Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Archive for the category “Ruang Fiksi”

Maaf


wp-1486692367295.jpeg

_MAAF_

Tik Tok! Tik Tok!

Lima menit berlalu. Tumben, biasanya dia orang yang paling tepat waktu. Biarlah sesekali aku yang menunggu. Lebih baik aku menunggu sambil membaca buku.

Tik Tok! Tik Tok!

Lima belas menit berlalu. Sesekali kualihkan pandangan dari buku ke arah pintu. Ah, tidak apa-apa dia juga pernah duduk di sini hampir satu jam untuk menungguku. Cafe Delapan ini memang tempat kita biasa bertemu.

Tik Tok! Tik Tok!

Tiga puluh menit berlalu. Lemon Tea yang kupesan sudah habis dari sepuluh menit yang lalu. Aku mulai gelisah. Ini bukan dia, selama aku kenal dia hanya sekali tidak tepat waktu saat janjian denganku, itu pun karena dia memungut seekor kucing yang tertabrak mobil dan ditinggalkan begitu saja oleh si penabrak, dan dia membawa kucing itu ke dokter hewan dan mengurus segala biayanya. Kucing itu masih hidup sampai sekarang dan diberinya nama Tutu.

Trrrttt Trrrtt Trrrtt

Tepat empat puluh lima menit aku menunggu, ponselku bergetar, sebuah pesan muncul dilayar. “Maaf..” sudah itu saja isi pesan darinya. Apa maksudnya? aku bertanya padanya. Tidak ada balasan. Aku telepon ponselnya, dialihkan. Aku telepon lagi sudah tidak terhubung. Buru-buru kumasukkan ponsel dan buku ke dalam tas dan segera beranjak ke meja kasir. Hampir saja aku menabrak seorang pelayan, beginilah aku jika sedang panik. Aku harus ke rumahnya segera. Hanya itu yang ada dalam pikiranku.

Trrrrt Trrrtt Trrrtt

Enam puluh menit sejak aku menunggu, tepat sebelum aku membuka pintu mobil, sebuah pesan kembali masuk, dari kakaknya.

“Nia, Adi pergi. Dia kecelakaan di pertigaan dekat Cafe Delapan, sekarang masih di rumah sakit Sehati”

Apa yang lebih menyakitkan dari rasa sakit yang bisa ditangiskan? dan apa yang lebih memilukan daripada pesan kematian hanya dengan satu kata ‘Maaf’?

***

_fitrianelestari_

Tulisan ini untuk #1Minggu1Cerita dengan tema Forgiveness, semoga masih nyambung ya hehe..

*Picture, my sister in law 🙂

1m1cke3

Cinta Api Olimpiade


“Bapak sama Ibu mau kemana rapi bener?”

“Mau nonton.” jawab bapak singkat.

“Di bioskop?!”

“Lha iya, masak di pasar.”

“Busyeett, kayak ABG nih bapak sama Ibu ada-ada aja.”

“Justru itu, hidup bersama selama bertahun-tahun kalau nggak dijaga percikan-percikan api cintanya, bisa-bisa padam.”kata ibu.

“Tapi cinta bapak sama ibumu ini seperti api olimpiade, tak pernah padam.” spontan kami tertawa mendengar kata bapak barusan.

kontes-unggulan-63

‘Ne

Kamar No.13


number 13

Gambar di ambil dari jurukunci.net

Saat pertama kali aku dibangun, aku berangan-angan akan menjadi sebuah kamar yang nyaman. Kamar yang akan menjadi tempat peristirahatan yang menyenangkan. Aku semakin bersemangat saat aku dihias sedemikian rupa. Wallpaper di pasangkan membalut seluruh dindingku. Kamar mandi dengan BathUp. Tempat tidur besar yang empuk dan nyaman. Sebuah kotak bernama Televisi di tanamkan di dinding tengahku. Sebuah lukisan pun di gantungkan di dinding bagian atas tempat tidur.Aku bayangkan sebuah pasangan yang berbulan madu akan singgah dan menempatiku, atau sebuah keluarga kecil dengan anak balita yang lucu dan menggemaskan. Ah, membayangkannya saja membuatku merasa bahagia, bahagia akan menjadi tempat yang menyenangkan dan berguna.

Tapi siapapun diciptakan di dunia ini tentu tak bisa meminta untuk menjadi apa dan seperti apa. Begitu juga aku, tidak pernah menyangka dan meminta untuk diberi nomor 13. Nomor yang oleh banyak orang ditakuti, nomor yang oleh banyak orang dihindari. Bahkan dari kasak kusuk antar OB yang kudengar saat membersihkanku, aku sudah terasa dingin dan tidak nyaman. Aku menjadi sebal dibuatnya, bisa jadi kan itu hanya pikiran mereka yang sudah terlanjur tersugesti bahwa angka 13 itu horor, angka sial. Kalau begitu kenapa sih hotel ini tidak mencontoh hotel tetangga yang menghilangkan angka 13 dan menggunakan angka 12A dan 12B saja. Hey kenapa aku tiba-tiba berubah menjadi seperti orang-orang itu dan ingin menghapus angka 13. Ah sudahlah. Lebih baik aku berharap tidak terjadi hal yang buruk pada orang-orang yang menempatiku nanti.

Seminggu berlalu sejak hotel ini dibuka untuk umum, lokasinya yang dekat dengan tempat wisata membuat hotel ini tidak kesulitan mendapatkan penyewa. Apalagi sekarang sedang musimnya liburan, dari berita pagi di televisi yang kudengar saat OB menyalakannya sembari membersihkanku, minggu ini adalah libur panjang. Libur hari raya dan libur anak sekolah, ditambah lagi libur tahun baru. Ini berita menyenangkan, pasti semua kamar akan penuh terisi, tak terkecuali aku. Itu harapanku.

Benar saja, seminggu sebelum tahun baru hampir semua kamar sudah terisi atau jika belum pun sudah dipesan. Hanya aku satu-satunya kamar yang belum ada pemesannya. Aku semakin khawatir tidak akan ada yang mau menyewaku. Aku hanya berharap dan terus berharap akan ada yang memilihku, meski karena terpaksa sekalipun.

Hingga hari ini, hari terakhir sebelum pergantian tahun baru ada sepasang muda mudi yang entah terpaksa atau tidak menyewaku. Sepertinya mereka akan menghabiskan malam tahun baru di sini. Aku sedikit kecewa karena yang menempatiku tidak sesuai yang kuharapkan sebelumnya, tapi masih beruntung ada juga yang menyewaku.

“Sayang, kamu bawa barangnya?” kudengar lelaki muda itu bertanya pada pasangannya. Aku mencoba menebak apa barang yang dimaksudkan itu.

“Tentu saja sayang, malam ini kita akan berpesta sampai pagi” Perempuan muda menjawab sembari merangkulkan kedua tangannya di pundak lelakinya itu.

Kemudian yang kudengar hanyalah deru nafas dan lenguhan tak beraturan dari kedua pasangan yang sedang dilanda badai birahi. Mereka juga menghisap serbuk putih yang tak kutahu namanya.

Keesokan harinya riuh ramai orang-orang berseragam mendatangiku, mereka memeriksa isiku dan mengevakuasi dua pasangan muda-mudi yang berpesta semalam dan sekarang hanya menjadi seonggok daging tak bernyawa. Dari pemeriksaan yang kudengar mereka mati karena over dosis amphetamine.

Pupus sudah harapanku untuk menjadi kamar yang nyaman dan menyenangkan bagi sebuah pasangan bulan madu, ataupun keluarga kecil dengan balita yang lucu. Bisa dipastikan semakin tidak ada yang memilihku, dan semakin kuat pula stigma tentang angka 13 yang selama ini sudah melekat di masyarakat. Benar-benar angka yang sial. Sial bagi pasangan muda-mudi itu, sial bagiku dan sial bagi angka 13 itu sendiri.

***

‘Ne..
-yang menyukai angka 8-

Tom (akhir dari segalanya)


Cerita sebelumnya di sini

Kepulanganku disambut gembira oleh seluruh anggota keluarga, dan yang paling membuatku terkejut adalah kehadiran Lala di antara mereka. Awalnya aku sedikit kikuk dan berusaha menghindarinya, tapi ternyata Lala masih tetap sama dengan yang sebelumnya. Setelah melihat rupaku yang tak lagi ganteng, Lala tidak meninggalkanku. Aku jarang merasa terharu, tapi kali ini aku sengaja membiarkan sisi emosionalku keluar. Yah aku terharu karena mereka tetap menerimaku seperti sebelumnya, asanya tidak ada lagi yang kuharapkan di dunia ini. Semua kebahagiaan sudah kudapatkan.

Tapi ternyata aku salah, tidak ada kebahagiaan yang abadi di dunia ini. Hingga hari itu pun tiba, hari di mana aku merasa kehilangan semuanya. Kehilangan keluargaku, kekasihku dan juga kebahagiaanku.

Hari itu seperti biasa sehabis aku kencan dengan Lala aku pulang dengan gembira, meski aku lapar tapi aku merasa masih kuat jalan sampai ke rumah. Setibanya di rumah tidak ada satupun keluarga yang berada di rumah. Sepertinya mereka semua sedang keluar. Akhirnya terpaksa aku menuju tong sampah di depan rumah, yang letaknya kebetulan bersebelahan dengan rumah tetangga yang dihuni oleh sekumpulan laki-laki muda, sepertinya mereka mahasiswa. Aku tidak memperdulikan mereka yang saat itu hanya ada dua orang sedang duduk di beranda sembari bercakap-cakap.

“Don, Loe ada duit nggak? gue pinjem dulu donk” terdengar seseorang berkata pada temannya yang di panggil Don, mungkin namanya Doni atau bisa juga Dono.

“Loe nanya ama orang yang salah, baru juga gue mau nanyain hal yang sama ama Loe. Gue juga lagi butuh duit nih, ntar malem gue janji mau ngajakin Reni nonton Film Habibie dan Ainun. Yah Loe tau kan tiketnya lumayan juga, dua orang bisa cepek, terus nggak mungkin kan gue nggak ngajak makan, udah gitu makannya juga nggak bisa di tempat sembarangan. Reni agak spesial bro, kelas tinggi dia, tengsin lah kalau gue ngajakin dia makan di warung tenda”

“ebusyeet parah Loe Don, gayanya udah kayak Don Juan aja gebet sana gebet sini tapi duit cuman jeban haha. Eh tapi gimana ya, gue butuh banget nih, Linda dua hari lagi ulang tahun dan gue udah terlanjur janji mo mbeliin dia baju incerannya di butik langganannya. Minta ke nyokap jelas nggak mungkin lah, kan baru seminggu yang lalu ditransfer. Duuhh pusing banget gue!”

Sama Ris, transferan gue juga baru minggu depan. Duit gue ludes semalem pas ngajakin dugem bokin gue, Susi. Lupa gue kalau udah janji ngajakin Reni nonton”

Cih! ternyata mereka berdua hanya sekumpulan mahasiswa yang cuman bisa menghabiskan uang orang tua, korban hedonis. Baru pacaran saja sudah belagu. Eh kok aku jadi sok ngurusin mereka ya. Buang energi saja.

“Eh Kucing, berisiiikk!! dari tadi mengeong terus. Nggak tahu apa kita lagi pada pusing!” Tiba-tiba si Don Juan berteriak padaku. Situ sudah tahu kucing diajak ngomong.

“Aha! Don, gue ada ide! kita nggak bakalan pusing lagi. kita punya duit di depan mata”

“Maksud Loe apa? gue nggak paham deh saya omongan Loe barusan. Kita punya duit? daun maksud Loe?!

“Aduuhh itu tepat di depan mata kita, yang tadi Loe bentak”

“Kucing busuk itu?!

“Iya. Loe tahu itu kucing apa? Persia Don, pasarannya bisa sampai 600 ribu yang kayak begitu”

Aku merinding mendengar percakapan mereka yang terakhir. Seketika aku merasa terancam. Aku harus lari sebelum mereka sempat menangkapku.

Tapi sebelum aku sempat melarikan diri, tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Yah aku tertangkap dan sudah berada di sebuah kotak kardus bekas Indomie, aku tahu baunya.

Aku meronta dan mencakar-cakar meski aku pun tahu itu tidak akan ada gunanya.

“Mau di jual kemana kucing ini Ris?”

“Tenang Don, Loe inget si Puput anak kelas kita kan? yang gayanya cupu itu. Dia itu pecinta kucing. Gue udah telpon dia barusan, dan dia mau membayar kucing ini”

Jadi beginikah akhir dari kisahku? harus jatuh di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Aku bukan saja kehilangan keluarga dan kekasihku tapi juga kebahagiaanku. Apa kabar masa depanku bersama Lala? Ah, semuanya menguap, semuanya hilang bersama aku.

***

note: Tom menghilang tak tahu di mana rimbanya, sayang sekali 😦 Tapi sekarang sudah ada kucing baru lagi namanya Bibul 😀

‘Ne..

-yang menari bebas bersama imaji-

Menara Hijau


Namaku Menara Hijau, dan aku adalah sebuah kamar dengan ukuran 3×3 meter, nggak besar memang. Aku adalah kamar ke empat dari lima kamar yang ada di rumah ini. Pemilikku adalah seorang perempuan, namanya ‘Ne. Oya pasti kalian pada bertanya-tanya kenapa namaku Menara Hijau? ‘Ne memang perempuan yang rada aneh (teman-temannya juga ada yang bilang begitu), hampir semua barang miliknya di kasih nama lho. Nah asal mula namaku, pertama karena aku adalah kamar yang terletak di lantai dua rumahnya. Biasanya yang namanya menara itu selalu di puncak/di atas kan, karena yang paling tinggi aku dan di atasku hanya ada langit maka tercetuslah nama Menara, dan kedua karena aku memang di cat hijau menyegarkan mata, -entah sengaja atau tidak ini memang jadi terapi khusus buat matanya ‘Ne yang minus itu- maka jadilah namaku Menara Hijau.

‘Ne kalau lagi di rumah betah banget bersamaku, bisa lho kalo hari libur dan dia lagi nggak ada acara ke mana-mana dia hanya berada di dalamku seharian bareng sama dua kurcaci kecil ponakannya. Biasanya mereka asyik sekali, kadang nonton film animasi Rio yang entah sudah diputar berapa kali di laptopnya. Tapi sekarang kalau ‘Ne pulang, ponakan lebih seneng main angry bird bareng Si Pico Orange yang berlayar 7 inchi, mereka suka rebutan gitu. Kalau yang besar lagi main sama Si pico, biasanya ponakan yang kecil suka asyik sendiri ngacak-ngacak koleksi kasetnya ‘Ne di rak buku. Dikeluarin semua isinya terus dimasukin lagi, dan ‘Ne nggak marah kok. palingan dia cuman bilang sama si kecil kalau udah selesai diberesin seperti semula. Kalau udah bosen ngacak-ngacak kaset biasanya si kecil ambil komik atau majalah Bobo, bukan buat dibaca tapi cuman buat lihat gambarnya doang :mrgreen:

Oya, ‘Ne itu suka kumat-kumatan, kadang rajin banget beresin dan bersihin aku, kalo ada yang masuk kamarnya dan makan sesuatu bungkusnya harus dibuang di tempat sampah yang memang udah disediain. Nggak kebayang kan masa kamar perempuan sampah di mana-mana, jadi tempat sampah itu hukumnya wajib ada di kamar. Tapi kadang juga ‘Ne suka males dan seharian aku nggak disapu dan berapa hari nggak dipel, kalo lagi gini aku jadi sebel ma dia. Orang aja kan harus mandi sehari dua kali, nah aku juga donk pengen di sapu minimal sehari sekali. Apalagi ‘Ne yang memang kerja di luar kota hanya pulang seminggu atau dua minggu sekali, membuatku sedikit terabaikan. Aku selalu merasa nggak nyaman kalo banyak debu. Tapi untungnya ada Mamahnya yang selalu membuka jendelaku setiap hari, jadi aku tetap bisa bernafas dengan lega.

‘Ne dulu protektif sama aku, kalo dia mau pergi pasti aku di kunci dari luar dan nggak boleh ada orang yang sembarangan masuk. Buat dia kamar juga salah satu privacy, mungkin dia emang nggak mau membagi aku dengan yang lain kali ya hihihi. pernah suatu hari hujan deras dan ‘Ne lagi pergi tapi kunci dia bawa akhirnya air hujan masuk kebawa angin, aku jadi becek dan kedinginan. Sejak saat itu kunci selalu di tinggal dan dititipin sama mamahnya jadi kalo hari hujan ada yang nutupin jendelaku. Tapi sekarang aku tidak pernah lagi dikunci meski dia sedang tidak di rumah, soalnya kakaknya sering baca buku-buku yang ada di rak buku di dalamku.

Ponakannya juga betah tidur di dalamku karena jarang ada nyamuk, mungkin karena aku warnanya hijau jadi nyamuk agak kurang suka sama aku, soalnya nyamuk kan lebih suka tempat yang berwarna gelap seperti biru dongker misalnya tapi mungkin cuaca juga ngaruh kali yaa. Lagian kamar ini jendelanya mengahadap ke timur jadi matahari pagi bisa langsung masuk ke kamar, ‘Ne seneng banget lho kalo pagi berdiri deket jendela sembari menikmati matahari pagi dan juga burung-burung yang asyik berkicau. Katanya sih kalau di sekitar kita masih ada kupu-kupu dan burung yang mau bermain itu tandanya udara di sekitar kita masih segar dan nggak banyak polusi, aku tahu informasi ini dari ‘Ne saat dia bercerita pada salah satu temannya.

Sekarang aku nggak sabar nunggu hari libur tiba, soalnya ‘Ne pasti pulang ke rumah. Aku sering kangen sama dia dan kangen saat dia main-main di dalamku bareng ponakannya. Mudah-mudahan ‘Ne baca celotehanku ini jadi dia tahu kalau aku merindukan kehadirannya.

Eh udah dulu ya ceritanya, sebenernya masih banyak banget yang pengen aku ceritain tapi aku capek ah. Oya, bagaimana dengan kamar kalian apakah mereka juga punya nama sepertiku? kenalin dong :mrgreen:

salam dariku
Menara Hijau

***

Note : versi lain dari kisah Menara Hijau

‘Ne
-sekedar menyalurkan imajinasi meski kadang sedikit gila

Post Navigation