, kenapa dia mau membantu Bi dan Karel.

Setiap orang punya masa lalu, Bi. Hati manusia itu persis koper besar. Terus-terusan dijejali kenangan buruk, emosi negatif, rasa marah, semuanya. Makanya jadi berat, susah dibawa kemana-mana jadinya teronggok begitu saja. Biar enteng, Bi kita harus membuang semua yang memberatkan. Itu proses yang terus berjalan, nggak boleh berhenti. (Sindhu, hal 313)

Masalahnya Miss Elena (kekasih Sindhu) merasa keberatan jika Sindhu membantu mereka terlalu jauh. Apakah Bi dan Karel aman dan terbebas dari Bram? Bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Bacalah sendiri bukunya πŸ˜… 😁.

Ceritanya benar-benar bikin apa yah, banyak adegan yang membuat saya menangis dan sesekali menutup buku saking nggak kuat ikut merasakan sakitnya Bi. Nyesek banget rasanya.

Saya hanya tidak habis pikir apa yang ada di pikiran para lelaki yang melakukannya. Apakah mereka tidak membayangkan bagaimana jika Ibunya, saudara perempuannya atau bahkan anak perempuannya kelak diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Entahlah.

Tema KDRT sebenarnya sudah sering diangkat, tapi penulis menuturkannya dengan bagus, mampu mengaduk emosi pembaca, porsi tokohnya juga pas, endingnya juga memuaskan dan tidak memaksa. Pertama kali baca bukunya Mbak Anggun Prameswari dan jadi ingin baca karyanya yang lain.

Rating : 🌟 🌟 🌟 🌟

-fitrianelestari-

Post Navigation