Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Pigura Kosong


Rintik hujan yang patah hati, bisa jadi hujan memang sengaja ingin menemaniku sore ini. Hujan begitu baik hati menemuiku di saat air mataku tak sabar untuk segera keluar. Payung ungu di tas yang kubawa dari rumah sengaja tak kujamah. Aku tidak peduli tatapan mata penuh keheranan dari setiap orang yang berpapasan denganku sepanjang jalan. Aku tidak peduli apakah pulang nanti mamahku akan memarahiku, toh aku bukan anak kecil yang harus dijaga setiap waktu.

Aku bahkan hampir 27 tahun dan mungkin sekarang aku sedang mengandung buah dari cintaku, seandainya aku jadi menikah dengan Deva. Ah, mengingatnya saja masih begitu nyeri untuk aku rasakan. Kugenggam erat sebuah bungkusan yang kubawa sedari tadi. Bungkusan berisi sebuah benda yang selama setahun ini kurawat dan kujaga setengah mati, tak jarang kuajak bicara seolah-olah dia bernyawa. Berkali-kali orangtuaku berusaha untuk membuangnya. Pernah sekali waktu aku memergoki mereka berusaha untuk membakarnya di halaman belakang rumah. Aku berteriak-teriak dengan histeris sembari merampas benda itu dari tangan Papa, aku tidak rela, aku tidak sanggup melepas benda itu. Mereka tidak pernah tahu betapa merananya hatiku, betapa setiap hari yang kulalui begitu sunyi. Aku seperti mati, meski ragaku masih betah untuk tinggal di dunia ini.

Begitu terikatnya aku dengan benda yang kubawa ini bukan tanpa alasan. Karena bagiku benda ini adalah jembatan kenanganku tentang Deva. Aku sadar, aku begitu egois dengan sikapku selama setahun ini. Setahun hari-hariku kujalani dengan penuh amarah, aku marah kepada perempuan dan bayi dalam kandungannya yang menyebabkan aku dan Deva harus berpisah, dan terutama aku marah pada Tuhan, kenapa aku harus mengalami semua penderitaan ini di mana aku dan Deva nyaris mengikat janji. Kenapa?!

Kuseka air yang mengalir di pipiku, entah itu air hujan entah itu air mataku. Kupeluk erat benda yang kubawa ini, begitu berat memang keputusan yang kuambil kali ini. Aku akan melepasnya, melepaskan benda yang tidak akan membawaku kemana-mana, benda yang hanya akan membawaku ke satu tempat, yaitu kenangan pahit nan menyakitkan.

Akhirnya aku sampai di rumah Deva, aku berlutut di depannya. Aku bersihkan rumput-rumput yang tumbuh disekitarnya. Perlahan kukeluarkan benda yang kubawa dan kuletakkan di samping rumahnya.

“Deva, maafkan aku yang begitu egois menahanmu dalam kenangan hatiku. Seharusnya dari dulu aku melakukan ini, melepaskanmu dengan ikhlas. Bukan salah perempuan yang sedang hamil itu, dia bahkan menyeberang di tempat dan saat yang benar. Kita yang terlalu bahagia karena seminggu lagi akan mengikat janji asyik bercanda di atas roda dua tanpa sadar traffic light menyala merah. Kamu yang panik berusaha menghindari perempuan itu hingga akhirnya kita tertabrak mobil yang lewat. Seketika itu segalanya gelap, saat aku tersadar ternyata aku sudah koma selama sebulan. Aku bahkan tidak mengantarmu saat pemakamanmu, saat itu aku begitu marah pada Tuhan kenapa tidak membawaku serta bersamamu.

Tapi Deva, sekarang aku tidak marah lagi pada siapapun dan terutama pada Tuhan. Aku sadari segala yang terjadi sudah digariskan. Cukuplah setahun ini aku terbelenggu amarah dan kecewaku akan hidup. Karena itulah aku datang membawa serta benda yang hanya akan menambah lukaku jika tak kulepaskan. Pigura kayu yang kita pesan hari itu di Galerry 88, pigura yang seharusnya berisi foto pernikahan kita. Aku tinggalkan di samping rumah istirahatmu ya, biarlah pigura ini melapuk bersamamu dan kenangan tentangmu. Aku akan melanjutkan hidupku meski tanpamu, aku tidak akan meratapi lagi. Aku hanya akan membayar hutangku pada hidup yang sudah kusia-siakan selama setahun ini. Semoga kamu tenang di sana sekarang”

“Venia..” Aku hendak beranjak pergi ketika sebuah suara memanggilku, aku berpaling ke arah suara yang memanggilku, seorang lelaki berdiri dengan senyumnya yang begitu mendamaikan.

“Mas Bagus..?!” pekikku, dan akupun tersenyum padanya.

Tuhan selalu punya rencana yang lebih indah bukan? dan aku mempercayainya.

***

note: ditulis tanggal 121212, dari pukul tujuh sampai sembilan malam kurang lima menit. Sepulang dari studio foto dan tetiba cerita ini melintas begitu saja di kepala. Selamat menikmati dan semoga berkenan di hati🙂

‘Ne
-hanya sekedar menuruti imaji yang kadang tak mengenal situasi-

Single Post Navigation

51 thoughts on “Pigura Kosong

  1. Jadi kapan episode Bagus dan Venia diterbitkan ?
    Ditunggu lho…🙂

  2. superb, a twisted story. Sama sekali nggak nyangka kalau plotnya seperti ini ^^

  3. Kurang menggigit, Ne. Apa mungkin karena terburu2 nulisnya?

    • Nah akhirnyaa haha.. iya mbak memang benar saya sendiri masih merasa ada yg kurang..
      Ya itu tadi cerita ini terlalu cepat bukan cepat bikinnya tapi cepat ceritanya.. ada juga yang berpendapat sama dengan mbak Ika kok.. bisa jadi masukan buat saya mbak..

      Terima kasih😀

  4. Manusia boleh punya rencana, tetapi Tuhan pun punya rencana lain sehingga Dia yang bebas menentukan dan melaksanakan rencanaNya itu. Sudah pasti apa yang digariskanNya selalu ada hikmah yang tidak kita ketahui.

  5. mas Bagus itu siapa ya mbak, kok kelihatannya Venia surprise banget lihat dia ? .. ada lanjutannya ndak ya cerita ini , pasti seru mbak kalau dibikin bersambung *ngarep*

  6. memang seharusnya tidak menyalahkan Tuhan ya

  7. tetiba pengen lepas menulis fiksi seperti ini, kayaknya alurnya lepas gitu aja🙂

  8. Kirain siapa perempuan hamil itu.. Ternyata orang nyeberang jalan, toh…

  9. Teguh Puja on said:

    Serupa menghilangkan agonia yang sempat begitu kuat membebat jiwa, ikhlas adalah jalan terbaik.😀

  10. dokterleonardo on said:

    🙂

  11. Hehmm menyimak🙂
    ini fiksi atau fakta?

    • Terima kasih mas..

      Ini murni fiksi, imajinasi.. inspirasi datang saat saya ke studio foto menemani sahabat yg mencetak foto pernikahan. Sepanjang jalan pulang tiba2 sekilas ceritana terlintas..🙂

      • Wuichhhh
        Bikin novel donk🙂 Atau cerita bersambung kayak lagu lagu kemarin itu lho..
        Jadi keingetan, dulu ayat-ayat cinta itu menurapakn novel series yang dimuat seminggu sekali di koran republika sebelum dibukukan. Tiap jadwal cetaknya temen2 kontrakan pada rebutan pengen baca, setelah itu baru di novelkan lewat buku🙂

  12. Setahun terbelenggu amarah dan kecewa, hmm…. ngebayangin saja rasanya capek banget ya….

    # keren ceritanya Mbak.

  13. Ceritanya ga ketebak. Banyak kejutan..

  14. -hanya sekedar menuruti imaji yang kadang tak mengenal situasi-

    imaji emang enggak sadar waktu kak kalo mau muncul. saya pas uas aja, enakenak ngerjain malah tiba-tiba ada ide melintas di kepala. jadi kepecah konsennya:mrgreen: ihihi

  15. wow….
    *sambil koprol*
    (eh… korban iklan banget ya)

    suka…suka….suka….

  16. pigura dan hujan, dan seulas senyum..
    menjadi untaian cerita indah oleh perangkai kata ..🙂

  17. Mbak ini kalau bikin cerita sukanya belok tanpa kasih sign…
    Yang baca jadi gelapan…😀

  18. lupakan masa lalu songsong hari esok dengan penuh semangat….

    keren mbak Ne….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: