Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Sehangat Serabi Solo


 

Kota dengan tagline The Spirit Of Java ini memang menjadi salah satu pilihan untuk kukunjungi jika aku ke Jogjakarta, karena jarak antara Jogjakarta ke Solo kurang lebih hanya sekitar satu jam saja. Tapi kali ini aku langsung dari Purwokerto menuju Solo dengan naik kereta ekonomi Logawa pagi, aku pergi sendirian, tanpa Bhumi. Sengaja kupilih kereta karena aku memang suka sekali menikmati romansa dan suasana di  kereta, menyaksikan banyak asongan lalu lalang, pengamen dan tentu saja pemandangan sepanjang jalan.

Sebenarnya kedatanganku ke Solo juga untuk menyusul Bhumi, seperti biasa Bhumi dan temannya di undang untuk main dalam sebuah event di sana. Karena aku masih ada sedikit urusan jadi aku menyusulnya, tidak menyaksikan aksi panggungnya memang, tapi kami berencana untuk jalan-jalan di Solo.

Tuuutt.. Tuuut.. Tuuutt..

Aku mencoba menelpon Bhumi mengabarkan kalau aku sudah sampai di Stasiun Klaten, itu berarti tinggal seperempat jam lagi sudah sampai di Stasiun Balapan Solo.

“Ya Halo” suara lembut di seberang menjawab. lho kok bukan suara Bhumi?

“Maaf ini siapa dan Bhumi mana ya?” tanyaku penasaran.

“Oh kebetulan Bhumi masih lagi main, soalnya tadi jadwal agak molor juga dan tadi dia sempet menitipkan tasnya padaku, karena takut penting jadi teleponnya kuangkat. Ini Varsha bukan?” aku sedikit gelisah, tidak biasanya Bhumi menitipkan tasnya pada teman perempuan. Biasanya juga ada di dalam mobil dengan barang-barang yang lain.

“Iya, tolong kasih tahu Bhumi ya kalau sebentar lagi aku sampai. Tapi kalau dia masih lama biar aku ke sana naik kendaraan umum saja”

“Oh okay, nanti kusampaikan”

Setelah menutup telepon, aku jadi sedikit gelisah. Suara perempuan tadi belum pernah kukenal sebelumnya, teman-teman Bhumi semuanya hampir aku tahu. Sepertinya aku mulai terusik curiga, kenapa juga tadi aku gak nanya dia siapa.

Mbak’e, sudah sampai, itu Pasar Klewernya di depan sana?” dengan logat khas medhok jawanya, supir angkot menyadarkanku dari lamunan.

Aku sengaja menunggu Bhumi di depan Pasar Klewer. Katanya lokasi eventnya dekat Pasar Klewer jadi Bhumi memintaku menunggunya di sana saat dia menelponku balik tadi. Sembari melepas lelah aku memasuki sebuah kios kecil tempat menjual aneka jajanan pasar, ramai, jadi kuputuskan saja untuk menunggu di sana. Aku memesan kue serabi, salah satu jajanan kesukaanku selain getuk goreng.

Dari dalam kios aku melihat Bhumi dan teman-temannya di luar, aku melambaikan tangan dan kulihat juga seorang perempuan tak kukenal. Aku semakin gelisah, semakin mereka mendekat ke kios semakin jelas aku melihat perempuan itu, cantik. Bolehkan kalau aku jadi agak sedikit cemburu? Aku berusaha untuk tetap tenang.

“Syukurlah kamu sampai dengan selamat Sha, sedikit khawatir juga takut kamu nyasar tadi, mengingat hobi melamunmu itu lho” belum juga aku menjawab eh ibu penjual serabi nyeletuk duluan “Iyo tu mas, mbak’e ngelamun saja dari tadi, ndak sabar nunggu klangenane jarene” dengan gaya meledek ibu itu membuat semua yang ada di kios tertawa. Aku hanya bisa senyum-senyum saja, malu juga.

“Oh iya Sha, kenalin ini Shanti yang tadi ngangkat teleponmu. Tunangannya si Doni.” seketika aku malu sendiri dalam hati, ternyata tunangan Doni si vokalis. Konyol sekali aku. Untung saja aku belum sempat menanyakan pada Bhumi, semoga saja  dia tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku tadi. Jadi merasa bersalah sudah mencurigainya.

“Ayo, ayo berhenti dulu ngobrolnya, monggo lho disambi serabinya mumpung masih anget” si ibu penjual serabi datang menghidangkan serabi yang baru saja matang. Tanpa basa basi kami semua mencomot serabinya dan memakannya sembari ngobrol dan bercanda, membuat kios menjadi riuh oleh kami semua. Kebetulan di luar turun hujan, jadi cocok kala hujan makan serabi hangat. Begitu juga dengan hatiku, sehangat serabi Solo di tanganku, karena di sebelahku ada dia kekasih hatiku, Bhumi.

‘Ne..

-maafkan dengan keterbatasan dalam cerita ini hihi🙂 selamat menikmati hangatnya serabi😀

Single Post Navigation

24 thoughts on “Sehangat Serabi Solo

  1. “klangenane” tu apa artinya?

  2. jadi pengen serabi yang ada nangkanya nih mba Ne’..🙂

  3. aku juga mau dong, serabinya…..

  4. solo memang keren kotanya walau masyarakatnya tidak sekondusif jogja
    tapi kalo melihat posisinya di jawa tengah, terasa banget perbedaan solo dengan kota-kota atau kabupaten lain khususnya dalam halprasaran jalan

    #cerita srabi kok jadi ngomongin jalan..?

  5. apapun lah… kalau di dekat orang yang disuka, semua terasa indah
    termasuk menyantap serabi Solo😀

  6. kunjungan pertama nih,,,

    slaam kenal ya

  7. akhirnya terjawab juga kecemburuannya ya🙂 serabinya aku gak kebagian nih mbak

  8. aeehh…ada yang cemburu ni yee…hahahha :p
    ojo ngelamun bae mba yu, ntar kesambet cowok ganteng #lho😀

  9. hahahhahha.. cemburu ni yeee…
    sama seperti Desi (kekasihku) dia jg sering begitu. Curiga sampai cemburu berakhir malu.
    wanita begitu yah😀

  10. Ahhh…kalau ngomongin Jogja dan Solo tak ada habisnya…selalu hangat dan banyak kenangan. Cita-cita hari tuaku yang ingin tinggal di antara slah satunya😀

    • betul gak akan ada habisnya hehe..
      dulu juga pernah punya cita-cita tinggal di Djokdja
      tapi setelah dipikir2 pengen di Purwokerto aja lebih adem..
      dan Djokdja akan selalu menjadi tempat untuk dikunjungi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: