Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Tom


Tom, itu nama yang Marisa berikan padaku. Seandainya boleh memilih aku tidak mau diberi nama seperti kucing yang ada di film kartun yang sering kulihat di televisi saat aku bermanja di kaki Marisa menonton Tom and Jerry. Entah apakah dia memang terinspirasi dari kucing jelek itu. Asal bukan terinspirasi dari makhluk yang beberapa bulan yang lalu sempat menghebohkan masyarakat di sini, Tomcat. Bahkan mendengar berita-berita yang kadang kupikir terlalu lebay itu membuatku merasa ngeri sendiri. Aku tidak seburuk itu.

Oh iya perlu kalian tahu, Marisa adalah adik dari Maria yang punya kucing kampung namanya Bim Bim. Aku sendiri kucing Persia, hadiah ulang tahun yang diberikan pacar Marisa. Kadang aku heran dengan manusia, ada banyak sekali hal yang selalu dirayakan. Ah tapi itu bukan urusanku, aku tidak mau pusing-pusing seperti mereka.

Kedatanganku ke rumah ini bisa dibilang tepat pada waktunya. Karena saat itu Bim Bim memang sudah sering menghilang dari rumah. Namanya saja kucing kampung udah dikasih makan dan tempat yang enak masih aja suka kabur.

Suatu hari aku lihat si Bim Bim datang lagi ke rumah, tapi dia sudah tidak punya tempat lagi dan dia tidak diterima lagi di rumah ini. Maaf Bim Bim, bukan aku bermaksud merebut posisimu tapi yah salah kamu sendiri yang suka kabur dan berkelahi dengan kucing kampung lain, membuatmu terlihat buruk dengan luka di sana sini. Ditambah lagi kamu sekarang punya koreng, ya pantas saja mereka tidak mau menerimamu lagi. Aku sih nggak mau keluar-keluar rumah, itu tekadku dalam hati.

Tapi suatu hari saat aku menemani ibu duduk di beranda adalah saat di mana aku merubah pikiranku untuk tidak keluar rumah. Bukan karena aku ingin bermain dengan kucing-kucing kampung yang kotor itu, sama sekali bukan. Tapi karena ada kucing betina yang membuatku terpesona. Yah, dia benar-benar membuatku mabuk kepayang. Dia begitu anggun, jalannya bak peragawati di atas catwalk, -eh bukankah peragawati itu yang jalannya niru kita ya?- dia sama sekali bukan kucing pemalu, ceria dan terlihat sangat percaya diri. Aura yang terpancar benar-benar membuat siapapun yang memandangnya akan langsung menyukainya. Tak terkecuali aku. Normal bukan? aku pejantan yang gagah, keren dan tak sedikit kucing-kucing betina yang menngejarku. Tapi selama ini tidak ada yang bisa membuatku jatuh cinta seperti Lala. Iya benar, kucing itu namanya Lala, kucing milik tetangga komplek yang rumahnya di sudut jalan.

Sejak hari itu pun duniaku terasa tidak berada di rumah. Selama ini yang kukira tempat tinggal dan makan yang enak sudah cukup bagiku, ternyata salah. Aku jatuh cinta pada Lala, dan membuatku mulai berani keluar rumah untuk menemuinya. Kecuali hari hujan setiap hari kami pasti main bersama, kalau bukan aku yang datang menemui Lala kadang Lala yang mendatangiku. Kami begitu bahagia selayaknya Romeo dan Juliet. Jangan kalian tanyakan kenapa aku tahu tentang Romeo dan Juliet, aku pernah menontonnya bersama Marisa di rumah. Saat itu aku pikir kisah cinta seperti itu sangat konyol, tapi itu adalah pikiranku saat aku belum merasakan jatuh cinta.

Tapi seperti kata pujangga yang pernah kudengar, bahwa cinta hanyalah terdiri dari dua rasa, sedih dan bahagia. Jika ada kebahagiaan pasti juga akan beriringan dengan kesedihan. Apa yang aku alami bukan karena orang tua tak setuju, karena semua keluarga Marisa jelas menyukai Lala begitu juga sebaliknya. Bahkan tak jarang mereka meledekku sepulang aku bermain dengan Lala.

Hari itu semuanya berawal, sepulang aku menemui Lala di rumahnya aku berjalan dengan penuh riang gembira. Hingga aku tak sadar ada sepeda motor yang lewat dengan kencang, sudah tahu ini perumahan seharusnya mereka tidak boleh ngebut. Tapi dasar manusia, peraturan yang mereka buat mereka langgar sendiri. Akhirnya tak terhindarkan lagi aku terserempet, untung saja aku lumayan gesit hingga aku tidak terlindas. Melihatku masih hidup pengendara sepeda motor itu malah kabur, dasar tidak bertanggung jawab. Aku mengerang, tentu saja Lala pun tak akan mendengarku, aku sudah cukup jauh dari rumahnya. Dengan tertatih akupun berjalan pelan pulang ke rumah. Darah mengucur dari mulut dan kakiku. Jangan tanya seperti apa sakitnya.

Setibanya di rumah Marisa yang saat itu sudah pulang kuliah yang pertama kali melihatku, dia menjerit histeris dan langsung menggendongku. Setelah mengamati lukaku, kulihat Marisa menelpon Ibu dan sayup-sayup kudengar aku akan dibawanya ke pet shop yang memang menyediakan ruang khusus untuk perawatan kucing agar aku diperiksa. Benar saja tak lama Bimo, pacar Marisa datang dan mengantarku dan Marisa ke Pet shop dengan mobilnya. Ternyata setelah diperiksa aku harus di opname dan dirawat untuk beberapa hari. Aku sedih sekali, sudah membuat keluarga repot dan aku jadi tidak bisa bertemu dengan Lala. Aku sakit dan sekaligus merindu.

Keluarga pun bergantian menengokku, sampai akhirnya di hari ketiga aku sudah diijinkan pulang. Aku sangat gembira meski ada yang membuatku masgul. Aku cacat, mulutku yang sobek dan gigiku tanggal satu membuatku tidak percaya diri untuk bertemu dengan Lala. Jalanku juga jadi agak pincang. Masihkah Lala mau bersamaku jika melihatku begini? Entahlah, aku pasrah. Bukankah di saat seperti ini aku akan tahu kesungguhan cinta Lala padaku.

Kepulanganku di sambut dengan gembira oleh seluruh anggota keluarga, dan yang membuatku surprise adalah lala juga sudah ada di sana menungguku. Awalnya aku sedikit kikuk dan berusaha menghindarinya, tapi ternyata Lala masih tetap sama dengan yang sebelumnya. Setelah melihat rupaku yang tak lagi ganteng, Lala tidak meninggalkanku. Aku terharu, rasanya tidak ada lagi yang aku inginkan di dunia ini. Semua kebahagiaan sudah kudapatkan.

Tapi lagi-lagi aku salah, tidak ada kebahagiaan yang abadi. Hingga hari itu pun tiba..

bersambung

***
Seperti apa kisah cinta Tom dan Lala selanjutnya? dan apa yang akan terjadi dengan Tom?  tunggu tanggal mainnya eh tanggal terbitnya hanya di Selaksakata😉

image

note: Foto di atas adalah Tom sendiri, cakep yah hehe sayang nggak ada dokumentasi si Lala😀

‘Ne..

-yang berusaha membebaskan imajinasi

Single Post Navigation

49 thoughts on “Tom

  1. Cerita nya menarik , simple n jelas.
    bravo.

  2. Waaaah… Seru ‘ne hehehe.. Lanjud ke tom selnjutnya.

  3. kucing kampung knp ya di selalu citrakan jelek jijik ngeselin, padahal kan binatang juga…. karakter kucing kampung di cerpen ini semakin memposisikan rendah banget…. hehe just opini🙂

    • Oh tentang kucing kampung itu, di cerita ini si Bim Bim dulunya nggak jelek tapi kenapa dia menjadi begitu menjijikkan karena sebab-sebab yang sudah diceritakan di cerita tersendiri tentang Bim Bim.

      Cerita2 ini berhubungan tapi berdiri sendiri sendiri.
      Terima kasih sekali mas opininya🙂

  4. Pingback: Tom (akhir dari segalanya) « Selaksa Kata

  5. Ditunggu pose genitnya lala, Ne😉

  6. Tom cakep ya, laki banget😀

  7. salam kenal…
    bagus ceritanya mbaakk…🙂

    kunjung balik yee..🙂

  8. fotonya agak sedikit menipu tuh, Tom aslinya imut abis soalnya….sayang ilang….hiks..

    • iyaa.. digambar jadi kelihatan sedikit angkuh.. hihi..
      haa.. tapi nggak gitu ntar endingnya😀

      *semoga Tom bahagia di manapun berada ya Jeng.. tengkyu buat dokumennya😀

  9. imatkalimahi on said:

    Waah…si Tom bener-bener cakep ya…bulunya itu…hmm…
    Menarik!

  10. aku belum pernah lihat kucing cakep spt Tom mbak

  11. Kalo ada Tom biasanya ada Jerry…
    Bagus ceritanya. Lanjutkan…
    Salam,

  12. Nama kucingnya keren semua.. semoga ga ada tokoh kucing yang namanya urip

  13. Foto yg ktiga srem!

  14. Waaa… curang, motongnya disitu, jadi penasaran😀

  15. Nama lengkapnya siapa?😀

  16. Tidak mudah membuat tulisan dengan Point Of View sebagai binatang. Akang tunggu tulisan selanjutnya yaa …soalnya seruuu apalagi liat Tom begitu gagah.

  17. iya cakep kucing nya, menunggu kelanjutannya🙂

  18. Asyikkk,.. ditunggu.
    Lala wanita luar biasa!

  19. Sedihnyaaaaaaaaa T___T

  20. Besok menunggu peran antagonis lala. Cerpennya keren nih….

  21. tom nya jadi beneran cacat mba??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: