Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

#2 Hujan Merindu Bhumi


Menyenangkan sekali ketika ada saat untuk tidak bertemu dengan kekasih hati, rasa yang tertunda itu menumbuhkan rindu. Seperti sekarang ini sudah hampir seminggu aku dan Bhumi tidak bertemu. Belakangan Bhumi memang agak sibuk dengan tesisnya jadi akupun bisa memakluminya. Meski kami berdua masih bisa saling mengabari melalui sms ataupun ngobrol sebentar di telepon. Tapi tetap saja berbeda dengan sebuah kehadiran. Rasanya tak sabar ingin bertemu, tapi aku sangat menikmati saat-saat aku begitu merindu.

Kuambil Ipod yang tergeletak di meja, kubawa ketempat tidur lalu kupasang headset dan sengaja ke putar lagunya Incubus yang berjudul I Miss You versi akustiknya berulang-ulang. Suara bening dan maskulin dari Brandon Boyd memang tidak akan pernah membosankan. Selagi aku mendengarkan lagunya sembari kubuka-buka kotak pesan masuk di ponselku. Membaca satu persatu sms-sms Bhumi. Aku tersenyum dan tertawa-tawa sendiri dibuatnya. Inilah salah satu keisenganku, membaca kembali sms-sms dia saat aku merindunya. Memang dia bukan jenis orang yang mengirim sms puitis bak pujangga, tapi kata-katanya selalu mampu menghiburku dan membuatku tertawa dengan lelucon romantis ala dia, dan rasanya aku tepat bertemu dengannya karena aku orang yang suka sekali tertawa.

Memang ada banyak perbedaan antara aku dan Bhumi dan tak jarang pula kami sering saling bersitegang. Tapi prinsip kami tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan, intinya adalah komunikasi dan mau saling mendengarkan, sehingga kami selalu mampu menyelesaikannya dengan kepala dingin. Bagi kami, perbedaan ada bukan untuk disamakan tapi sebagai pembelajaran untuk saling mengerti dan menghargai satu sama lain. Diantara perbedaan-perbedaan itu ada hal yang menyatukan kami berdua, yaitu musik dan kami juga sering mengungkapkan perasaan dengan musik.

Masih aku ingat, pernah kami sedang dalam keadaan tidak bertemu seperti sekarang ini dan entah siapa yang memulai saat itu, aku sendiri lupa, tapi dari yang awalnya hanya sms sekedar menanyakan kabar akhirnya berlanjut dengan saling mengirim potongan-potongan lirik lagu. Setiap lirik lagu yang dikirimkan adalah ungkapan perasaan kami berdua, dan saling berbalas bergantian dengan lagu yang berbeda-beda. Pokoknya seru dan menyenangkan, disaat tak bisa bersua dan kehabisan kata-kata akan selalu ada lagu yang bisa mewakilinya. Setelah itu kami akan berbicara di telepon dan membahas lagu-lagu tersebut sembari tertawa bersama. Kedengarannya seperti kurang kerjaan, lebaynya anak abege. Tapi sesekali melakukan hal seperti itu lucu juga, perlulah untuk menghangatkan hubungan.

Disela keasyikanku melamunkan dan mengenang Bhumi, tiba-tiba terdengar suara Syaharani menyanyikan Careless Whisper dari ponselku.. Aku tahu siapa yang menelponku.

“Bhumi! panjang umur..” kataku seketika saat kuangkat telponnya.
“Kenapa? nona hujan lagi kangen ya sama Bhumi?” ledeknya seperti biasa.
“Yee nggak kebalik tuh, ini kan lagi musim kemarau  jadi pasti Bhumi dong yang kangen sama hujan” jawabku nggak mau kalah.
Setelahnya, obrolanpun mengalir seperti biasa, tentang banyak hal tapi lebih banyak justru tentang proyek musiknya dan janji kencan di hari Minggu, ah lebih tepatnya bukan kencan tapi datang ke acara musik di taman kota. Tetap menyenangkan bagiku.

Bicara soal kenapa dia suka memanggilku nona hujan bukan tanpa sebab sebenarnya. Semuanya berawal dari keisengan kami saat berkenalan pertama kali dulu. Kami berdua iseng mengartikan nama kami masing-masing. Saat itu kami hanya berpikir ini semua sebuah kebetulan karena ternyata bagian dari nama kami berhubungan dan memiliki makna yang sama. Warih Bhumintara Widodo nama lengkapnya, jika dijabarkan artinya, Warih berasal dari Bahasa Jawa yang berarti Air, Bhumintara artinya penjaga bumi dan Widodo artinya selamat. Sedangkan namaku Marta Varsha Nindita artinya, Marta dalam Bahasa Jawa berarti air, hidup, atau jernih dan Varsha berasal dari bahasa Hindu yang berarti hujan, Nindita dalam bahasa Jawa berarti unggul.

Bagiku ini bukan hanya sebuah kebetulan, tapi seperti ada benang merah yang mempertemukan aku dan dia. Jika aku bersamanya, itu seperti air dan hujan menjaga berlangsungnya kehidupan di bumi, mengingat bahwa air adalah salah satu sumber kehidupan. Bisakah aku dan dia menjadi sumber mata air yang jernih bagi kehidupan sekitar terutama bagi aku dan dia? Ah semoga saja ini menjadi doa yang baik.

Aku beranjak dari tempat tidur menuju ke meja di sudut kamar, kunyalakan Laptop dan membuka folder Bhumi, dan aku mulai melanjutkan novel yang sedang aku tulis: Cerita Cinta Bhumi dan Varsha.
***

Note: Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang Bhumi dan Varsha, semoga selalu bisa menemukan ide untuk melanjutkannya, Selamat menikmati dan semoga berkenan di hati🙂

‘Ne..

Single Post Navigation

12 thoughts on “#2 Hujan Merindu Bhumi

  1. wow incubus
    cocok ma suasana mereka berdua wkwkwkw:)

  2. Pingback: Day #15. MSC: Together Forever (Cerita Lain dari Bhumi dan Varsha) « Selaksa Kata

  3. Sips.., cerita selanjutnya saya tunggu loh..:mrgreen:

  4. ditunggu cerita selanjutnya dah🙂

  5. Yang bikin nama pinter, maknanya keren gitu😀

  6. nona hujan tolong turunkan hujan ke bumi ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: