Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Bapak Tua Penjual Roti


Kepada Pak Tua,

Maaf sebelumnya kalau saya hanya memanggil dengan sebutan Pak Tua saja, karena saya memang tidak tahu nama lengkap bapak. Surat ini juga tidak akan panjang. Saya hanya ingin berterima kasih sudah memberikan pelajaran berharga meski tanpa bapak tahu. Saya menulisnya selepas Bapak keluar dari kantor saya setelah saya dan teman saya membeli roti pada Bapak. Hari ini hujan, tapi tidak menghalangi bapak untuk berjalan keliling menjajakan roti.

Saya belajar tentang kesabaran, kegigihan dan konsistensi Bapak dalam mejalani profesi. Kita memang tidak kenal dekat hanya sebatas penjual dan pembeli. Hampir setiap hari Bapak datang ke kantor saya menawarkan roti, tanpa kendaraan dan berjalan kaki, dari satu kantor ke kantor yang lain dan dari satu toko ke toko yang lain, bahkan dari satu kota ke kota yang lain. Bapak lebih pantas dipanggil kakek, karena memang Bapak begitu renta. Untuk berjalan saja sudah sedikit membungkuk dan pelan, tetapi Bapak selalu dengan gigih menawarkan roti dari satu pintu ke pintu yang lain. Tidak pernah marah saat kami menolak untuk membeli, selalu tersenyum sambil berlalu. Besoknya Bapak akan datang lagi dan menawarkan kembali.

Saya malu, saya yang masih muda terkadang mengeluh capek harus kerja dari pagi sampai sore, dan terkadang harus pulang malam. Sedangkan Bapak harus berjalan kaki dengan dua tangan membawa dagangan kue-kue yang tidak sedikit, jarak yang jauh dari tempat tinggal Bapak sehingga terkadang harus naik bus. Saya salut sama Bapak, karena dengan usia senja yang seharusnya sudah duduk manis menimang cucu tapi masih harus berjuang untuk mendapatkan rejeki yang halal.

Saya hanya bisa berdoa, semoga Bapak diberi kesehatan agar Bapak masih dapat berjualan dan semoga dilapangkan rejekinya.. Aamiin.

 

Salam saya

‘Ne

Single Post Navigation

13 thoughts on “Bapak Tua Penjual Roti

  1. amiiin.. semoga kakeknya sehat selalu.. salut banget sama si kakek. btw salam kenal mba

  2. salam dari pembaca gelap. numpang singgah ijin baca.

  3. Nyong tek melu tuku rotine Fit… anu nang ndi si

  4. di Bogor juga sering saya jumpai bapak2 yang angkat dagangan yang mahaberat. Uh, luar biasa kuat mereka. Betul memang kita sering mengeluh padahal lebih enak daripada mereka.

  5. Sosok yg inspiratif, dari bapak tersebut kita bisa belajar untuk tidak mudah menyerah..

  6. Aamiin. Smga rezekinya berkah. Smga Allah sll kuatkan si bapak…

  7. kak keren bgt si bapak itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: