Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Sepanjang Jalan Braga


 

“Bhumi, kapan kita touring lagi? setelah terakhir kita ke Dieng rasanya ingin ke tempat dengan suasana yang sedikit berbeda” tanyaku pada Bhumi. Saat itu kami berdua sedang menunggu datangnya pesanan di tempat makan favorit kami.

“Hmm kemana ya.. minggu depan aku ada acara sih bareng anak-anak di Bandung. Mau ikut?” timpal Bhumi sembari tangannya tetap sibuk memainkan aplikasi drum di Tabletnya.

“Ikuuutt. eh tapi acara apaan?” tanyaku antusias.

“Band kita di undang buat main di salah satu kafe di Braga” jawabnya kalem, kali ini Bhumi meletakkan tabletnya di meja. Sudah lelah rupanya dia. Bhumi yang seorang drummer memang sering diundang bareng bandnya untuk main dari satu kafe ke kafe dan satu kota ke kota lainnya.

“Braga?! waaahh asyiik donk, kita bisa menyusuri jalan-jalan sepanjang jalan Braga. Terus bisa foto-foto gitu di bangunan-bangunan tua di sana” aku semakin antusias ketika mendengar bahwa ternyata acaranya di jalan Braga, Bandung.

“Sekarang Braga udah lain sama yang dulu Varsha sayang.. Tidak banyak lagi bangunan-bangunan tua di sana, yang ada justru bangunan-bangunan dengan cita rasa modern. Tempat hiburan juga makin banyak. Selain itu.. di sana juga ada luka..” nada bicaranya terdengar sedih. Tidak heran, Bhumi memang pernah menghabiskan masa kecilnya di Bandung sebelum keluarganya pindah lagi. Pasti ada banyak kenangan tentang Braga pada masa kecilnya itu.

“Tapi masih asyik untuk jalan-jalan saat malam hari kok, asal kamunya gak kalap mata aja haha” Bhumi mencoba untuk menghibur ketika melihat ekspresi kecewaku mendengar penjelasannya tentang Braga saat ini. Selain itu aku juga ingin sekali bertanya padanya apa maksudnya dengan di sana ada luka. Aku yakin jika memang perlu baginya menceritakan padaku, suatu saat pasti dia akan bercerita dengan sendirinya, seperti biasanya.

***

“Varsha, kamu harus ingat, jangan sampai kamu kemana-mana. ok? aku mau kamu tetap ada dalam jangkauan pandangan mataku, di sini. Jadi selagi aku manggung kamu gak boleh pergi dari kursimu.” kenapa Bhumi begitu khawatir padaku? Kami memang sudah di Braga tepatnya di kafe dia manggung. Aku duduk di tempat yang sudah dia pilihkan untukku. Aku heran, tidak biasanya Bhumi sekhawatir ini dengan keadaanku, dia selalu percaya aku bisa menjaga diriku sendiri. Tapi demi ketenangan dia, baiklah aku menurut saja. Lagi pula aku tidak kenal siapapun di tempat ini.

Bhumi dan bandnya baru memainkan satu lagu ketika tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Aku teringat pesan Bhumi, tapi aku benar-benar tidak tahan lagi. Lagian cuma ke toilet inih gak akan jadi masalah. Aku pun beranjak dari kursiku, menuju ke toilet setelah bertanya pada pelayan. Keluar dari toilet tiba-tiba aku mendengar suara dentuman dan teriakan-teriakan di luar, refleks aku keluar. Aku mendekati orang-orang yang berkerumun, ternyata ada sebuah kecelakaan. Seorang gadis muda yang hendak menyeberang, tertabrak mobil.

“Varsha! Varshaa!” aku mendengar teriakan Bhumi jauh di belakangku, dari arah kafe. Aku melihat Bhumi mendekati kerumunan, di belakangnya juga teman-temannya ikut berlarian. Aku berusaha keluar dari kerumunan untuk mendekatinya tapi terhalang banyak orang yang sibuk lalu lalang. Aku melihat bhumi begitu kalut dan panik memanggil namaku. Hingga akhirnya dia menyibak kerumunan dan mendapatiku di sana, tanpa banyak kata dia langsung memelukku erat.

“Bhumi, maaf aku tidak menuruti kata-katamu”

“Sudah kubilang jangan pernah beranjak dari kursimu! Aku hampir gila mencarimu dan tidak mendapatimu di kafe tadi!” Bhumi begitu marahnya padaku, belum pernah kulihat dia sekalut ini sebelumnya. Aku hanya bisa terisak meminta maaf.

“Varsha, maaf aku tidak bermaksud buruk padamu. Aku..aku hanya tidak ingin kehilangan perempuan yang paling kucintai untuk kedua kalinya..Aku tidak mau kehilanganmu Varsha”

Aku hanya bisa menangis dan memeluk Bhumi dengan erat, aku sebenarnya sudah tahu dari papanya kalau Bhumi begitu trauma dengan jalan Braga, Mamanya meninggal karena kecelakaan di sini tepat di depan matanya.

Dalam hati aku berjanji, akan mengganti jalan Braga sebagai kenangan yang tidak lagi menyakitkan bagi Bhumi, dan sepanjang jalan Braga kami bergandengan tangan menikmati suasana malam, dengan lampu-lampu kota di kanan kiri jalan.

‘Ne..

-Cerita hari ke-5 akhirnya selesai juga, belum tahu akan jalan-jalan kemana lagi di hari ke-6😉 dan semoga bisa kembali berpetualang dengan senang. Selamat menikmati🙂

Single Post Navigation

11 thoughts on “Sepanjang Jalan Braga

  1. Dari tempatku tidak terlalu jauh. salah satu .jalan histori di kota Bandung

  2. mechtadeera on said:

    turut menanti jalan2nya esok hari..🙂

  3. Selamat melanjutkan perjalanan

  4. Jalan Braga …
    sudah lama saya tidak lewat sana …
    seperti apa bentuknya sekarang … ?

    Salam saya Ne

    • ayo Om Nh main-main ke sana..😀
      udah rame banget yang jelas:mrgreen:
      terakhir saya ke sana pas tugas kerja dulu, itu pun cuman lewat hihi..

  5. perasaan kakak suka make nama “varsha” yak ?:mrgreen:

  6. hiks sedihnya, pantesan Bhumi begitu menjaga Varsha ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: