Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Archive for the category “Puisi Bukan?”

Cinta [Puisi] Cinta


Gambar-Puisi-Cinta

Lama sekali saya tidak lagi menulis puisi dan membaca buku-buku puisi. Sepertinya daya imajinasi saya juga sudah mulai berkurang terhadap hal-hal yang berbau puitis. Terakhir menulis puisi kayaknya hampir dua tahun yang lalu. Sebuah puisi singkat yang saya tuliskan untuk si partner. Waktu itu saya lihat di instagram ada yang sedang mengadakan 30 hari menulis puisi. Karema memang suka makanya saya ikutan meski tidak konsisten, puisi yang ditulis dengan tangan di secarik kertas apa saja dan lalu di foto, fotonya di upload di Instagram masing-masing.

Puisi Kopi

Itu puisi yang saya upload di instagram tanggal 04 Oktober 2014, puisi itu saya tujukan untuk partner hidup saya. Jadi ceritanya ritual saya selepas sholat subuh itu memang membuatkan secangkir kopi pahit untuk dia. Bolehlah kalau puisi itu dibilang puisi cinta, meski tidak romantis mendayu-dayu tapi itu ungkapan hati saya yang terdalam loh πŸ™‚

Berbicara tentang puisi, saya pernah ikutan lomba puisi di blogcamp milik Pakdhe Cholik dengan tema kemerdekaan, waktu itu saya memang tidak menjadi juara pertama tapi lumayan juga masuk juara kesekian dan mendapatkan hadiah buku dari pakdhe. Meski bukan prestasi yang spektakuler tapi tetap saja bahagia, jelas seneng kan kalau karya kita mendapat apresiasi apalagi hadiahnya buku, bahagianya jadi berlipat deh πŸ˜€

Buat yang suka berpuisi juga, apakah ada pengalaman berkesan dengan puisi? boleh dong cerita hehe

*30HariMenulisAgustus hari ke- 3

*gambar 1 diambil dari sakeena.net

*gambar 2 diambil dari akun IG pribadi saya @nemargane

‘Ne

Menunggu Mati


pohon-tua

Kau biarkan diri tenggelam dalam lubang kesepian hati

Di antara puing puing reruntuhan rasa yang tak lagi kau ratapi

Ah, rupanya kau menunggu mati untuk berreinkarnasi kembali

Lalu ingin menjadi apa agar hidupmu tak lagi kau sesali?

‘Ne..

-gambar diambil dari blog adidesu

Kebisuan Elektif


Alkisah :
Dia Perempuan

Tidaklah bisu hanya memilih diam
Tidak juga gagu hanya memilih bungkam

Saat dia merasa kata-katanya akan menjadi bisa
Saat dia merasa kejujurannya akan menjadi petaka

Bulatlah tekad di hatinya
Untuk terdiam selamanya

***

note: kayaknya asik nih bikin cerpen dari puisi ini πŸ˜€

‘Ne..

Dalam Jarak


Dalam Jarak

Dalam jarak, aku di mana dan kamu juga. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Adakalanya berjarak itu harus. Agar kita bisa saling memandang satu sama lain.

Dalam jarak, kita akan tahu betapa berartinya satu sama lain. Saling merindukan hingga kita mampu memahami maknanya dekat, dan kita akan tahu ternyata kita saling membutuhkan.

Dalam jarak, jalan kita akan lebih seimbang dan kita tidak akan tumbang. Selayaknya sepasang kaki yang tidak akan pernah berjalan berhimpitan, dan kita akan tahu bahwa kita saling melengkapi.

Dalam jarak, kita bisa saling menghargai dan melihat indahnya masing-masing. Seperti penggalan kata yang menjadi kalimat indah dan bisa dinikmati hingga akhir cerita. Bukankah indahnya kata-kata tidak akan bermakna tanpa adanya spasi?

Karena dalam jarak, akan ada ruang dimana aku dan kamu akan menjadi kita.

β€˜Ne..

-penikmat puisi dan photo, tapi bukan ahli-

note: photo diambil dari kamera hp yang hilang seminggu yang lalu, mudah-mudahan dapat gantinya kamera SLR πŸ˜€

Blurry


Blurry

..tidak semua hal di dunia ini harus kau cari kenapa kenapanya..

terkadang ada yang memang lebih baik menjadi rahasia

begitu juga cinta

tak selalu bisa dimengerti

dan biarlah tetap menjadi misteri

tidak perlu kau cari apa sebab kau merasakannya

tidak perlu pula kau sesali saat kau patah hati

tidak semua hal di dunia ini harus kau cari kenapa kenapanya

terkadang ada yang memang lebih baik tetap menjadi rahasiaNya

β€˜Ne..

-penikmat puisi-

Post Navigation