Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Kerudung Merah


Danau Toba, Sumatera Utara

Kedatanganku ke Danau Toba ini sebenarnya bukan murni untuk mengunjungi nenekku yang kebetulan tinggal di Kota Parapat, itu hanyalah kamuflase dari alasan yang sebenarnya. Aku hanya ingin menenangkan diri, bukan berarti aku bersembunyi atau lari dari masalah. Tapi bolehkan sejenak rehat dari segala penat rutinitas di kota yang membuatku seperti robot tersistem. Sebagai seorang penulis novel terkenal pun aku bisa mengalami writer’s block. Novel terakhirku dikritik habis oleh editor penerbit yang mengontrakku. Mereka bilang tulisanku itu datar, bisa membosankan pembaca. Seperti tidak bernyawa katanya. Mereka hanya memberiku waktu satu bulan untuk merevisi atau menulis ulang draft novelku. Gawatnya, aku benar-benar sedang mati ide.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan dia, gadis misterius berkerudung merah. Aku tidak sengaja melihatnya di tepi danau. Sendirian, wajahnya begitu sendu dan terlihat rapuh. Meski ada kelam di balik matanya, tapi itu tidak mampu menyurutkan kecantikan wajahnya, dan aku terpesona.

Setiap sore aku selalu mendatangi tempat yang sama untuk melihatnya dan ternyata aku selalu beruntung karena dia selalu ada di tempat dan jam yang sama, juga dengan kerudung merah yang sama. Aneh? entahlah, setiap kali aku berusaha mendekatinya dan setelah sampai di tempatnya berdiri aku tak lagi mendapatinya di sana. Aku bertanya kepada petugas perahu keliling apakah dia melihat gadis berkerudung merah. Tidak, jawabnya. Begitu juga ketika aku bertanya dengan orang-orang di sekitar tempat itu dan jawabannya pun sama, tidak ada satupun yang pernah melihatnya.

Aku semakin terobsesi padanya, setiap sore  datang ke tempat yang sama, tidak perduli dia siapa, dan apakah orang-orang bisa melihatnya atau tidak. Aku terlanjur terikat dengannya, sembari memandanginya aku pun mampu mengalirkan tulisan demi tulisan dengan lancar di laptopku yang sengaja selalu kubawa. Aku pun menjelma menjadi tokoh dalam ceritaku sendiri, cerita yang berjudul gadis berkerudung merah.

Hingga suatu sore aku datang lagi dan dapat menyelesaikan draft novelku, baru saja kukirimkan ke editorku melalui email. Meski ini masih hari ke –15 tapi cerita itu sudah selesai kubuat. Gadis berkerudung merah menatapku dan lalu tersenyum mengangguk anggun. Bagai disengat lebah aku terkesiap, betapa cantiknya dia ketika tersenyum, senyum pertama yang kulihat sejak aku melihatnya. Aku kira dia tidak akan pernah tahu kehadiranku dan sembari berjalan perlahan dia seperti mengajakku serta. Ah bukan, sebenarnya akulah yang dengan suka rela mengikutinya hingga tanpa sadar aku meninggalkan tas dan laptopku di tepi danau toba. Dia berjalan perlahan, seperti melayang, langkahnya sangat ringan dan anggun, sesekali berhenti seperti menungguku mendekat. Hingga akhirnya aku sampai di dekatnya dan dia mengulurkan tangannya yang kusambut dengan segera. Seperti Mark Anthony yang terjatuh dalam pesona Cleopatra dan aku terjatuh pada pesona gadis berkerudung merah.

6 Bulan kemudian, Jakarta, Konferensi Pers

“Saya selaku editor di penerbitan ini ingin menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang begitu besar terhadap novel Gadis Berkerudung Merah. Saya mewakili perusahaan dan keluarga penulis ingin menyampaikan beberapa hal yang pasti sudah menjadi tanda tanya besar di benak kalian.”

“Novel dengan Judul Gadis Berkerudung Merah telah menjadi bestseller sejak 3 bulan pertama diluncurkan. Namun sayang sekali penulisnya yaitu Wisnu Pratama masih juga belum diketemukan hingga sekarang. Di tepi danau Toba dia menghilang dan tidak meninggalkan pesan apapun selain tas dan laptopnya. Hari itu adalah hari terakhir saat dia mengirimkan email draft novel Gadis Berkerudung Merah pada saya. Semua royalti hasil dari penjualan novel ini akan diberikan pada keluarganya. Terima kasih kepada seluruh pecinta karya-karya dari Wisnu Pratama, mohon doanya agar beliau segera diketemukan. Terima kasih dan selamat menikmati Novel Gadis Berkerudung Merah”

‘Ne

-menulis di detik-detik terakhir setelah pulang kerja, maaf masih ada kurang di sana sini dan selamat menikmati🙂

Single Post Navigation

27 thoughts on “Kerudung Merah

  1. kerudung merah itu alien😀

  2. lozz akbar on said:

    Apakah gadis berkerudung merah itu yang nampak di avatar? ah kurasa tidak, tak mungkin lah dia blusukan di danau Toba hihihi

  3. wah kirain penulis novelnya mbak ‘Ne sendiri. Sudah sempat aku cari di bagian ‘about’ kok ndak ada daftar karya novelnya. Ternyata kisahnya fiksi wisnu pratama. Jangan2 dia dibawa sama gendruwo🙂

  4. sudah hari ke-5 dan aku belum nulis cerita hari ke-4. Mampat idenya.

  5. baca ini jadi pengen ke danau toba😦

  6. ide yg menarik..😀

  7. kaya nyata mbak kisahnya

  8. lho kak, mati dong ? T.T

  9. aeh.. gak kalah menarik, tetep enak dibaca, ngalir, walaupun dikejer deadline :))

  10. mechtadeera on said:

    weleeh…katut to?…😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: