Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Archive for the category “Kontemplasi”

Hari Perenungan


Delapan Agustus, tanggal dimana pertama kali saya mengenal dunia. Saya terlahir dari seorang perempuan yang sangat keibuan. Perempuan yang mendedikasikan seluruh hidupnya demi keluarga. Barangkali memang seperti itulah seorang Mamah.

Ada beberapa kisah berkesan yang saya dengar dari Mamah tentang saya di masa kecil. Saya adalah anak perempuan yang sudah begitu didambakan oleh Bapak dan Mamah. Sebelum saya lahir Mamah sudah terlebih dahulu melahirkan anak laki-laki, usia saya dengan kakak terpaut cukup jauh karena sebelum ada kakak saya, Mamah sudah dua kali mengandung dan keduanya keguguran. Jadi kakak saya adalah anak ketiga, setelahnya Mamah kembali harus kehilangan dua kali lagi sehingga kakak saya seperti anak tunggal.

Sampai usia kakak saya menginjak umur 6 tahun Mamah belum juga ada tanda2 hamil sampai akhirnya berniat untuk mengadopsi anak. Saat niat itulah Mamah saya justru dinyatakan hamil, yang kemudian lahirlah saya. Bukan main bahagianya Bapak dan Mamah saya saat itu. Terutama Bapak yang memang sudah sangat mendambakan untuk memiliki anak perempuan.

Saat umur saya 2,5 tahun hobi saya adalah memanjat pohon jambu depan rumah. Dengan hanya menggunakan kaus dalem singlet dan celana hampir setiap hari saya main di atas pohon jambu tersebut. Saat itu saya memang sudah memiliki adik perempuan jadi Mamah lebih banyak mengurus adik bayi dan saya yang sudah hisa main sendiri dibolehkan memanjat pohon jambu. Setiap ada yang lewat dan menegur atau menasihati saya untuk turun dari pohon pasti orang tersebut saya pelototin habis2an haha. Saya tidak mau disuruh turun, saya justru selalu membawa bantal saat naik dan saya gunakan sebagai alas duduk di dahan pohon jambu. Herannya saya sama sekali tidak digigit semut atau ulat, entah kenapa apa mereka pun sayang sama saya 😀

Sekarang kelakuan saya saat kecil menurun pada putri kecil saya, Shakila. Shakila sekarang lagi suka memanjat apa saja, kursi, meja, rak buku dan apapun itu yang bisa dia panjat, tentu saja kelakuannya sering membuat saya jantungan.

Tidak terasa, sudah berpuluh-puluh tanggal 8 Agustus saya lewati. Dengan segala indah dan tak indahnya kehidupan yang saya alami, saya patut untuk bersyukur. Sangat bersyukur dengan semua yang pernah terjadi dan saya lewati hingga detik ini. Jika selama ini Mamah dan Bapak yang sudah mengorbankan segalanya demi saya, maka sudah sepantasnya kali ini saya yang harus berbuat sesuatu untuk mereka. Sekecil apapun adalah kewajiban saya membalas jasa mereka dan sebesar apapun tidak akan pernah tuntas saya membalasnya.

Karenanya di hari ini, hari di mana saya dilahirkan,hanya doa yang saya panjatkan pada Alloh SWT, semoga kedua orangtua saya senantiasa diberikan kesehatan dan kesempatan untuk beribadah lebih banyak, lebih khusyuk dan segera dapat ke rumah Alloh SWT. Aamiin.
Untuk saya pribadi, semoga saya mampu memanfaatkan sisa usia untuk lebih bermanfaat agar menjadi berkah untuk semuanya. Aamiin.

#30HariMenulisAgustus Hari ke 8

‘Ne

Bijak Dalam Berkata


image

Jangan mengucapkan kata yang akan kau sesali nantinya

Terkadang saat dalam keadaan emosi, seseorang tidak lagi mampu untuk berpikir jernih. Segala kata-kata dan makian bisa saja terlontar tak terkendali. Semakin ditanggapi akan semakin parah emosinya dan kata yang terlontar pun akan semakin buruk dan menyakitkan untuk didengar. Kepuasan yang didapat setelah meluapkan emosi itu tidak sebanding dengan penyesalan yang akan didapatkan setelahnya. Lebih parah lagi kalau sumpah serapah terlontar. Iya kalau yang disumpahi memang pantas mendapatkannya, kalau tidak? takutnya itu akan kembali ke diri sendiri, jangan sampai lah ya seperti itu.

Ada yang bilang kalau kata adalah doa, kalau kata-kata yang kita keluarkan adalah kata-kata yang buruk bukankah yang terjadi juga hal-hal buruk. Misal seseorang yang dengan sombong berkata “Ah, aku tidak butuh dikasihani” Saya kira itu adalah bentuk kesombongan, belum tentu orang yang ingin membantu itu sedang mengasihani atau memandang rendah tapi karena memang berempati. Kalau suatu saat sedang membutuhkan bantuan dan tidak ada yang mau berempati lagi, tidak ada yang mau membantu gimana? susah sendiri kan jadinya. Ada baiknya kalau memang tidak ingin dibantu bisa dengan berkata “terima kasih sudah mau membantu, tapi biar saya coba selesaikan sendiri dulu” nah kan lebih enak untuk didengar dan orang tersebut juga tidak akan tersinggung.

Lain halnya dengan yang saya alami sendiri, salah saya sendiri. Di kantor pasti ada saja orang yang memang tingkahnya menyebalkan, yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Suatu hari dalam rapat pagi seperti biasa ada pertanyaan dan sharing, saya melontarkan komplain pada satu orang itu. Tapi mungkin karena pemilihan kata yang kurang tepat orang tersebut tersinggung, pokoknya waktu itu jadi debat sama-sama emosi. Tapi setelah semua selesai dan saya dalam kondisi tidak emosi, saya baru menyadari, kok bisa ya tadi saya sampai emosi begitu. Debat tidak karuan seperti anak kecil, malu juga rasanya sama teman-teman kantor yang lain. Tapi akhirnya saya dan teman kantor itu sama-sama saling meminta maaf, tidak enak juga kan rasanya harus marahan dengan teman sekantor. Pekerjaan juga tidak akan selesai dengan baik kalau masih ada permasalahan.

Sekarang saya mencoba untuk lebih berhati-hati dalam berkata-kata, baik itu secara lisan, tulisan ataupun postingan di media sosial. Sudah cukup banyak contohnya yang sering menggunakan media sosial untuk meluapkan amarah, dengan status yang beruntun seolah-olah ingin meluapkan semuanya, dengan sindiran tajam seolah-olah yang membaca hanya orang yang dituju. Saya yang melihat sendiri terkadang risih, bukan membuat kita berempati tapi justru sebaliknya, langsung ilfil banget. Tapi sekaligus jadi pengingat saya untuk tidak melakukannya.

Semoga kita semua mampu untuk lebih bijak dalam berkata-kata, lebih mampu mengendalikan diri. Tidak bermulut pedas dan tajam, karena sungguh kata–kata yang yang buruk bisa menjadi pisau tajam yang menyakitkan hati dan juga bisa menimbulkan fitnah.

 

*writing challange Agustus  hari ke-4

*gambar dibuat oleh si partner

 

‘Ne

 

 

Menjalin Silaturahim


silaturahim

Salah satu fenomena lebaran itu adalah reuni dan hala bihalal. Reuni apa saja dari SD sampai kuliah pasti ada deh. Begitu juga dengan halal bihalal, biasanya halal bihalal ada di tempat kerja, atau keluarga besar dari kakek nenek sampai cicit. Inti dari semua itu adalah menjalin silaturahim dan sekaligus menjaga silaturahim yang sudah terjalin.

Seperti biasanya lebaran kemarin diwarnai dengan acara halal bihalal yang sudah menjadi rutinitas tahunan. Halal bihalal biasanya diadakan H+2 lebaran atau yah kondisional menyesuaiakan waktu dan tempat. Kebetulan Halal bihalal dari keluarga suami jatuh pada hari yang sama dengan acara reuni SMP saya dan juga halal bihalal dari keluarga besar saya. Untungnya halal bihalal keluarga besar suami diadakan pagi hari dan acara keluarga besar saya diadakan malam hari. Jadi saya masih bisa menghadiri keduanya, dan reuni terpaksa tidak bisa saya datangi.

Setelah fenomena reuni dan halal bihalal biasanya akan terbentuklah grup2 baru entah di Facebook, Whatsap dan BBM. Benar saja, seminggu setelah lebaran saya diundang grup SMP di BBM, grup keluarga besar saya -lebih tepatnya keluarga besar Mamah saya- di Whatsap dan grup teman2 kuliah di whatsap juga. Sejauh ini oke-oke saja sih untuk menjalin silaturahim dari grup-grup tersebut. Tetapi saya tidak terlalu aktif di grup-grup SMP ataupun kuliah tersebut, saya lebih sering menyimak dan menyapa sesekali. Bukan berarti saya tidak nyaman, justru dengan begitu saya jadi tahu berita apa yang terjadi dengan mereka, mereka yang berhasil, mereka yang sukses, saya sudah ikut senang.

Kalau grup keluarga benar-benar mendekatkan yang selama ini terasa jauh. Namanya keluarga besar pasti sudah berpencar di mana saja di wilayah negri. Bahkan ada saudara yang saya belum pernah bertemu sama sekali, tapi dengan adanya grup di whatsap silaturahim kami terjalin kembali. Sering saya perlihatkan foto-foto yang mereka share di grup, ke mamah saya dan membuat mamah saya tersenyum2 bahagia dapat melihat bagian dari keluarganya yang terpisah pulau. Dengan adanya grup keluarga ini membuat lebih mudah dan cepat mengabarkan segala sesuatu yang terjadi di antara anggota keluarga yang lain. Selain itu juga dalam grup keluarga sering saling sharing tentang ilmu-ilmu agama, yang tidak tahu jadi tahu, yang tahu memberitahu yang lain. Untuk saya pribadi grup ini banyak manfaatnya karena selain untuk menjalin silaturahim kembali antar keluarga, juga menambah ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Bagaimana dengan teman-teman semua? tetap menjaga silaturahim juga kan 🙂

 

‘Ne

-gambar dari silaturahim.org-

-writing challange Agustus-

Rezeki Tidak Akan Tertukar


Dalam dunia perdagangan alias jual beli pasti kita tidak sendirian. Ada begitu banyak sesama pedagang, entah itu yang menjual produk yang sama ataupun yang sama sekali berbeda. Kompetisi pasti akan ada, tetapi tidak perlu sampai harus bermusuhan sesama penjual kan?. Jangan merendahkan diri kita dengan melakukan hal-hal yang curang, ataupun menyakiti. Tidak akan menjadi berkah, yang ada malah akan menambah musuh. Yakini saja bahwa setiap orang sudah memiliki jatah rezekinya sendiri-sendiri, tidak akan kemana-mana selama kita mau berusaha menjemputnya.

Usaha dan doa bisa jadi berpengaruh terhadap rezeki kita. Seperti halnya saya, jika tidak mau berusaha dengan menawarkan dan promosi mana mungkin dagangan saya akan dikenal dan laku. Begitu juga dengan doa, doa kita sendiri, doa orang-orang terdekat kita dan terutama doa orang tua kita akan sangat membantu. Tidak menyakiti orang tua juga salah satu kunci membuat rezeki kita lancar. Tidak perlu sombong dengan mengakui bahwa keberhasilan kita adalah hanya atas usaha kita sendiri, selalu ada doa-doa mereka dibalik lancarnya rezeki kita. Menjalin dan menjaga silaturahim juga membuka pintu rezeki yang lebih luas.

Jadi, seperti apapun bisnis yang kita usahakan, jika jalan mencari rezeki yang kita tempuh dengan cara yang benar dan baik Insyaalloh rezeki tidak akan tertukar. Tidak perlu gusar jika pembeli membeli di tempat lain, berarti itu memang bukan rezeki kita. Biar sedikit asalkan kita lakukan dengan cara yang benar dan halal sehingga akan berkah, bukankah keberkahanlah yang kita cari? Jika berkah maka akan bermanfaat, bermanfaat bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi bermanfaat pula bagi yang membeli dan untuk  orang-orang terdekat kita. Aamiin.

 

‘Ne

-catatan kecil pengingat diri sendiri-

 

 

 

 

Jalan Rezeki


pintu rejekigambar diambil dari dp unik dot com

Banyak jalan menuju roma, begitu kata pepatah lama. Bagi saya banyak jalan juga menjemput rezeki. Saya ingin berbagi secara singkat tentang kesibukan saya sekarang ini. Selain saya masih menjadi seorang karyawan di salah satu perusahaan milik negara, dan terutama menjadi istri dan ibu bagi anak-anak, saat ini saya sudah bisa menjalankan usaha sendiri. Meski masih tergolong baru tapi saya sangat bersyukur menemukan jalan ini.

Awalnya tidak menyangka sama sekali kalau saya akan terjun di dunia perdagangan khususnya jilbab. Sudah terpatri dalam diri saya kalau saya ini nggak bakat jualan, nggak ada jiwa marketing dan banyak alasan lainnya. Sampai suatu saat teman kerja saya di perusahaan yang lama membuka usaha produksi hijab sendiri dan membuat brand sendiri. Saat itu pun saya tidak berpikir apa-apa selain menjadi konsumennya saja. Sampai akhirnya si partner nyeletuk “kenapa nggak ikut jualan aja mah” dalam hati saya saat itu masih nggak yakin, masih meragu, itu bukan jiwa saya karena passion saya bukan di situ.

Tapi sebagai istri yang baik, apa salahnya diikutin usulnya suami, siapa tahu itu jawaban dari doa saya selama ini yang Alloh SWT berikan melalui suami saya. Akhirnya mulailah saya sampaikan ke teman saya itu kalau saya tentang niat saya itu, dan temen sayapun dengan senang hati mau bekerjasama. Mulailah saya bertanya ke teman-teman saya yang sudah berkecimpung di dunia penjualan terutama jilbab/hijab. Saya belajar dari nol tentang cara berjualan, awalnya saya tawarkan ke teman-teman kerja, ke tetangga, saudara dan ke teman-teman yang lainnya. Saya rasain sukanya saat mereka order dan saya juga rasakan dukanya saat ditolak hehe. Teman-teman saya banyak yang mendukung dan ada juga yang mau berbagi ilmu dan pengalaman mereka.

Waktu itu senang sekali saat satu persatu dari mereka mulai order, bahkan tak jarang mereka reapeat order. Itu baru saya lakukan via BBM dan bertemu langsung, tapi belum mencoba untuk berjualan secara terbuka melalu status BBM, dan update dengan gambar jualan saya tapi masih menawarkan secara personal. Lagi-lagi suami saya bilang, dengan cara seperti itu saja orderan lumayan, coba kalau diperluas lagi. Kata-katanya membuat saya berfikir, oh iya ya kenapa saya nggak memanfaatkan media sosial yang ada, dan saya juga ingat pesan seorang teman, yang namanya jualan itu kuncinya ya jangan malu. Sudah ada BBM, Instagram, Whatsap, dll kenapa tidak dimanfaatkan sebagai media promosi. Jadilah saya membuat akun BBM dengan pin 5F23BB90 khusus untuk media jualan saya *jangan lupa invite ya 😉 *. Saya membuka toko online dengan nama Shakila Nuha, diambil dari nama putri saya Shakila Khairunnisa Nuha. Alhamdulillah orderan semakin banyak, tetapi saya tidak mau berpuas diri sampai di situ. Kembali saya berfikir untuk memperluas pasar, saya pun membuat akun instagram baru dengan nama @Shakila_Nuha dari situlah orderan kembali meningkat bukan hanya dari teman-teman saja tetapi juga dari mana saja di wilayah Indonesia.

Sampai sekarang bisnis iseng-iseng saya sudah berjalan hampir sembilan bulan, masih tergolong baru sebenarnya, tapi buat saya sekarang bukan lagi menjadi sekedar iseng. Saya punya impian baru yang ingin saya wujudkan dengan bisnis saya ini, nanti saya ceritakan di postingan tersendiri saja ya biar sering update blog juga 😀

Kesimpulannya sih, ada banyak jalan rezeki yang Alloh berikan untuk kita tinggal kita mau atau tidak mengusahakannya. Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah jangan dulu menilai diri kita tidak bisa sebelum mencoba, bukankah bisa atau tidak bisa memang harus dibuktikan? semuanya kembali ke diri kita masing-masing 🙂

 

‘Ne

 

Post Navigation