Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Archive for the category “30HariLagukuBercerita”

Cintaku Tak Sesederhana Hitam dan Putih


Kirana, jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, maka aku tidak ingin menjadi benar. Aku jatuh cinta sejak pertama kali melihatmu, seperti Romeo yang jatuh cinta saat pertama bertemu Juliet. Bedanya kau tidak mungkin termiliki olehku. Aku tahu bahwa seluruh dunia pun akan menentangku untuk mencintaimu. Meski begitu aku tidak akan pernah menyalahkan si cupid kecil yang sudah memanahkan cintanya. Aku juga tidak akan menyalahkanmu yang terlahir ke dunia dan membuatku jatuh padamu dan tidak mampu berpaling pada yang lain.

Tidak ada perempuan yang bisa membuatku jatuh cinta kecuali kamu. Maka sejak saat pertemuan pertama kita, aku bertekad dalam hati untuk bisa dekat denganmu, bagaimanapun caranya. Meski aku juga tidak pernah berniat untuk memilikimu, aku hanya mencintaimu, itu saja. Hingga akhirnya Tuhan mendengar permohonanku, kita pun menjadi sahabat. Bukan sebuah kebetulan bahwa kita kuliah di jurusan yang sama. Bagiku menjadi sahabatmu lebih menguntungkan, aku bisa menyembunyikan rasa cintaku padamu dan tidak ada seorang pun yang tahu tak terkecuali kamu. Aku melakukan segala yang kamu minta dariku, tidak ada yang berat bagiku melakukannya untukmu, asalkan aku bisa melihatmu tersenyum. Sungguh mencintaimu adalah candu bagiku. Sayangnya kamu lebih mencintai candu yang sebenarnya.

Berkali-kali aku berusaha membantumu untuk keluar dari lingkaran hitam yang semakin menguasaimu, yang perlahan tapi pasti merampas segala yang indah dalam hidupmu. Kamu mulai menjadi pemadat kelas berat. Kerap kali kau tidak kuliah, bahkan Laptop dan ponselmu pun kamu jual demi mendapatkan barang itu. Sangat menyakitkan bagiku saat harus menyaksikanmu sakaw, selalu aku dihadapkan pada dilema antara membebaskanmu dari rasa sakit sesaat atau membebaskanmu selamanya. Akhirnya aku membawamu ke rumah sakit, hingga membuat orang tuamu tahu yang sebenarnya. Tentu saja mereka marah padaku, yang sebagai sahabat terdekatmu tidak pernah memberitahukannya pada mereka. Akhirnya mereka pun memasukkanmu ke pusat rehabilitasi.

Tiga bulan kamu menjalani rehabilitasi dan di sana pula kamu bertemu dengan seseorang yang mampu mengembangkan kembali senyummu. Setiap kali aku mengunjungimu, selalu nama lelaki itu yang kamu sebutkan. Aku cemburu, aku sakit tapi aku rela merasakan itu demi sedikit rasa bahagia melihat ada harapan hidupmu akan kembali cerah seperti dulu. Meski yang membuatmu tersenyum bukan aku. Apa hakku untuk melarangmu jatuh cinta dengan lelaki manapun, aku hanyalah sahabatmu. Sahabat yang akan melakukan apapun demi kamu tapi tidak pernah punya hak untuk memilikimu. Sudah kusadari sejak awal cinta yang aku rasakan hanya akan menjadi rahasiaku sendiri. Jadi aku putuskan untuk merestui. Akhirnya kamu keluar dari pusat rehabilitasi dan berhasil membuat semua orang mengira kau sudah benar-benar terbebas.

Tapi kenyataan memang tidak selalu sejalan dengan apa yang diimpikan. Seperti halnya sebuah kenyataan bahwa ternyata kamu tidak pernah terlepas dari candu yang justru semakin jauh menjeratmu. Seminggu setelah keluar dari pusat rehabilitasi, kamu membuat semua orang yang mencintaimu terguncang hebat. Kamu memutuskan untuk pergi selamanya, meninggalkan orang-orang yang mengasihimu, meninggalkanku yang merana karena mencintaimu. Kamu mengakhiri hidupmu dengan alasan yang hanya kamu sendiri yang tahu.

-2 tahun kemudian-

“Laras, apa kamu sudah menemukan nama perempuan untuk anak kita?”

“Sudah mas..”

“Oh ya? Siapa?”

“Akan kunamai dia Kirana..”

“Aku setuju sayang, nama yang cantik seperti Kirana sahabatmu dulu. Aku tahu kamu begitu menyayanginya. Sayang nasibnya begitu tragis”

Aku mengusap perutku dan tersenyum pada lelaki di sampingku, suamiku. Ayah dari anak yang sedang kukandung, yang cintanya takkan mampu aku balas seutuhnya. Karena cintaku sudah kuberikan pada satu nama, Kirana.

***

note: Cerita ini terinspirasi dari lagu Cinta Terlarang – The Virgin. Sekaligus merupakan cerita terakhir dari rangkaian #30HariLagukuBercerita. Terima kasih sudah membaca cerita-cerita saya dan selamat menikmati semoga berkenan di hati 🙂

‘Ne

1 Cerita Dalam 3 Kata


AKU. Seandainya aku tidak harus pergi meninggalkanmu, tetap di sini merajut mimpi-mimpi indah bersamamu di masa-masa yang indah ini. Di saat aku merasa begitu mencintaimu dan selalu ingin dekat denganmu. Tapi nyatanya aku harus pergi, harus meninggalkanmu. Berat hatiku harus melakukan ini padamu. Meski sakit ini tak terlihat, bahkan air mata pun tak sanggup lagi menetes. Yakinlah dan percayalah padaku, aku pergi bukan untuk meninggalkanmu. Kepergianku ini adalah jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang kita bangun. Bukankah kebahagiaan itu harus diperjuangkan? Dan kepergianku adalah salah satu jalan untuk memperjuangkan kebahagiaan kita.

CINTA. Cintalah yang akan menjadi kekuatan bagi kita melewati semua ini, Jagalah selalu hati dan cintaku yang kutitipkan padamu. Tolong jagalah demi cinta kita, demi mimpi-mimpi kita dan demi masa depan kita nantinya. Jika kamu sudah mulai merasa lelah ingatlah komitmen yang sudah kita jalani, ingatlah saat kita berjuang melewati banyak rintangan, dan percayalah selalu bahwa keajaiban Tuhan itu ada dan akan datang pada saatnya nanti. Semua ini jalan kita sayang, pilihan kita untuk tetap bertahan dalam cinta yang sudah kita jalani. Nantikan aku untuk kembali lagi bersamamu, atau bahkan menjemputmu. Cinta adalah janji dan setia adalah bukti, karenanya jangan pernah khianati.

KAMU. Kuatkan hatimu, hapuslah segala penatmu. Maafkan aku tak ada untuk memelukmu dalam sakitmu, tak ada untuk menghapus air matamu saat dukamu. Bertahanlah, bersabarlah dan berjanjilah padaku kamu akan selalu baik-baik saja saat jauh dariku. Karena kamu adalah api semangatku untuk menjalani semua ini. Kamulah alasan perjuangan hidupku, dan alasanku untuk kembali. Tunggulah aku.

Aku Cinta Kamu.

***

note: tulisan ini terinspirasi dari lagu Seandainya – Sheila On 7, bacalah sembari mendengarkan lagunya. selamat menikmati dan semoga berkenan di hati 🙂

‘Ne..

#2 Hujan Merindu Bhumi


Menyenangkan sekali ketika ada saat untuk tidak bertemu dengan kekasih hati, rasa yang tertunda itu menumbuhkan rindu. Seperti sekarang ini sudah hampir seminggu aku dan Bhumi tidak bertemu. Belakangan Bhumi memang agak sibuk dengan tesisnya jadi akupun bisa memakluminya. Meski kami berdua masih bisa saling mengabari melalui sms ataupun ngobrol sebentar di telepon. Tapi tetap saja berbeda dengan sebuah kehadiran. Rasanya tak sabar ingin bertemu, tapi aku sangat menikmati saat-saat aku begitu merindu.

Kuambil Ipod yang tergeletak di meja, kubawa ketempat tidur lalu kupasang headset dan sengaja ke putar lagunya Incubus yang berjudul I Miss You versi akustiknya berulang-ulang. Suara bening dan maskulin dari Brandon Boyd memang tidak akan pernah membosankan. Selagi aku mendengarkan lagunya sembari kubuka-buka kotak pesan masuk di ponselku. Membaca satu persatu sms-sms Bhumi. Aku tersenyum dan tertawa-tawa sendiri dibuatnya. Inilah salah satu keisenganku, membaca kembali sms-sms dia saat aku merindunya. Memang dia bukan jenis orang yang mengirim sms puitis bak pujangga, tapi kata-katanya selalu mampu menghiburku dan membuatku tertawa dengan lelucon romantis ala dia, dan rasanya aku tepat bertemu dengannya karena aku orang yang suka sekali tertawa.

Memang ada banyak perbedaan antara aku dan Bhumi dan tak jarang pula kami sering saling bersitegang. Tapi prinsip kami tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan, intinya adalah komunikasi dan mau saling mendengarkan, sehingga kami selalu mampu menyelesaikannya dengan kepala dingin. Bagi kami, perbedaan ada bukan untuk disamakan tapi sebagai pembelajaran untuk saling mengerti dan menghargai satu sama lain. Diantara perbedaan-perbedaan itu ada hal yang menyatukan kami berdua, yaitu musik dan kami juga sering mengungkapkan perasaan dengan musik.

Masih aku ingat, pernah kami sedang dalam keadaan tidak bertemu seperti sekarang ini dan entah siapa yang memulai saat itu, aku sendiri lupa, tapi dari yang awalnya hanya sms sekedar menanyakan kabar akhirnya berlanjut dengan saling mengirim potongan-potongan lirik lagu. Setiap lirik lagu yang dikirimkan adalah ungkapan perasaan kami berdua, dan saling berbalas bergantian dengan lagu yang berbeda-beda. Pokoknya seru dan menyenangkan, disaat tak bisa bersua dan kehabisan kata-kata akan selalu ada lagu yang bisa mewakilinya. Setelah itu kami akan berbicara di telepon dan membahas lagu-lagu tersebut sembari tertawa bersama. Kedengarannya seperti kurang kerjaan, lebaynya anak abege. Tapi sesekali melakukan hal seperti itu lucu juga, perlulah untuk menghangatkan hubungan.

Disela keasyikanku melamunkan dan mengenang Bhumi, tiba-tiba terdengar suara Syaharani menyanyikan Careless Whisper dari ponselku.. Aku tahu siapa yang menelponku.

“Bhumi! panjang umur..” kataku seketika saat kuangkat telponnya.
“Kenapa? nona hujan lagi kangen ya sama Bhumi?” ledeknya seperti biasa.
“Yee nggak kebalik tuh, ini kan lagi musim kemarau  jadi pasti Bhumi dong yang kangen sama hujan” jawabku nggak mau kalah.
Setelahnya, obrolanpun mengalir seperti biasa, tentang banyak hal tapi lebih banyak justru tentang proyek musiknya dan janji kencan di hari Minggu, ah lebih tepatnya bukan kencan tapi datang ke acara musik di taman kota. Tetap menyenangkan bagiku.

Bicara soal kenapa dia suka memanggilku nona hujan bukan tanpa sebab sebenarnya. Semuanya berawal dari keisengan kami saat berkenalan pertama kali dulu. Kami berdua iseng mengartikan nama kami masing-masing. Saat itu kami hanya berpikir ini semua sebuah kebetulan karena ternyata bagian dari nama kami berhubungan dan memiliki makna yang sama. Warih Bhumintara Widodo nama lengkapnya, jika dijabarkan artinya, Warih berasal dari Bahasa Jawa yang berarti Air, Bhumintara artinya penjaga bumi dan Widodo artinya selamat. Sedangkan namaku Marta Varsha Nindita artinya, Marta dalam Bahasa Jawa berarti air, hidup, atau jernih dan Varsha berasal dari bahasa Hindu yang berarti hujan, Nindita dalam bahasa Jawa berarti unggul.

Bagiku ini bukan hanya sebuah kebetulan, tapi seperti ada benang merah yang mempertemukan aku dan dia. Jika aku bersamanya, itu seperti air dan hujan menjaga berlangsungnya kehidupan di bumi, mengingat bahwa air adalah salah satu sumber kehidupan. Bisakah aku dan dia menjadi sumber mata air yang jernih bagi kehidupan sekitar terutama bagi aku dan dia? Ah semoga saja ini menjadi doa yang baik.

Aku beranjak dari tempat tidur menuju ke meja di sudut kamar, kunyalakan Laptop dan membuka folder Bhumi, dan aku mulai melanjutkan novel yang sedang aku tulis: Cerita Cinta Bhumi dan Varsha.
***

Note: Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang Bhumi dan Varsha, semoga selalu bisa menemukan ide untuk melanjutkannya, Selamat menikmati dan semoga berkenan di hati 🙂

‘Ne..

Aku, Kamu dan Musik (#1 Bhumi)


Sabtu malam yang cerah, sekilas tadi kulihat banyak bintang menghiasi langit malam sebelum masuk ke kafe ini. Kafe yang terletak di dekat sebuah kampus ini memang lebih banyak dipadati oleh pengunjung dari kalangan mahasiswa, dan kalangan umum yang memang menyukai musik Jazz. Aku memang bukan penggila Jazz, karena aku menyukai hampir semua jenis musik selama hati dan telingaku menerimanya. Aku datang ke sini karena diajak seseorang, dia memiliki undangan untuk dua orang dan dia mengajakku ikut bersamanya. Warih Bhumintara Widodo namanya atau biasa dipanggil Bhumi.

Semakin malam pengunjung semakin padat. Apalagi malam ini ada penampilan Live dari Syaharani, semua orang juga tahu dia adalah penyanyi Jazz dengan kualitas suara yang tidak perlu diragukan lagi. Kebetulan aku menyukai beberapa lagu dari Syaharani.

Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ada banyak pasangan muda-mudi yang menonton, tak sedikit pula pasangan berumur, mungkin seperti merekalah yang memang penikmat Jazz sejati. Lagu Buat Kamu dibawakan dengan apik oleh Syaharani, salah satu lagu dari Album dengan judul yang sama yang diluncurkan pada Desember 2007 ini mampu menjadi pembuka yang manis.

Bhumi mengalihkan pandangan dari panggung dan menatapku, memberikan senyum yang tak mampu aku definisikan dan tatapan lembut matanya yang tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang bergemuruh di dalam dadaku, ada apa dengan aku?

Dengarkan lagunya baik-baik” begitu katanya. Aku menurut saja dan mendengarkan dengan seksama dan menikmatinya.

bintang-bintang tak bicara, walaupun seribu nada kau nyanyikan malam ini
kau tahu cinta bukan tabir kata, tak perlu kau tunggu slamanya
kau impikan malam ini,

Saat aku sedang asyik menikmati alunan suara Syaharani ketika tiba-tiba Bhumi mengajakku bicara.

“Varsha, aku boleh jujur sama kamu?” Pertanyaan Bhumi terdengar serius

Tentu saja, masa orang mau jujur nggak boleh. Mau ngomong apaan sih kok kayaknya serius banget?”

Setelah aku menyelesaikan magisterku, aku akan membangun apa yang selama ini aku cita-citakan dan kamu adalah perempuan yang aku pilih untuk mendampingiku selamanya”

Hening. Aku terdiam dan Bhumi pun terdiam. Sejenak waktu terasa berhenti, speechless aku dibuatnya. Tidak pernah terpikirkan olehku sedikitpun bahwa Bhumi akan mengatakan itu padaku. Selama ini Bhumi selalu bersikap selayaknya sahabat, tidak pernah aku lihat sikapnya yang berlebihan padaku.

tak perlu dekat jika hati bisa rasakan hadirnya, tak perlu terungkap sebab hidup rahasia
bagiku cukup tuk menikmati yang ada dan terjadi, semua kan mengerti

Kembali tersadar dan terdengar lantunan dari Syaharani, masih dengan lagu yang sama.

Bagaimana bisa? aku.. kenapa aku yang kamu pilih? dan sejak kapan kamu memiliki perasaan khusus terhadapku?” Masih dengan penuh keheranan aku bertanya padanya.

Sejak pertama kali aku mengenalmu di padepokan seni, aku tahu bahwa saat itulah aku jatuh cinta. Pada perempuan yang saat itu tengah asyik memandangi satu persatu foto yang di gelar di pameran. Perempuan itu kamu, Marta Varsha Nindita ” dengan tenang Bhumi menjelaskan padaku.

Varsha, dari hubungan yang sekedar sahabat inilah akhirnya aku lebih mengenalmu. Bolehkan jika aku ingin memiliki pendamping seperti kamu, perempuan yang sudah lama aku impikan?”  Aku sungguh terharu mendengarnya.

Bhumi, memang bukan tipe laki-laki yang pandai menunjukkan perasaannya dengan eksplisit seperti laki-laki lain pada umumnya, tidak pandai berkata-kata manis yang kadang menyerupai sebuah gombalan, tapi dia itu apa adanya. Akupun tersenyum padanya, bahagia dan berkata:

Bhumi selama ini aku selalu berdoa pada Tuhan, dan jika ternyata kamu adalah jawaban dari DIA, kamulah seseorang yang menjadi takdirku, maka aku tidak akan mengingkari takdirNYA. dan semoga Tuhan melancarkan jalan kita, Aamiin”

Aamiin..” jawabnya mengamini sembari tersenyum, juga ada bahagia di sana.

You Light Up My Life mengalun merdu dari bibir Syaharani, aku dan Bhumi kembali asyik menikmati suguhan musik sembari menyantap makanan yang sudah kami pesan. Aku tahu ini barulah awal dari perjalananku dengan Bhumi, dan semoga malam ini menjadi awal yang indah bagi aku dan Bhumi.

***

note: Cerita yang terinspirasi dari lagu Buat Kamu milik Syaharani ini adalah tulisan lama saya sebelum mengikuti #30hariLagukuBercerita, yang saya kembangkan lagi. Inginnya saya akan membuat menjadi beberapa judul tentang kisah Bhumi dan Varsha dan tentu saja semuanya akan berlatar belakang musik.

Selamat menikmati dan semoga berkenan di hati, salam 🙂

‘Ne..

Maaf, Ada Dia Di Hatiku


Ku tak tau, Mengapa aku malu
Setiap aku tau dia didekatku
Aku susah, Bila dia tak ada
Tak ingin jauh ku darinya
Ada rasa, Yang tak biasa
Yang mulai kurasa yang entah kenapa
Mungkinkah, Ini pertanda
Aku jatuh cinta
Cintaku yang pertama
Tuhan tolong berikan isyarat
Semoga ada jawaban atas doaku
Gelisah aku mendambakan cinta
Yang indah tanpa air mata

(Mikha Tambayong – Cinta Pertama)

Sasti Anggraeni namaku, seorang cewek 16 tahun, kelas X di salah satu SMU favorit di kotaku. Sebagai seorang cewek yang baru mulai melangkahkan kaki menuju ke kedewasaan, wajar dong kalau aku sudah mulai belajar merasakan sesuatu yang aku sendiri belum tahu apa artinya, yang orang bilang “CINTA”. Memang agak terlambat, mengingat teman-teman seumuranku sudah mengenal cinta dengan lawan jenis sejak SMP. Sekarang aku memang lagi naksir berat dengan cowok yang punya nama Sigit Fauzan Nugroho, tapi biasa di panggil Ozan oleh teman-teman termasuk aku.

Nah, ozan inilah yang bikin aku susah tidur, malas makan (maksudnya malas makan dikit gitu hehe..), pokoknya yang ada di pikiranku cuman Ozan, Ozan dan Ozan. Tidak ada satu pun buku pelajaranku tanpa ada nama Ozan tertulis di belakangnya (norak banget yak?!). Laptop hadiah ulang tahun dari papah pun kebanyakan malah jadi diary digital cerita harian tentang Ozan (mubazir gak sih?)

Kalau mau jujur sebenernya si Ozan nggak cakep-cakep amat. Aku sendiri juga nggak tahu kenapa bisa suka sama dia. Ada sesuatu dalam dirinya yang nggak bisa di terjemahkan dengan kata-kata, mungkin yang orang dewasa biasa menyebutnya kharismatik, tapi sejatinya entah apa yang membuat aku begitu menyukainya. Sungguh tidak bisa dijelaskan.

Yang paling membuatku kangen sama dia adalah kejahilannya. Sehari saja nggak dijahilin sama Ozan, bukannya hati lega tapi malah sebaliknya, aku merasa ada sesuatu yang kurang. (Busyeeet dah! Yang ada juga kebanyakan orang pada malas dijahilin eh aku malah ketagihan hihi.)

Aku yakin banget kalau ozan nggak tahu tentang perasaanku ini. Aku memang sengaja tidak terlalu menunjukkan perasaankus ama dia. Aku nggak mau dia jadi benci sama aku kalau aku terlalu agresif menunjukkan perasaanku. Aku memang sengaja menyembunyikan tentang perasaanku dari dia dan juga teman-teman yang lain. Tapi nggak terhadap Rani, karena dia adalah temanku yang paling dekat. Rani lah tempatku mencurahkan segala isi hatiku termasuk tentang perasaanku ke Ozan.

***

Ada untungnya juga aku deket sama Rani, karena kebetulan dia adalah ketua kelas di kelasku. Salah satu keuntungannya adalah yang sedang aku nikmati sekarang. Begini ceritanya, dalam rangka merayakan ulang tahun sekolahku, seluruh siswa di minta memberikan partisipasinya dalam malam pentas seni nanti, tiap-tiap kelas harus memberikan perwakilan, entah itu drama, menyanyi atau berpuisi. Termasuk kelasku juga akan ikut memeriahkan acara ulang tahun tersebut. Rencananya kelas kami akan mempertunjukkan drama Putri Salju.

Setelah melewati musyawarah kelas maka terpilihlah aku sebagai putri salju dan sudah bisa di tebak dong, siapa yang jadi pangerannya? Yup! siapa lagi kalau bukan Ozan orangnya. “Yess!!” teriakku, tentu saja hanya dalam hati hehe. Aku tahu kalau hal ini adalah hasil rekayasa Rani, meskipun teman-teman juga mendukungnya karena kebetulan kami berdua adalah anggota teater di sekolah. Meski begitu aku dengan senang hati menerima peran itu, bukan karena aku ingin menjadi sang putri tapi karena yang jadi pangerannya adalah Ozan.

Tentu saja aku nggak mau melupakan jasa Rani, makanya pas istirahat aku ajakin dia ke kantin.

“Rani, thanks a lot yah! Kalau bukan karena kamu, nggak bakalan aku terpilih jadi putrinya Ozan dan bisa deket sama dia terus” kataku sembari memeluk Rani.

“Iya, iya, tapi jangan lupain janji kamu yah!”

“Janji? Janji apaan?! Emang aku pernah janji apa sama kamu?” tanyaku sambil coba mengingat-ingat.

“Sasti..Sasti..masa kamu lupa sih?! Gini loh dulu kamu kan pernah bilang kalau aku bisa bantuin kamu dekat sama Ozan, kamu bakal ngasih aku cokelat seminggu tiga kali selama satu bulan. Nah! sudah ingatkah tuan puteri akan janji itu?” Rani menjelaskan dengan senyum penuh kemenangan. Sedangkan aku? mau nggak mau harus memenuhi janjiku, buatku itu nggak seberapa bila di bandingkan bisa deket sama Ozan. Oh Cinta betapa kau mahal harganya..

“Iya deh, besok aku bawain kamu cokelat untuk minggu pertama. Tapi, sekarang aku nggak mau bayarin bakso yang lagi kamu makan itu. Weeeek! haha”

“Idiih curang!” teriak Rani

“Biarin, kalau perlu sekalian kamu bayarin baksoku ini ya ha ha..” Rani hanya geleng-geleng kepala. Hari itu pun aku lalui dengan penuh senyum kebahagiaan.

***

Latihan pun di mulai, dan sore ini aku dijemput sama Rani, (walaupun tidak bisa dikatakan di jemput karena rumah kami satu kompleks dan hanya selang dua rumah) kami berangkat sama-sama ke sekolah. Sesampainya di sekolah aku lihat ada beberapa teman-teman yang sudah datang. Tapi Ozan belum juga datang. Biasa banget deh itu anak emang suka ngaret, anaknya emang nyantai banget dan cuek. Lagi asyik tengak-tengok nyariin Ozan tiba-tiba Rani nyolek aku dari belakang.

“Sasti, liat tuh pangeran kamu datang” ledek Rani sembari mengerling nakal.

“Apaan sih, Rani ini jangan keras-keras dong malu tahu, nanti kalau teman yang lain pada denger kan gawat?!” kataku sambil berusaha menahan debar di dada yang kalau bisa di lihat udah kayak lagi konser aja di dalam (haha lebay ih), soalnya Ozan lagi jalan menuju ke arah kami.

“Halo puteriku, maaf telah membuatmu menunggu” sapa Ozan sembari membungkuk seperti sikap pangeran di film-film drama.

Mendengar sapaan dia, jantungku pun makin berdegup nggak karuan kayak lagi nge-drum aja (lah tadi konser sekarang solo drum. Duh mana makin kenceng aja, lagi). Tapi aku berusaha bersikap biasa saja dan sembari mencibir aku menjawab “Yee, kege-eran deh, siapa juga yang nungguin kamu! emang nggak ada kerjaan lain apa?!”

“Oh teganya putri berkata seperti itu, apa tuan putri tak tahu betapa cintanya daku terhadap tuan putri?” serasa mau copot jantungku mendengar kata-katanya. Tapi aku berusaha menguasai diriku agar tidak jatuh pingsan di depannya.

“Ozan! Udah hentikan becandanya. Ntar Sasti ngambek loh” tiba-tiba Rani ikutan ngomong, (oh thanks Rani kau menyelamatkan diriku) mungkin dia takut aku nggak bisa menahan perasaan dan ke-GR-an sendiri. Tapi yang membuat aku kaget adalah jawaban Ozan.

“Siapa bilang aku becanda, aku serius kok dengan omonganku tadi” Ozan berkata seperti itu sembari menarik kedua tanganku. Perlahan-lahan Rani pergi meninggalkan kami berdua. Tinggalah aku dan ozan berdua saja, sepertinya teman-teman udah pada masuk untuk persiapan latihan.

“Sasti, udah saatnya aku ngomong jujur sama kamu. Sebenarnya selama ini aku suka sama kamu. Aku nggak bisa berbasa-basi, maukah kamu jadi pacarku?” mukanya kelihatan serius tapi aku tak mau percaya begitu saja, seluruh dunia juga tahu dia tuh orang paling jahil seantero sekolah ini dan akulah korban yang paling sering jadi sasaran. Wajar dong kalau sekarang aku nggak bisa langsung percaya. Aku masih berpikir keras memandangi wajahnya mencari-cari tanda kejahilan. Tapi kok kelihatannya dia serius? Oh benarkah ini?? Ah aku nggak mau langsung terjebak.

“Udah deh pangeran Ozan, aku nggak mempan lagi sama becandaanmu tahu?! Jangan kamu kira aku akan terjebak ya? Hayo mana pasti kamu rekam ya buat bahan lelucon biar bisa kamu kasih lihat sama teman-teman seandainya aku terjebak?” aku berusaha menggeledah Ozan, tapi sebelum itu terjadi Ozan buru-buru meyakinkanku lagi.

“Tolong kali ini percaya padaku Sas, lihatlah ke dalam mataku apakah aku terlihat seperti sedang bercanda?” Aku melihat ke dalam matanya berusaha meyakinkan hati bahwa Ozan memang tidak sedang mencandaiku.

Mendengar pernyataan yang to the point gitu aku nggak bisa berkata-kata, aku masih nggak percaya. Antara rasa gembira dan curiga takut kalau-kalau ini adalah salah satu kejahilannya. Tapi aku emang sungguh masih meragukannya, tepatnya aku takut ini sebuah jebakan belaka.

“Maafin aku Zan, kalau aku masih nggak percaya dengan apa yang barusan kamu katakan”

“Sasti, percayalah aku sungguh-sungguh sayang sama kamu. Bagiku kamu beda dengan cewek-cewek lain, kamu lucu, apa adanya, tegas dan punya prinsip. Aku butuh kamu karena aku mencintai kamu, aku merasa aku bisa menjadi lebih baik kalau aku bersamamu. Sekarang terserah sama kamu yang penting aku udah jujur ngungkapin perasaanku sama kamu”

Selesai berkata seperti itu Ozan tertunduk dan terdiam, aku bisa merasakan kalau dia jujur dan aku benar-benar bahagia karena ternyata selama ini aku tidak bertepuk sebelah tangan. Oh tolong siapa saja pegangi aku, rasanya aku berubah menjadi balon udara.

“Mmm..gimana yah, sebenarnya aku..” aku berhenti sejenak dan tersenyum dalam hati melihat Ozan begitu gelisah, tapi aku memang ingin sedikit ngerjain dia (hehe)

“Ozan sebenarnya aku udah punya seseorang di hatiku, cowok yang selama ini menghiasi mimpi-mimpi indahku dan aku udah terlanjur sayang sama dia” ucapku dengan tampang penuh penyesalan (yang tentu saja hanya akting belaka)

“Siapa dia Sas?! Apa aku kenal dia? Anak mana? Kelas berapa?” Tanya Ozan bertubi-tubi aku nggak pernah lihat dia seperti itu, sepertinya kali ini dia lah yang terjebak haha. Aku jadi makin semangat untuk ngerjain dia.

“Iya kamu benar, dia memang anak kelas kita dan udah lama aku suka sama dia” semakin pucat lah wajah Ozan, lalu aku lanjutkan aktingku.

“Aku minta maaf Zan jika membuatmu kecewa, karena aku baru saja mengetahui kalau ternyata dia juga sayang sama aku” nggak sia-sia juga aku ikutan klub teater, buktinya aktingku berhasil dan sekarang Ozan makin pucat pasi gitu.

“Apa itu artinya aku terlambat..?” Ozan bertanya dengan penuh putus asa dan suara yang begitu lirih, ah aku jadi nggak tega untuk meneruskan kejahilanku ini.

“Kalau kamu ingin tahu, sekarang dia ada di sini, di depanku” kataku dengan senyum semanis mungkin.

Seolah tak percaya atau mungkin juga bingung Ozan melihat ke sekeliling dan saat dia sadar bahwa tidak ada orang lain di depanku kecuali dia, Ozan mencoba meyakinkan diri. “Maksud kamu..?”

“ Iya..! kamulah orangnya, yang selalu dan mulai sekarang akan terus ada di hatiku.”

“Tapi..tapi tadi kamu bilang? Oh ya Tuhan Sasti, rupanya kamu sudah mulai pandai ngejahilin orang yak? Apalagi kali ini aku yang jadi korbannya. Ah tapi nggak apa-apa karena itu berarti kau menerima cintaku.” Aku pun tersenyum manis bukan senyum jahil.

“Sasti aku nggak bisa menjanjikan apa-apa karena aku takut mengingkarinya, tapi kamu harus percaya bahwa aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu, selama aku mampu” kata Ozan sambil menggenggam tanganku.

Aku mengangguk dan tersenyum “Aku percaya sama kamu Ozan..”

“WOOII!! Sasti! Ozan! Ngapain kalian berdua masih pada di situ, dicariin teman-teman tuh! Latihan udah mau mulai” tiba-tiba Rani datang di sertai omelannya.

“Eh, kalian udah jadian yah, kok pake pegangan tangan segala? Hayoo ngakuuu, wah mau pamer nih ceritanya..?” sambungnya lagi yang membuat kami berdua jadi salah tingkah dan cepat-cepat saling melepaskan tangan kami. Mungkin karena begitu bahagia kami sampai lupa kalau Rani sudah di situ. “Ha..ha..kalian berdua lucu deh. Udah nyantai aja, BTW, makan-makannya jangan lupa ya!”

“Kalau itu sih gampang! Abis latihan nanti kita langsung mampir ke café depan sekolah, Oke!” sahut Ozan cepat.

“Ya udah, mendingan sekarang kita masuk aja yuk. Kasihan kan teman-teman yang udah pada nungguin dari tadi” ajakku.

Sore itu latihan pun berjalan dengan lancar, meski masih agak kaku, maklum saja karena mereka memang bukan artis beneran.

Bagiku sore itu adalah sore paling indah dan membahagiakan karena sekarang aku telah mendapatkan pangeranku yang sebenarnya dan sekaligus merupakan awal dari perjalanan cinta pertamaku bersama Ozan.

***

Cerita ini terinspirasi dari lagu Mikha Tambayong – Cinta Pertama, awalnya bingung juga pas #30HariLagukuBercerita episode kali ini temanya tentang Cinta Pertama, mencari-cari lagu dengan tema Cinta Pertama agak susah juga :mrgreen: dan sepertinya saya belum piawai menulis cerita ceria ala ABG 😳 tapi asyik dan menikmatinya. Selamat menikmati dan semoga berkenan 🙂

‘Ne

Post Navigation