Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Archive for the category “30HariMenulisSuratCinta”

Surat Kedua [Selamat Dua Tahun, Kila]


wp-1486176400920.jpeg

04 Februari 2017

Assalamualaikum,

Dear Shakila Khairunnisa Nuha,

Ini adalah surat kedua yang mamah tulis untukmu. Seperti janji mamah di surat yang pertama setahun yang lalu bahwa mamah akan menulis surat berikutnya untukmu tepat ditanggal kelahiranmu. Mamah akan menceritakan beberapa kejadian untuk kamu tahu nantinya saat kamu dewasa.

Kila, dua tahun terasa cepat sekali berlalu. Tanpa kami sadari kamu sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang lucu. Satu tahun yang lalu kamu baru bisa berjalan tapi sekarang kamu lebih suka berlari meski di dalam rumah sekalipun. Mamah sangat bersyukur kamu tumbuh dan berkembang dengan baik dan normal. Tapi itu tidak membuat kami lalai untuk tetap menjagamu.

Ada beberapa hal yang ingin mamah sampaikan padamu, tentang kelakuanmu yang lucu dan menggemaskan atau tentang hal-hal lain tentangmu. Kamu sudah mulai belajar untuk makan dan memegang sendok sendiri, meski belepotan atau berserakan tapi mamah dan papah mengijinkanmu untuk belajar. Kamupun seringkali ikut kami sholat dan maunya menggunakan mukena sendiri, awalnya kamu tidak bisa diam, jika saat sholat posisi ruku maka kamu akan menarik-narik minta gendong, saat posisi duduk maka kamu akan dengan santainya duduk dipangkuan, saat mau sujud kamu berdiri memperhatikan tepat di tengah sajadah hehe, tapi kami sengaja membiarkanmu selalu ikut kami sholat. Akhirnya lama kelamaan kamu pun bisa mengikuti gerakan sholat kami, sudah ikut berjamaah tanpa mengganggu lagi. Meski tidak sampai selesai karena bisa jadi kamu merasa capek atau bosan, tidak apa-apa karena paling tidak kamu sudah belajar beribadah.

Kamu pun sudah sering ikut-ikutan mengaji seolah-olah seperti sedang membaca Al-Quran dengan Iqro atau Juz Ama meski hanya berupa dengungan atau seperti menggumam, tapi kami semua senang melihatnya. Sering juga kamu pura-pura menelepon mamah atau papah dengan menempelkan benda apapun yang mirip dengan ponsel ke telinga sambil berjalan hilir mudik dan berbicara macam-macam yang entah hanya kamu yang tahu. Bukan hanya itu saja kamu pun sudah suka sekali menyanyi, karena hampir semua lagu anak-anak semasa mamah kecil sudah mamah ajarkan padamu. Kamu juga sudah mulai pura-pura membaca dan menulis meski hanya coret-coretan benang kusut. Bicaramu masih ada beberapa kata yang belum jelas, tapi kosakatamu sudah banyak. Mungkin karena mamah sering membacakanmu dongeng.

Kila, terlepas dari semua yang kamu tiru dan kamu pelajari, mamah dan papah memang ingin mengajarimu dengan memberi kamu contoh nyata agar menjadi pondasi ingatanmu kelak. Itu jugalah alasan kenapa mamah dan papah menjadi lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku, agar kamu tidak mendapat contoh yang buruk. Dengan begini kamipun juga sama-sama belajar untuk menjadi orang tua yang baik untukmu. Misalnya saja jika berbuat salah maka harus berbesar hati untuk segera minta maaf, meski mamah yang harus minta maaf ke kamu jika perlu kalau memang mamah yang salah. Maka setiap kali kamu berbuat salah kamu akan mengulurkan tangan mungilmu untuk bersalaman sembari mengucapkan maaf. Mamah berharap semoga apa yang sudah kamu pelajari bisa menjadi pondasi untukmu kelak.

Kila, terima kasih ya sudah membahagiakan mamah dan papah, seperti halnya kami berusaha untuk menjadikanmu balita bahagia, terima kasih sudah memberi warna hidup kami dan selalu membuat kami tertawa. Selamat menjadi balita dua tahun Kila sayang, bertumbuh dan berkembanglah dengan baik dan sehat. Sekali lagi tidak ada perayaan dan kado, hanya ada surat ini dan doa-doa yang tak putus untukmu.

“I Love You, Kila” dan kamupun akan menjawab “fuyuu mamah..” haha hanya mamah yang tahu maksudnya πŸ˜‰

Peluk Cium dari Mamah

Wassalamualaikum.wr.wb

***—-***

1m1c

Drummer Pensiun


Teruntuk Kamu

My Partner, drummer yang sudah pensiun (terinspirasi dari preman pensiun hehe). Tiba-tiba teringat saat dulu sering menemanimu latihan dan manggung. Bisingnya suara musik saat itu terdengar asik-asik saja di telinga. Iya, mungkin itu efek dari jatuh cinta. Untungnya aku suka dengan acara musik live, karena mendengar lagu secara langsung itu sensasinya berbeda. Pertama kali ikut latihan, masuk studio jujur aku tidak paham sama sekali dengan lagunya. Musik metal sebelumnya asing buat aku, paling-paling musik rock, itupun juga modern rock yang paham, selebihnya kalau metal dan berbagai macam aliran di dalamnya benar-benar aku tidak paham. Aku tidak bisa membedakan apakah lagu A beraliran heavy metal atau B aliran trash metal dan lainnya masih banyak lagi. Tapi setelah mengenalmu aku sedikit tahu meski masih tetap tidak bisa membedakannya tanpa harus bertanya padamu. Setidaknya itu menambah sedikit pengetahuanku tentang musik.

Setelah menikah, kamu pelan-pelan meninggalkan duniamu itu. Tidak pernah ada larangan dariku, semuanya atas inisiatifmu. Aku sangat hargai, meski aku tidak keberatan jika kamu masih ingin sesekali bermain. Aku tetap suka. Tapi aku juga tetap menghargai keputusanmu, mungkin kamu ingin lebih memprioritaskan keluarga. Bagiku kamu adalah partner yang sangat bertanggung jawab dan sayang dengan keluarga. Itulah salah satu pertimbanganku memilihmu menjadi imamku.

Kini tidak terasa, dua tahun sudah kita melangkah bersama. Rasanya masih seperti baru kemarin saat kamu dan ayahku berjabat tangan saling melepas dan menerima beban tanggung jawab. Betapa waktu begitu cepat berlari dan banyak hal yang sudah terjadi tanpa kita sadari. Tapi sebaliknya, dua tahun juga bisa berarti baru kan, ya baru dua tahun kita melangkah bersama. Meski tidak sedikit drama, tapi tak sedikit pula bahagia tercipta. Kamu, dengan segala kesabaranmu membimbingku, dan semoga tidak akan pernah lelah melakukannya. Agar kelak kita bisa bertemu kembali di surga, bersama anak-anak kita.

Sayang, dengan surat ini aku hanya ingin berterima kasih untuk segalanya, terima kasih sudah memilihku dan melengkapi hidupku. Terima kasih untuk tetap setia membimbingku menjadi perempuan yang lebih baik.

 

Salam dan doaku selalu untukmu

‘Ne *teman hidupmu

 

 

 

Belajar Pada Lautan


Dear Laut

Barangkali aku harus belajar banyak darimu. Terutama belajar tentang kesabaran. Iya, aku tidak sedang bercanda, kesabaranmu tak berbatas, bukankah begitu seharusnya?. Kesabaran yang berbatas tidak lagi disebut sabar. Bukan tanpa alasan aku bilang kesabaranmu tak berbatas. Kamu mampu menampung segalanya tanpa keluhan. Apapun itu yang datang padamu kamu terima dan tampung semuanya. Segala rasa kamu simpan di palung-palung terdalam.

Barangkali, begitulah seharusnya menjadi perempuan. Mampu menampung segalanya, tanpa keluhan. Menyimpan segala rasa di palung hati terdalam. Tahu kapan harus disimpan dan kapan harus diungkapkan.

Laut, aku salut.

Salam dariku

‘Ne

Surat Pendek Untuk Calon Bukuku


Untuk Calon Bukuku,

Surat ini singkat saja. Tunggulah aku dengan sabar. Semoga akan datang waktu dimana aku mewujudkanmu menjadi nyata.

 

Salam Penulismu

‘Ne

 

Bapak Tua Penjual Roti


Kepada Pak Tua,

Maaf sebelumnya kalau saya hanya memanggil dengan sebutan Pak Tua saja, karena saya memang tidak tahu nama lengkap bapak. Surat ini juga tidak akan panjang. Saya hanya ingin berterima kasih sudah memberikan pelajaran berharga meski tanpa bapak tahu. Saya menulisnya selepas Bapak keluar dari kantor saya setelah saya dan teman saya membeli roti pada Bapak. Hari ini hujan, tapi tidak menghalangi bapak untuk berjalan keliling menjajakan roti.

Saya belajar tentang kesabaran, kegigihan dan konsistensi Bapak dalam mejalani profesi. Kita memang tidak kenal dekat hanya sebatas penjual dan pembeli. Hampir setiap hari Bapak datang ke kantor saya menawarkan roti, tanpa kendaraan dan berjalan kaki, dari satu kantor ke kantor yang lain dan dari satu toko ke toko yang lain, bahkan dari satu kota ke kota yang lain. Bapak lebih pantas dipanggil kakek, karena memang Bapak begitu renta. Untuk berjalan saja sudah sedikit membungkuk dan pelan, tetapi Bapak selalu dengan gigih menawarkan roti dari satu pintu ke pintu yang lain. Tidak pernah marah saat kami menolak untuk membeli, selalu tersenyum sambil berlalu. Besoknya Bapak akan datang lagi dan menawarkan kembali.

Saya malu, saya yang masih muda terkadang mengeluh capek harus kerja dari pagi sampai sore, dan terkadang harus pulang malam. Sedangkan Bapak harus berjalan kaki dengan dua tangan membawa dagangan kue-kue yang tidak sedikit, jarak yang jauh dari tempat tinggal Bapak sehingga terkadang harus naik bus. Saya salut sama Bapak, karena dengan usia senja yang seharusnya sudah duduk manis menimang cucu tapi masih harus berjuang untuk mendapatkan rejeki yang halal.

Saya hanya bisa berdoa, semoga Bapak diberi kesehatan agar Bapak masih dapat berjualan dan semoga dilapangkan rejekinya.. Aamiin.

 

Salam saya

‘Ne

Post Navigation