Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Pohon Alpukat


Dear Pohon Alpukatku..

Sedih saat aku pulang ke rumah dan kudapati kamu hanya tinggal potongan-potongan batang. Yah, hidupmu sudah selesai. Aku tahu kamu tidak punya daya untuk menolak di tebang, aku tahu saat itu akupun tidak ada di rumah. Ah maafkan aku tidak sempat mencegahnya.

Sebenarnya Mamah sudah pernah bilang di telepon kalau kamu terpaksa harus ditebang. Aku pun sempat menyatakan keberatan. Karena kamu satu-satunya pohon besar di halaman rumah, sebagai peneduh, penyaring udara.

Percayalah, keluargaku pun sudah beberapa kali mempertahankanmu. Tapi tetangga sebelah rumah tidak menghendaki itu, mereka bilang takut kamu roboh diterpa angin dan menimpa rumah mereka. Kami sedikit bernegosiasi dan hanya menebang bagian ranting yang melewati rumah tetangga itu. Sepertinya mereka belum juga ikhlas dan tetap ingin kamu ditebang.

Akhirnya demi menjaga silaturahim dan menghindari fitnah, keluargaku terpaksa menebangmu setelah panen terakhir kemarin. Kini kamu hanya menjadi sisa-sisa, dan meninggalkan sepetak tanah tak berpaving yang entah untuk menanam apa nantinya. Mungkin hanya dibiarkan saja bersama akarmu yang tertinggal.

Oh iya, makasih banyak ya. Sudah melewati kebersamaan bersama kami, memberikanku pengalaman ngeri karena saat kamu berbuah ada begitu banyak ulat-ulat bertebaran di halaman. Makasih juga sudah berbuah banyak dan bisa kami bagi ke para saudara dan tetangga dan sisanya bisa terjual.

Aku akan tetap menyukai buahmu, ada ataupun tiada kamu di halaman rumahku🙂

‘Ne

Single Post Navigation

44 thoughts on “Pohon Alpukat

  1. Pingback: Aphiphobia | Selaksa Kata

  2. dari sebuah pohn bisa menadi sebuah artikel yang keren😀

  3. sama dengan postinganku ya mbak ada perasaan nggak enak di sini jd hrs pohon yg dikorbankan, padahal byk sekali gunanya terutama buat alam sekitarnya, mnrtku lho mbak🙂

  4. Wah, sebatang pohon alpukat bisa jadi tulisan yang menyentuh. Sip🙂

  5. Pasti tinggi bgt ya pohonnya sampe di protes gitu😰

  6. Dien ilmi on said:

    wah, sayang bgt tuh…
    Aku aja ngga tau pohon alpukat kek gimana…

  7. pasti rumahnya gak teduh lagi sekarang😦 sad…

  8. duuhhh….gak papa, seng penting alpukat nya yah masih bisa dicari di swalayan hehe

  9. itu dulu pohonnya ditanam sendiri, atau memang liar ? :’) sedih ya.. sampai sebegitunya, pasti ada banyak cerita masa lalu dengan si pohon.

  10. yah gak ada fotonya, gak kebayang pohon alpukat itu spt apa…

  11. Heii… kamu dapet award ini dari saya… check it out ya…
    http://dyazafryan.wordpress.com/2013/02/03/very-inspiring-blogger-award/

    salam…😀

  12. Saya jadi kepikir pohon jeruk bali di depan rumah saya yang lama mati…

  13. metamocca on said:

    Belom pernah liat pohon alpukat😆

    Tau buahnya doang😛

  14. Ikut berduka cita. Maafkan tetangganya mbak Ne ya, pohon alpukat.

  15. Turut berduka dg pohon alpukatnya.
    Saya suka banget dg buah alpukat, perlu nyari nih untuk dinikmati nanti siang…
    Salam,

  16. wah sayang banget..pohonya… turut sedih ya mbak…😦

  17. katrina on said:

    Saya juga menyukai buat alpukat…🙂

    hubungan dengan tetangga adalah lebih utama ya ‘Ne…

  18. ayo tanam lagi, dengan kembang perdu biar hijau sejuk…🙂

  19. Hehhee.. sebegitu sayangnya mbak sama pohon alpukat,, tapi alpukat salah satu buah yang saya suka lho.. emmh… dulu juga ada pohon kelapa yang ditebang di belakang rumah..itu jg gara2 tetangga😦

  20. Kasian pohon alpukatnya T.T
    Innalillahi… Jadi pengen makan alpukat😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: