Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Kenapa Resign?


Postingan kali ini saya ingin membahas tentang pekerjaan. Selama hampir 11 tahun saya mejadi seorang pekerja, saya sudah mengalami 4 kali perpindahan tempat kerja. Pertama kali lulus kuliah saya bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang consumers and good menjadi staf administrasi. Selama kurang lebih dua tahun saya bekerja di situ, karena suatu kondisi akhirnya perusahaan itu beralih kepemilikan dan saya resign.

Perusahaan kedua tempat saya bekerja hampir sama dengan tempat saya bekerja sebelumnya. Perusahaan ini merupakan perusahaan keluarga yang memiliki beberapa cabang di beberapa kota. Usahanya distribusi bahan makanan dan kue. Saya di situ masuk sebagai staff Head office dan menjadi audit internal. Pekerjaan sebagai audit menuntut saya untuk selalu keliling ke cabang perusahaan di kota yang lain. Namanya juga audit kalau sedang bekerja memeriksa bisa sampai jam 12 malam untuk membuat laporan. Karena di setiap cabang hanya diberi waktu 5 hari saja dan pulang sudah membawa laporan kerja, untuk besoknya dibahas dengan head office dan owner. Hanya beberapa bulan saja saya bertahan, disaat saya berhasil menemukan sebuah kasus penggelapan uang, mendapat bonus dan ditawari kenaikan gaji, tapi saya tetap memutuskan untuk resign. Karena saya merasa lelah secara fisik dan pikiran. Saya jarang berkumpul dengan keluarga, bekerja hinggal larut dan harus sering keluar kota. Sepertinya saya kurang cocok meski untuk pekerjaan sih saya oke-oke saja.

Selepas itu saya kembali bekerja di sebuah perusahaan consumers and good dan menjadi staf keuangan dan pajak. Seperti yang sebelumnya dari segi pekerjaan saya tidak merasa kberatan, saya merasa nyaman-nyaman saja. Tapi sayangnya kali ini saya harus menjadi anak kos dan jauh dari orang tua. Seminggu sekali pulang mudik rasanya capek juga. Sampai akhirnya dua tahun kemudian saya mendaftar ke sebuah perusahaan BUMN milik pemerintah yang bergerak dibidang pembiayaan. Kebetulan lokasi penempatan di unit yang ada di kota saya tinggal, bahkan kurang dari lima menit perjalanan naik motor dari rumah saya. Alhamdulillah saya diterima dan akhirnya sampai sekarang sebulan lagi genap empat tahun saya bekerja di sini. Dari segi pekerjaan saya masih menikmati dan merasa nyaman tidak ada yang terlalu berat untuk dijalani, dari segi lokasi saya juga sudah merasa nyaman.

Selama empat tahun ini saya sudah mengalami pergantian rekan kerja baik dalam satu unit maupun dari unit yang lain tapi masih satu cabang. Yang pasti setiap orang memiliki alasan masing-masing kenapa memilih untuk resign dari pekerjaanya. Ada yang resign karena menikah, ada yang pindah perusahaan, ada juga yang resign karena kasus. Apapun itu alasan resign, yang pasti tujuan mereka adalah mencari kenyamanan, tentu kenyamanan setiap orang pun berbeda versinya. Karena itu untuk mereka yang resign karena memilih yang lebih baik (versi mereka) saya tidak mau nyinyir, saya tetap menghargai pilihan mereka, karena setiap orang pasti sudah mempertimbangkannya lebih dulu sebelum memutuskan resign. Dan sekali lagi hanya masing-masing dari orang itu yang tahu apa yang terbaik bagi mereka.

_fitrianelestari_

Nama Pena


Bicara tentang nama itu banyak sekali yang bisa dibahas. Tapi, berhubung saya sudah pernah menulis tentang kebiasaan saya menamai benda2 milik saya pribadi di sini dan juga sudah beberapa kali membahas tentang arti nama atau nama-nama julukan saya. Akhirnya saya putuskan saja kali ini mau menulis tentang nama pena.

Dulu sekali awal-awal saya ngeblog dan suka nulis-nulis fiksi, saya selalu menggunakan nama pena yang singkat ‘Ne. Iya cuma ‘Ne dengan tanda petik satu di awalnya. Kenapa tanda petiknya harus di awal bukan di belakang jadi Ne’ entahlah saya sendiri juga agak-agak lupa kenapa saya nulisnya begitu, tapi saya suka aja dengan nama pena itu. Di semua akun sosmed saya bahkan tidak pernah menggunakan nama asli. Saat itu saya merasa keren dengan nama pena yang singkat itu (alay banget yah hehe). Tapi lama kelamaan saya merasa kok seperti tidak bangga dengan nama sendiri. Saya bukan penulis tenar, saya bukan artis rasanya tidak ada alasan pasti untuk menggunakan nama pena. Meski dalam beberapa tulisan saya yang pernah dibukukan dalam antologi, saya menggunakan nama pena yang singkat itu.

Memang setiap orang pasti memiliki alasan tersendiri untuk menggunakan nama pena. Saya juga saat itu ingin menyembunyikan nama asli, bukan karena tidak suka dengan nama asli, hanya ingin biar orang mengenal dengan nama pena saja. Tapi lama kelamaan ya itu tadi seperti kehilangan nama sendiri. Akhirnya pertengahan Agustus 2016 saya putuskan untuk mengganti semua akun sosmed saya dengan nama asli, Fitriane Lestari. Menulis atau posting pun dengan nama panjang saya itu.

Sebenarnya ada perbedaan dalam penulisan nama saya. Di Akta kelahiran dan KTP Penulisannya Fitri Ane Lestari, tapi entah sejak kapan diijazah tulisannya digabung jadi Fitriane Lestari. Nama panggilan di rumah dan teman-teman saya itu Ane, itulah kenapa saya mengambil nama pena dengan mempersingkat nama panggilan menjadi ‘Ne. Tapi sekarang saya selalu menyertakan nama asli dalam setiap tulisan ataupun akun sosmed yang saya miliki.

Sekarang rasanya lebih nyaman dan menyenangkan saat berkenalan dengan orang-orang baru via sosmed menggunakan nama sendiri. Dalam setiap tulisan atau akun juga merasa lebih nyaman dengan nama sendiri, Setidaknya saya jadi harus lebih berhati-hati dalam setiap tingkah laku dalam sosial media, baik dalam tulisan atau juga postingan yang lain karena sudah pasti saya harus menjaga nama baik saya sendiri kan hehe.

Jadi, kalau kamu pilih mana nama pena atau nama asli?

_fitrianelestari_

Nyesek? Curhatin aja..


wp-1488525779041.jpegJudulnya semacam psikiater saja menerima curhatan hehe. Saya bukan psikiater pun bukan lulusan ilmu psikologi, tapi saya hanya pendengar bagi mereka yang ingin curhat, terutama sahabat. Bukan sekali dua kali atau satu dua temen, sedari dulu sudah banyak yang sering curhat ke saya. Dari masalah-masalah kecil sampai permasalahan rumah tangga.

Tidak sedikit dari kisah-kisah yang dicurhatkan itu begitu memilukan, membuat saya yang tidak mengalaminya ikut merasakan. Mungkin salah satunya karena saya tipe orang yang mudah sekali berempati sehingga mereka merasa nyaman bercerita. Ada yang bilang saya lebih bijak, tapi menurut saya itu karena saya mencoba untuk selalu berpikir positif, kata bijak rasanya terlalu tinggi.

Ada yang bilang karena saya hobi baca buku dan suka menulis, bisa jadi ada benarnya juga. Saya pernah baca biasanya orang yang suka membaca akan memiliki rasa empati yang lebih tinggi. Dan lagi dari seringnya membaca kisah-kisah dalam sebuah buku akan menambah pengetahuan dan juga solusi-solusi yang dipelajari dengan sendirinya. Karena sebenernya permasalahan manusia itu meski kompleks dan personal tergantung masalahnya masing-masing, tapi banyak juga yang mengalaminya hampir sama dan seringkali ada di kisah-kisah dalam buku.

Ada juga yang dengan sengaja curhat karena ingin kisahnya dituliskan menjadi sebuah cerita. Memang sih tak jarang saya menulis cerita berdasarkan kisah orang lain, tapi bukan berarti saya membuka aib orang tersebut. Saya hanya mengambil kisahnya saja dan tidak secara utuh, berbeda dengan yang ingin kisahnya dibuatkan cerita. Ada juga yang curhat hanya karena ingin di dengarkan, hanya ingin mengeluarkan segala uneg-unegnya, ada juga yang bertanya tentang pendapat.

Kenapa saya mau dicurhatin? tidak dipungkiri karena saya menyukai sebuah kisah, berbeda orang beda juga kisahnya. Seperti membaca sebuah buku dan yang pasti di dalamnya selalu menjadi pelajaran untuk saya sendiri. Selain itu tentu saja karena saya ingin sedikit membantu meski tidak banyak, cukup hanya menjadi pendengar dan memberikan pendapat jika diminta. Saya kira itu sudah cukup untuk sedikit meringankan apa yang menyesakkan mereka. Jika pada akhirnya masalah mereka terselesaikan dan bisa kembali berbahagia, itu juga sebuah kebahagiaan buat saya. Senang rasanya ketika bisa melihat mereka mampu menghadapi masalahnya dengan kuat dan pada akhirnya bisa move on dan melanjutkan hidup dengan lebih baik.

Jadi ada yang mau curhat? boleh banget hehe.

_fitrianelestari_

 

Sahabat Sehati


wp-1485999229096.jpeg

Persahabatan kami berawal dari SMA hingga sekarang masing-masing dari kami sudah berkeluarga dan memiliki anak. Selama hampir 18 belas tahun kami bersahabat, tidak pernah ada permusuhan. Sekarang masing-masing dari kami sudah memiliki keluarga sendiri. Dulu sebelum menikah kita masih selalu rutin bertemu minimal sebulan sekali, tapi setelah berkeluarga pertemuan kami semakin jarang.

Meski begitu kami masih selalu saling mengabari atau bertemu di sosmed sesekali. Dua di antara kami masih bekerja di luar dan satu yang sudah memutuskan untuk fokus di rumah sembari berbisnis.

Foto di atas diambil beberapa waktu yang lalu saat kami berusaha menyempatkan waktu untuk bertemu. Oya boleh saya infokan dulu dari foto yang besar, sebelah kiri namanya Aniek yang tengah Mamy dan yang kanan saya. Saat itu hari Sabtu kami janjian mendadak, awalnya si saya yang meminta untuk bertemu karena memang sudah lama kami tidak bertemu. akhirnya setelah janjian secara kilat dan saat kami bertemu baru sadar kalau ternyata baju dan jilbab kita warnanya samaan. Padahal beneran deh kami tidak janjian dresscode sebelumnya. Sehati banget ya hehe.

Kesibukan kami masing-masing selain bekerja juga mengurus anak dan usaha kecil-kecilan. Aniek yang bekerja sebagai Akuntan di Sebuah Rumah Sakit swasta di Purwokerto juga membuka salon spa dan juga sebagai MUA untuk wisudaan atau pernikahan. Sesuai banget dengan passion dia yang suka banget merias, untuk yang mau facial atau butuh rias boleh cek ke IG @niek_nuskin. Aniek ini juga yang dulu merias saya saat saya menikah.

Lalu mamy yang memutuskan untuk resign dari pekerjaan setelah menikah kini selain sibuk dengan dua anaknya dia juga menjahit dan membuat homedecor, usaha rumahan yang sangat menjanjikan saat ini. Bahkan Mamy follower IGnya sudah mencapai puluhan ribu, makanya banyak juga yang endorse ke dia jadi kalau ada yang ingin cari inspirasi tentang homedecor, DIY silahkan cek IG @mamydisty siapa tahu bisa terinspirasi untuk dekorasi rumahnya.

Sedangkan saya selain juga bekerja di sebuah lembaga pembiayaan milik pemerintah saya juga sudah merintis usaha Hijab outfit dengan merk sendiri yaitu Shakila Nuha. Bekerja sama dengan teman sendiri juga sebagai konveksinya dan alhamdulillah saya memiliki beberapa reseller juga yang membantu memasarkan produk Shakila Nuha, untuk info produknya bisa cek di IG @shakila_nuha yaa (hehe promosi sendiri jadinya). Meski masih ada satu impian saya yang belum tercapai sesuai dengan passsion saya yaitu menulis hehe.

Alhamdulillah usaha kami semua didukung oleh suami masing-masing, dan saya sangat bangga dengan sahabat-sahabat saya ini. Mereka bukan hanya sebagai perempuan yang mengandalkan suami saja tapi mau berkarya sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Begitulah persahabatan kami, meski berbeda passion dan minat tapi kami selalu saling mendukung satu sama lain.

Ini cerita persahabatanku, mana cerita persahabatanmu?

_fitrianelestari_

Ketupat Kampel


wp-1485998395446.jpeg

Ketupat Kampel. Nama yang unik untuk sejenis makanan bukan? Barangkali ada yang ingin tahu kampel itu apa dan makanan dari apa?

Oke baiklah saya jawab anggap saja ada yang bertanya hihi. Pertama saya jawab dari asal usul namanya, ini versi saya loh ya entah awalnya siapa yang memberi nama kampel tersebut.

Kampel sendiri adalah bahasa jawa lokal ngapak, yang artinya peluk. Tapi tidak semua wilayah Ngapak (BARLINGMASCAKEB) memiliki makanan khas ini, beda dengan mendoan banyak kita jumpai di wilayah tersebut. Bahkan untuk di Purwokerto sendiri masih sangat jarang dijumpai yang namanya kampel ini. Adanya memang di Ajibarang, yang merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Banyumas. Karenanya Kampel sendiri masih sedikit asing di Purwokerto dan sekitarnya, padahal kampel tidak kalah gurih dibandingkan dengan mendoan.

Kampel ini adalah jenis gorengan yang terbuat dari ketupat. Ketupat dibelah menjadi beberapa bagian terserah sesuai selera, lalu di beri sambal diatasnya dan ditumpuk dengan irisan tempe atau dage, lalu dimasukkan ke adonan tepung yang sudah dibumbui terlebih dahulu baru digoreng. Terus apa hubungannya ketupat digoreng dengan kata kampel/peluk? Bisa jadi karena ketupat dan dage/tempe ini yang saling menempel seperti berpelukan, jadi tercetuslah nama kampel itu. Ini hanya kesimpulan saya saja karena entah siapa dulunya yang memberi nama kampel.

Untuk bahan-bahan yang diperlukan sebenarnya hampir sama dengan bahan membuat gorengan pada umumnya. Hanya berbeda pada bahan dasarnya saja yaitu, Ketupat, sambal dan dage atau irisan tempe. Selebihnya untuk bahan yang lain dan prosesnya sama dengan saat membuat mendoan atau gorengan yang lain. Bolehlah saya sertakan juga bahan-bahan dan cara membuatnya.

Bahan :

  • 5 buah ketupat bisa disesuaiakn secukupnya (masing-masing dibelah menjadi dua)
  • 100 gr tepung terigu
  • 50 gr tepung beras
  • 2 batang daun bawang ( iris halus )
  • garam secukupnya
  • gula pasir secukupnya
  • penyedap rasa secukupnya
  • air secukupnya
  • minyak untuk menggoreng secukupnya

Bumbu yang dihaluskan

  • 5 siung bawang putih
  • 5 butir bawang merah
  • 1/2 sendok teh ketumbar
  • 1/4 sendok teh merica butiran ( disangarai )

Cara Membuatnya :

  1. Ketupat masing-masing dibelah menjadi dua lalu diberi sambal diatasnya (tidak juga tidak apa2 sesuai selera) dan irisan tempe/dage.
  2. Campurkan bahan utama (kecuali ketupat) dan bumbu yang sudah dihaluskan dalam satu wadah lalu tuangkan air secukupnya menjadi adonan tepung.
  3. Celupkan ketupat yang sudah diberi sambal dan irisan dage/tempe kedalam adonan tepung sampai seluruh permukaan tertutup rapat adonan
  4. Panaskan minyak lalu goreng ketupat yang sudah dicelupkan dengan tepung sampai matang, angkat dan tiriskan.
  5. Ketupat kampel siap untuk disantap (lebih nikmat disantap saat masih panas/hangat)

Gimana, sudah siap mencoba? untuk pecinta gorengan sepertinya ketupat kampel boleh tuh dicoba biar tidak penasaran. Semoga resepnya bisa membantu ya πŸ™‚

_fitrianelestari_

 

Post Navigation