Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Archive for the category “Random”

Respek Terhadap Konsumen


Sikap respek atau menghargai itu penting sekali dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan saja dalam lingkungan kita tapi juga dalam dunia bisnis atau perdagangan. Seperti halnya yang saat ini saya tekuni. Karenanya saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya dalam melayani pembeli/konsumen.

Sebagai penjual pasti sering bertemu banyak orang dengan berbagai karakter, baik itu secara nyata ataupun secara online. Sabar, sudah tentu wajib bagi seorang penjual. Apalagi jika menemui calon pembeli yang sangat rewel, sangat detail, dijelaskan berkali-kali masih tanya lagi, atau nawarnya kebangetan. Padahal bukan satu dua pembeli yang harus saya tanggapi. Maklum konsumen saya hampir sembilan puluh persen adalah perempuan. Karena produk yang saya jual adalah kebutuhan dasar para muslimah, terutama jilbab dan gamis dengan label merk saya sendiri Shakila Nuha.

Kejadian seperti ini sering saya alami, namun lambat laun saya mulai terbiasa dengannya. Secara tidak langsung semakin melatih kesabaran saya. Salah satu kunci untuk menghadapi mereka adalah sikap respek, menghargai dan tidak mengabaikan. Kadang kesal, sakit hati dan ada keinginan untuk mengabaikan dan tidak menanggapi lagi atau ingin menjawab dengan nada ketus, manusiawi kan, iya tapi untungnya saya sejauh ini masih bisa mengendalikan diri untuk tidak pernah terbawa emosi dengan karakter calon pembeli yang menyebalkan. Paling curhat sama suami.

Saya mencoba memposisikan diri seperti mereka, sebagai seorang pembeli tentu ingin tahu dan yakin bahwa produk yang dibelinya benar-benar bagus atau paling tidak sesuai dengan keinginan mereka, sesuai dengan harga yang dibayar. Saya berusaha tetap menanggapi dengan baik dan sering mereka justru yang minta maaf dan tidak enak sendiri dengan sikapnya. Saya juga selalu terbuka mendengarkan pendapat dan masukan mereka untuk produk-produk yang saya jual, terutama para reseller karena reseller adalah jembatan dari konsumen langsung, tapi tentu tidak semua bisa diterima, hanya saja dengarkan saja dulu saat mereka mengungkapkannya. Tidak sedikit reseller atau konsumen yang terkadang dengan sendirinya mereka curhat ke saya, beberapa ada hubungannya dengan urusan jual beli, produk dan kompetitor atau tentang selera pribadi mereka.

Saat mereka merasa diterima, saat mereka merasa dihargai dan didengarkan oleh kita maka ini akan menjadi salah satu pengikat karena mereka juga akan memberikan respek dan kepercayaan balik terhadap kita. Mereka akan kembali lagi mencari kita dan mengingat kita saat mereka membutuhkan kembali produk-produk kita bahkan menjadi pelanggan tetap.

Ini berdasarkan pengalaman saya saja, karena setiap orang itu butuh untuk didengarkan dan dihargai. Dan kesediaan untuk mendengarkan, berbagi apa yang kita tahu itulah yang bisa menjadi nilai plus yang penting untuk dimiliki setiap penjual. Saya pun masih belajar untuk melayani dengan lebih baik lagi.

_fitrianelestari_

*yang masih belajar menjual dengan hati ๐Ÿ™‚

 

Melamar Kerja atau Usaha?


Apa yang ada di dalam pikiran kita saat pertama kali lulus kuliah? hampir sebagian besar akan menjawab melamar kerja. Sedikit yang akan menjawab mau berwirausaha atau bahkan mau melamar nikah hehe. Sama halnya dengan saya dulu, saat pertama kali lulus kuliah ya kerjaannya melamar kerja sana sini. Tidak ada sedikitpun dalam pikiran saya untuk berwirausaha atau menciptakan usaha. Apalagi mencoba berdagang.

Pertanyaannya adalah kenapa kok saya dan mungkin sebagian orang berpikir bahwa setelah lulus sekolah harus bekerja dan menjadi karyawan. Kenapa saya tidak mencoba berpikir kreatif? saya kira jawabannya akan sangat berbeda-beda. Karena memang jalan pertama setelah lulus untuk membebaskan diri dari disebut pengangguran adalah dengan bekerja. Orang kebanyakan melihat orang yang kerja di rumah tidak pergi pagi pulang sore itu dianggapnya adalah pengangguran. Padahal bisa jadi penghasilan mereka justru lebih besar dari yang kantoran. Di sini kebalik, orang yang jadi karyawan terlihat lebih keren dari yang berwirausaha. Padahal orang yang berwirausaha jauh lebih keren menurut saya, sekecil apapun usaha mereka. Mereka adalah tuan bagi dirinya sendiri. Saya selalu salut dengan mereka yang berani mengambil langkah pertama untuk memulai usaha sendiri.

Tidak seperti saya, sudah merintis usaha masih saja belum melepaskan diri dari status karyawan. Alasannya? mencari pasar lebih luas dan butuh lebih banyak keberanian. Butuh niat kuat dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan terjun total di dunia bisnis yang saya rintis sekarang ini. Alasan lain? ngumpulin modal lagi untuk pengembangan yang lebih besar. Padahal namanya usaha harus fokus ya kan, tapi dalam waktu dekat saya ingin total. Alhamdulillah usaha yang satu ini sudah jalan dan saya masih banyak plan dengan suami untuk mencoba yang baru lagi buat coba-coba juga. Beruntung suami saya mau bantu usaha saya, bisa dibilang kita tim yang saling melengkapi hehe.

Dimana ada niat dan kemauan di situ ada jalan, ungkapan lama yang memang benar adanya. Terbukti saya yang awalnya nggak pernah kepikiran untuk mulai usaha, tapi saat ada dorongan kuat dari suami dari iseng-iseng akhirnya malah jatuh cinta beneran hehe. Sampai saya berpikir ternyata bisa juga yah kalau kita mau action, mau memulai dan mengambil langkah pertama. Bukan berarti menjadi karyawan itu tidak lebih baik, karena apapun perannya sebagai karyawan tentu karena tenaga dan pikirannya dibutuhkan dan dihargai.

Jadi melamar kerja atau usaha? jawabannya kembali ke masing-masing orang yang penting bertanggung jawab dan dijalankan dengan amanah dan ikhlas biar berkah. Lalu usaha apa dong yang bagus? kalau kata Alm Bob Sadino ya usaha yang dijalankan. Memang benar sih, tanpa mencoba dijlankan kita tidak akan pernah tahu suatu usaha itu bagus atau tidak, berhasil atau tidak. Saya menulis ini juga untuk memotivasi diri sendiri, biar tetap semangat. Lalu kalau yang tidak mau usaha, yang mau jadi penulis misalnya? boleh banget. Toh jadi penulis juga bukan hanya sekadar pintar menulis bagus tapi juga harus bisa menjadi marketing bagi buku-buku yang dia hasilkan. Terlepas dari tujuan materi atau tidak tetap saja pasti ingin bukunya dibaca banyak orang. Trus kesimpulannya apa? yah saya cuma ingin berbagi saja bahwa ada begitu banyak peluang di luar sana jika kita tidak hanya berpikir selepas kuliah lalu melamar kerja. Agar tidak putus asa atau stress hanya karena tidak dapat kerjaan dan menjadi pengangguran selamanya.

-fitrianelestari-

*menulis ini karena terinspirasi dari para sahabat yang sudah mulai sama-sama membuka usaha ๐Ÿ™‚

Kenapa Resign?


Postingan kali ini saya ingin membahas tentang pekerjaan. Selama hampir 11 tahun saya mejadi seorang pekerja, saya sudah mengalami 4 kali perpindahan tempat kerja. Pertama kali lulus kuliah saya bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang consumers and good menjadi staf administrasi. Selama kurang lebih dua tahun saya bekerja di situ, karena suatu kondisi akhirnya perusahaan itu beralih kepemilikan dan saya resign.

Perusahaan kedua tempat saya bekerja hampir sama dengan tempat saya bekerja sebelumnya. Perusahaan ini merupakan perusahaan keluarga yang memiliki beberapa cabang di beberapa kota. Usahanya distribusi bahan makanan dan kue. Saya di situ masuk sebagai staff Head office dan menjadi audit internal. Pekerjaan sebagai audit menuntut saya untuk selalu keliling ke cabang perusahaan di kota yang lain. Namanya juga audit kalau sedang bekerja memeriksa bisa sampai jam 12 malam untuk membuat laporan. Karena di setiap cabang hanya diberi waktu 5 hari saja dan pulang sudah membawa laporan kerja, untuk besoknya dibahas dengan head office dan owner. Hanya beberapa bulan saja saya bertahan, disaat saya berhasil menemukan sebuah kasus penggelapan uang, mendapat bonus dan ditawari kenaikan gaji, tapi saya tetap memutuskan untuk resign. Karena saya merasa lelah secara fisik dan pikiran. Saya jarang berkumpul dengan keluarga, bekerja hinggal larut dan harus sering keluar kota. Sepertinya saya kurang cocok meski untuk pekerjaan sih saya oke-oke saja.

Selepas itu saya kembali bekerja di sebuah perusahaan consumers and good dan menjadi staf keuangan dan pajak. Seperti yang sebelumnya dari segi pekerjaan saya tidak merasa kberatan, saya merasa nyaman-nyaman saja. Tapi sayangnya kali ini saya harus menjadi anak kos dan jauh dari orang tua. Seminggu sekali pulang mudik rasanya capek juga. Sampai akhirnya dua tahun kemudian saya mendaftar ke sebuah perusahaan BUMN milik pemerintah yang bergerak dibidang pembiayaan. Kebetulan lokasi penempatan di unit yang ada di kota saya tinggal, bahkan kurang dari lima menit perjalanan naik motor dari rumah saya. Alhamdulillah saya diterima dan akhirnya sampai sekarang sebulan lagi genap empat tahun saya bekerja di sini. Dari segi pekerjaan saya masih menikmati dan merasa nyaman tidak ada yang terlalu berat untuk dijalani, dari segi lokasi saya juga sudah merasa nyaman.

Selama empat tahun ini saya sudah mengalami pergantian rekan kerja baik dalam satu unit maupun dari unit yang lain tapi masih satu cabang. Yang pasti setiap orang memiliki alasan masing-masing kenapa memilih untuk resign dari pekerjaanya. Ada yang resign karena menikah, ada yang pindah perusahaan, ada juga yang resign karena kasus. Apapun itu alasan resign, yang pasti tujuan mereka adalah mencari kenyamanan, tentu kenyamanan setiap orang pun berbeda versinya. Karena itu untuk mereka yang resign karena memilih yang lebih baik (versi mereka) saya tidak mau nyinyir, saya tetap menghargai pilihan mereka, karena setiap orang pasti sudah mempertimbangkannya lebih dulu sebelum memutuskan resign. Dan sekali lagi hanya masing-masing dari orang itu yang tahu apa yang terbaik bagi mereka.

_fitrianelestari_

Menularkan Virus [Membaca]


wp-1481099182865.png

Belakangan ini saya sedang suka posting foto buku di instagram atau biasa disebut bookstagram. Rasanya menyenangkan ketika kita bisa berbagi apa yang kita baca, apa yang kita dapatkan dan hal-hal lainnya. Lebih menyenangkan lagi saat postingan-postingan saya itu bisa membuat orang lain tertarik dan ingin membaca buku.

Begitu juga dengan postingan bookstagram saya yang akhirnya banyak membuat teman-teman saya tertarik dan penasaran dengan buku yang saya baca. Tentu saja ini awal yang baik, karena sering saya menawarkan untuk meminjamkan buku-buku saya untuk mereka baca, tapi pasti ada saja alasannya dari yang tidak ada waktu sampai yang memang tidak suka membaca buku. Tapi, dengan postingan bookstagram saya itu bisa membuat mereka tertarik.

Salah satu contoh temen saya yang akhirnya BBM saya selepas saya posting bookstagram dengan salah satu buku Tere Liye, dia langsung bilang penasaran dan mau pinjam baca bukunya. Antara seneng campur heran kok tumben banget temen saya ini mau baca buku, padahal dulu saat masih satu kantor, boro-boro dia mau pinjam, saya tawari pinjam pun dia tidak mau. Tapi setelah meliha bookstagram saya dia jadi tertarik, akhirnya dengan senang hati saya meminjamkan buku tersebut. Terselip harapan saya semoga dengan begitu dia jadi suka membaca buku, ternyata benar setelah buku yang dia pinjam selesai, dia langsung bilang mau pinjam buku lagi yang lain dan berencana untuk membeli buku juga. Senang sekali saya mendengarnya, dan tentu saja dengan senang hati meminjamkan buku-buku saya.

Bukan hanya pada satu orang saja tapi juga dengan teman-teman saya yang lain, mereka mulai meminjam buku-buku saya, ada teman kantor dan teman semasa kuliah juga. Ada kepuasan tersendiri buat saya karena akhirnya bisa menularkan virus membaca pada teman-teman saya.

Sebagai seorang yang cinta membaca buku, saya selalu ingin menularkan kesukaan saya dengan buku pada orang lain. Tidak terkecuali pada orang-orang terdekat saya, di lingkungan keluarga misalnya. Saya suka membelikan buku-buku cerita anak pada keponakan saya dan sekarang pada anak saya sendiri. Saya memangย  memberikan contoh secara langsung pada mereka untuk suka membaca buku, jadi pada saat saya membaca tidak jarang mereka juga ikut serta membaca. Terkadang saya yang membacakan cerita-cerita atau dongeng untuk mereka.

Rasanya ada kebahagiaan tersendiri saat saya bisa membuat mereka menyukai membaca, bisa meminjamkan buku-buku saya untuk dibaca. Seperti cita-cita kecil saya untuk membuka taman bacaan gratis bagi orang-orang sekitar dan siapapun yang mau membaca. Ah, semoga suatu saat keinginan itu bisa terwujud ๐Ÿ™‚

 

‘Ne (fitrianelestari)

Lima Tahun Sudah


wp-1479459134599.jpeg

 

Lima tahun sudah umur Selaksakata, blog ini memang bukan yang pertama kali tapi semoga ini blog yang akan terus saya jaga sampai nanti. Sebelumnya sempat berganti-ganti blog dan platform juga tapi saya sudah merasa nyaman di sini. Blog dengan isi yang sangat beragam, tentang catatan random, tentang buku dan juga tulisan-tulisan fiksi bahkan satu dua puisi.

Bukan sekali dua kali saya hiatus dan membiarkan blog ini lama terbengkalai, tapi pada akhirnya saya selalu kembali lagi ke sini. Bukan semacam pelarian, memang tempat untuk mengekspresikan passion saya dalam menulis. Ibarat rumah maya, kemanapun saya berlabuh dalam akun-akun yang lain seperti Twitter, Facebook, Instagram dan yang lainnya muaranya adalah blog ini.

Saya mungkin tidak banyak menghasilkan sesuatu dari blog ini, hanya beberapa hadiah giveaway, beberapa antologi tapi juga banyak teman. Harapannya sih kedepannya saya bisa lebih rajin lagi menulis di blog ini dan ingin menulis sesuatu yang baru, tema yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Biar blog saya makin banyak manfaatnya, berbagi apa yang saya tahu dan pahami, menulis apa yang belum tentu orang lain alami.

Terima kasih untuk semua teman-teman blogger yang sudah singgah dengan sengaja ataupun tidak ke sini ๐Ÿ˜€ semoga ada yang bisa bermanfaat untuk semuanya.

Happy blogging and keep writing yes!

 

‘Ne

 

Post Navigation