Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Bacalah.


D : Kamu suka banget baca buku ya?

A : Iya

D : Hobi banget?

A :  Iya

D : Koleksi bukumu pasti banyak ya

A : yah lumayan sih..

D : Kalau Al-Quran punya juga kan?

A : Iya pasti dong.

D : Kalau baca buku pasti berusaha untuk memahami isinya kan?

A : yup

D : kalau baca Al-Quran?

A : mmm.. sejauh ini hanya baca aja sih..

D : punya Al-Quran terjemahan nggak?

A : nggak..

D : Kamu bisa memahami isinya tanpa terjemahan?

A : mm.. nggak..

D : lalu kenapa kamu berusaha untuk memahami isi buku2 yang kamu baca tapi tidak dengan Al-Quran?

A : ……………………………..

D : jadi membaca saja tidak cukup kan? meski masih lebih baik membacanya daripada tidak sama sekali.

Sepenggal dialog nyata antara dua insan ini menohok saya. Kenapa? karena sebenarnya dialog di atas adalah apa yang saya alami sendiri. Membuat saya merenung setelahnya.

Sebagai seorang yang sangat gemar membaca buku (kebanyakan buku fiksi dan sedikit non fiksi) saya merasa apa yang di pertanyakan dalam dialog itu sederhana tapi mengena.

Nyatanya saat saya membaca buku bisa menghabiskan waktu satu sampai dua jam, kapan pun saya mau dan ada waktu saya sempatkan membaca. Sedangkan untuk membaca dan memahami isi Al-Qur’an saya hanya sekadar membaca tidak lebih dari setengah jam, itupun hanya selepas sholat Maghrib atau Isya, pun tidak setiap hari.

Ironis rasanya karena reading challenge 2013 saya di Goodreads adalah  untuk membaca buku sebanyak 50 buku dan sampai Bulan April ini saya sudah menyelesaikan 10 judul buku. Sedangkan Al-Qur’an selalu tak cukup khatam dalam satu bulan (malu? iya!) satu tahun khatam juga udah syukur. Membaca Al-Quran terjemahan dalam waktu yang kurang dari satu jam itu berarti hanya berapa ayat saja yang bisa dibaca. nah!

Kalau baca buku saya biasanya memanfaatkan waktu-waktu yang ada, misal saat menunggu, saat antri di Bank ataupun Kantor Pajak bahkan kadang di bis jika memungkinkan. Jadi kadang pergi-pergi bawa buku.

Lain halnya dengan apa yang saya temui, suatu hari dalam sebuah perjalanan dengan bis, saya lihat perempuan berkerudung di sebelah saya membuka sebuah buku yang ternyata adalah sebuah Al-Qur’an berukuran mini. Ada lagi suatu hari di Rumah Sakit saat saya sedang antri untuk memeriksakan diri, saya melihat seorang Ibu paruh baya mengantarkan suaminya untuk berobat, dan sambil menunggu antrian si ibu membaca Al-Qur’an. Sedangkan saya dalam setiap kesempatan itu yang saya bawa dan baca adalah novel.

Barangkali, Alloh sedang mengingatkan saya. Meski tidak setiap waktu dan tidak harus dibawa kemana-mana, paling tidak saya juga harus menyempatkan diri untuk membaca apa yang memang seharusnya saya baca.

 

‘Ne

-catatan sekadar kritik untuk diri sendiri, dialog pernah ditulis di tumblr saya-

Single Post Navigation

21 thoughts on “Bacalah.

  1. Memang beda sis baca doang sama baca+faham tafsirnya. Klo faham kadang suka nusuk diri sendiri dan bwt kita flash back. Tapi dua2ny dpt pahala

  2. Masih belum pede baca di tempat umum nih.

  3. subhanallah inspirasi yang baguss..🙂

  4. mau komen apa ya… ?😦

  5. mutlak… jadi ngerasa ditegur Tuhan lewat tulisan mbak ini.. hehe

  6. berasa bgt ^^
    tp trims sist

  7. Samaaa Ne, aku juga kalo baca buku betah banget. baca qur’an baru dapat dua lembar dah ngos2an🙂

  8. Merasa tertohok juga🙂

  9. Menohok skali Ne, aku juga nih khatam setaon aja blm tentu😦

  10. nasehat untukku juga Ne, makasih

  11. makasih Ne.. ahemm.. ketohok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: