Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Bijak Dalam Berkata


image

Jangan mengucapkan kata yang akan kau sesali nantinya

Terkadang saat dalam keadaan emosi, seseorang tidak lagi mampu untuk berpikir jernih. Segala kata-kata dan makian bisa saja terlontar tak terkendali. Semakin ditanggapi akan semakin parah emosinya dan kata yang terlontar pun akan semakin buruk dan menyakitkan untuk didengar. Kepuasan yang didapat setelah meluapkan emosi itu tidak sebanding dengan penyesalan yang akan didapatkan setelahnya. Lebih parah lagi kalau sumpah serapah terlontar. Iya kalau yang disumpahi memang pantas mendapatkannya, kalau tidak? takutnya itu akan kembali ke diri sendiri, jangan sampai lah ya seperti itu.

Ada yang bilang kalau kata adalah doa, kalau kata-kata yang kita keluarkan adalah kata-kata yang buruk bukankah yang terjadi juga hal-hal buruk. Misal seseorang yang dengan sombong berkata “Ah, aku tidak butuh dikasihani” Saya kira itu adalah bentuk kesombongan, belum tentu orang yang ingin membantu itu sedang mengasihani atau memandang rendah tapi karena memang berempati. Kalau suatu saat sedang membutuhkan bantuan dan tidak ada yang mau berempati lagi, tidak ada yang mau membantu gimana? susah sendiri kan jadinya. Ada baiknya kalau memang tidak ingin dibantu bisa dengan berkata “terima kasih sudah mau membantu, tapi biar saya coba selesaikan sendiri dulu” nah kan lebih enak untuk didengar dan orang tersebut juga tidak akan tersinggung.

Lain halnya dengan yang saya alami sendiri, salah saya sendiri. Di kantor pasti ada saja orang yang memang tingkahnya menyebalkan, yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Suatu hari dalam rapat pagi seperti biasa ada pertanyaan dan sharing, saya melontarkan komplain pada satu orang itu. Tapi mungkin karena pemilihan kata yang kurang tepat orang tersebut tersinggung, pokoknya waktu itu jadi debat sama-sama emosi. Tapi setelah semua selesai dan saya dalam kondisi tidak emosi, saya baru menyadari, kok bisa ya tadi saya sampai emosi begitu. Debat tidak karuan seperti anak kecil, malu juga rasanya sama teman-teman kantor yang lain. Tapi akhirnya saya dan teman kantor itu sama-sama saling meminta maaf, tidak enak juga kan rasanya harus marahan dengan teman sekantor. Pekerjaan juga tidak akan selesai dengan baik kalau masih ada permasalahan.

Sekarang saya mencoba untuk lebih berhati-hati dalam berkata-kata, baik itu secara lisan, tulisan ataupun postingan di media sosial. Sudah cukup banyak contohnya yang sering menggunakan media sosial untuk meluapkan amarah, dengan status yang beruntun seolah-olah ingin meluapkan semuanya, dengan sindiran tajam seolah-olah yang membaca hanya orang yang dituju. Saya yang melihat sendiri terkadang risih, bukan membuat kita berempati tapi justru sebaliknya, langsung ilfil banget. Tapi sekaligus jadi pengingat saya untuk tidak melakukannya.

Semoga kita semua mampu untuk lebih bijak dalam berkata-kata, lebih mampu mengendalikan diri. Tidak bermulut pedas dan tajam, karena sungguh kata–kata yang yang buruk bisa menjadi pisau tajam yang menyakitkan hati dan juga bisa menimbulkan fitnah.

 

*writing challange Agustusย  hari ke-4

*gambar dibuat oleh si partner

 

‘Ne

 

 

Single Post Navigation

9 thoughts on “Bijak Dalam Berkata

  1. Stujuuuu mbak. Kalau kata pepatah siih “mulutmu harimaumu”. Dan biasanya apapun yg kita katakan efeknya suka wuuuuus,wuuuuus-an karena adanya campur tangan malaikat dalam mengamini doa kita.

    Saya doong, kalau lagi sensi ngomongnya suka ketinggian.
    Contoh : Kalau saya jadi rektor, kamu saya depaaak dari kampus!
    Kesombongan yg tak termaafkan oleh tuhan pastinya๐Ÿ˜€

  2. ini bener banget kak Jangan mengucapkan kata yang akan kau sesali nantinya

  3. Sebuah anjuran yang bijak. Memang betul, sangat sulit mengendalikan lisan untuk tidak ikut mengomentari orang lain. Berucap kadang terlecut begitu saja, tak sadar ternyata malah menyakiti. Akhirnya menyesal. Kalau sekarang di era media sosial ya Facebook kadang memberi ruang orang untuk saling melempar tulisan yang menyakitkan. Terima kasih peringatannya, saya akan coba menahan lisan dan tangan.

  4. Kata kalau ga membawa manfaat berarti lebih baik diam ya, Ne

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: