Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Semangkuk Bakso Tahu


Sore itu aku dan Bian duduk santai menikmati senja di alun-alun kota sembari ngeronde, itu istilahku dan Bian untuk minum wedang ronde, selain ngeronde salah satu kebiasaanku dan Bian adalah makan semangkuk bakso tahu, kalau yang terakhir ini sebetulnya kebiasaannya Bian. Kebetulan warung tenda bakso tahu itu ada di sebelah penjual wedang ronde dan tikar tempat untuk duduk pun bisa berbarengan.

Aku memesan segelas wedang ronde dan Bian memesan segelas ronde sekaligus bakso tahu. Aku dan Bian sedang asyik menikmati santapan sembari berbincang tentang banyak hal dari masalah kenaikan BBM, tentang Film The Raid yang baru saja diluncurkan, sampai masalah sinetron yang bertele-tele. Tiba-tiba ada sepasang suami istri yang sudah berumur, ikut duduk di sebelah kami. Mereka berdua tersenyum ramah pada kami, begitu juga aku dan Bian membalas senyuman mereka dan kembali dengan kesibukan kami.

“Rima sayang, ayo donk cobain deh” bian berusaha membujukku.

“Gak mau ah, kamu aja”

“Aku tahu kamu sudah beralasan berkali-kali kalau kamu itu gak doyan bakso tahu, tapi alasan kamu itu gak masuk akal”

“Aku gak suka, itu saja titik” kataku sedikit jengkel.

“Iya tapi bagaimana kamu bisa bilang gak suka kalau nyobain aja belum pernah?”

“Pokoknya aku gak suka sama tahu, jadi mau dibikin seperti apapun aku tetep gak suka”

Saat kami sedang asyik-asyiknya berdebat, tiba-tiba bapak yang tadi datang dengan istrinya ikut berkomentar

“Maaf nak, kalau bapak ikut campur, kebetulan bapak denger dan bapak juga punya pengalaman yang sama soal menangani orang yang tidak suka bakso tahu” katanya sambil menghadap Bian.

“Beneran pak, wah boleh donk pak bagi-bagi ceritanya, trus gimana cara membujuknya pak?” tanya Bian antusias, dia memang terobsesi untuk membuatku suka dengan bakso tahu.

“Saya tidak pakai cara yang aneh-aneh kok nak, waktu dulu saya juga seumuran dengan kalian, saya punya pacar yang kalau makan suka pilih-pilih, ini tidak suka, itu tidak suka, jadi susah kalau mau ngajak dia makan”

Aku pun ikut mendengarkan cerita si bapak, sambil sesekali melirik Bian yang sepertinya antusias sekali.

“Nah suatu hari saya yang memang suka sekali bakso tahu, mencoba mengajaknya dan harus berhasil membujuknya. Awalnya dia menolak terus, dengan alasan yang sama ketika saya ajak dia makan yang bukan kesukaan dia. Karena sudah sangat kesal dengan alasan dia saya pun tidak memperdulikan penolakan dia, saya tetap melajukan motor saya ke sebuah warung bakso tahu, tanpa bertanya padanya saya pun memesan dua mangkuk bakso tahu, satu untuk dia dan satu untuk saya sendiri”

Si bapak berhenti sejenak untuk minum dan lalu melanjutkan kembali ceritanya.

“Setelah pesanan datang, saya cuma bilang begini padanya, makanlah, dia hanya menggeleng, lalu saya mengambil sendok dan menyuapkan padanya sembari berkata, kalau kamu sudah makan ini dan ternyata tidak enak, aku tidak akan pernah memaksamu lagi dan aku juga tidak akan makan bakso tahu lagi”

“Trus apa jawabnya pak?” tanya Bian tidak sabar.

“Dia tidak menjawab dan mencoba untuk memakannya, dan akhirnya satu mangkuk bakso tahu itu habis olehnya”

“Waah kira-kira apa ya alasan dia sampai akhirnya mau makan bakso tahu itu?” tanya Bian. Diam-diam dalam hatiku juga ikut penasaran.

“Silahkan tanyakan sendiri pada orangnya” jawab si bapak sambil tersenyum dan menunjuk perempuan di sampingnya, yang tak lain adalah istrinya.

“Oh, jadi Ibu yang diceritakan tadi? memangnya apa alasan Ibu mau menerima bujukan bapak, Bu?”

Ibu itu mengangguk dan tersenyum, lalu dia pun menceritakan semuanya.

“Memang yang dikatakan suami saya itu benar, dulu saya susah sekali kalau makan, apa-apa bilang gak doyan, padahal seringkali saya belum mencobanya sama sekali. Hanya karena sugesti saya sendiri yang sering berpikiran makanan ini gak enak, makanan itu gak bergizi, makanan anu gak higienis” Bian pun melirikku, aku tahu pandangan matanya seolah berkata kalau Ibu itu sama denganku.

“Hari itu saat suami saya memaksa saya untuk makan semangkuk bakso tahu, dengan cara seperti itu saya sadar, bagaimana bisa saya bilang tidak suka, padahal mencoba memakannya saja belum pernah, saya juga merasa sangat egois karena setiap kali makan selalu memikirkan apa yang saya suka saja, tanpa memikirkan dia juga mungkin ingin makan makanan kesukaannya. Bahkan dia rela untuk tidak memakan bakso tahu lagi jika ternyata setelah mencicipinya saya tetap tidak suka padahal itu adalah salah satu makanan kesukaannya. Saya melihat ada ketulusan di matanya, saya pun mau memakannya, sesuap demi sesuap saya makan sampai akhirnya habis.  Saat itulah ada kesadaran menyeruak dalam benak saya, saya sadar apa maksud dia sebenarnya. Bukan untuk menyukai apa yang dia suka, hanya untuk menyadarkan saya bahwa janganlah buru-buru menilai sesuatu yang kita belum tahu kebenarannya, dan nyatanya benar ternyata bakso tahu itu enak sekali lho” Si Ibu mengakhiri ceritanya sembari tersenyum manis pada suaminya.

Aku dan Bian saling pandang, dia hanya tersenyum dan menyuapkan sesendok bakso tahu padaku sembari berkata “mau coba?” aku mengangguk dan menerima suapannya, mengunyahnya perlahan takut tidak enak dan ternyata, benar kata si Ibu kalau bakso tahu itu ternyata enak. Tanpa basa basi aku pun langsung memesan semangkuk bakso tahu pada penjual bakso yang diam-diam ternyata mendengarkan perbincangan kami.

“Dijamin setelah makan bakso tahu saya, pasti ketagihan Neng” penjual itu berkata, dan disambut dengan tawa dari sepasang suami istri itu, dan juga Bian, aku pun ikut tertawa untuk menutupi sedikit rasa malu karena telah menilai tanpa mencobanya.

Akhirnya sore itu aku mendapatkan pengalaman dan pelajaran baru. Dalam hati aku berjanji untuk tidak buru-buru menilai dan bilang tidak sebelum mencobanya.

***

‘Ne..

ditulis di detik-detik terakhir Dead line, selamat menikmati🙂

Single Post Navigation

27 thoughts on “Semangkuk Bakso Tahu

  1. Dan…
    Bakso tahu pasti lebih sehat dan bergizi dibanding bakso daging…
    Selamat menikmati wedang ronde, selamat mencoba bakso tahu…

  2. saya gak suka baksonya,
    tapi please jangan dipaksa! hehe… (lebay deh puch)

  3. bakso tahu? jadi lapeerrr nih…

  4. hohoho….jadi kepengen nyicip bakso tahu si abang Ne’😀

  5. baksonya buat aku aja mbak hehehe. dulu aku gak suka lele loh mbak karena alasan yg sama diatas tapi sekarang suka sejak punya anak

    • iya ya mbak Lidya, wah kok bisa mbak? *bikin postingan aja:mrgreen:
      sampai sekarang ikan dan kawan2nya saya gak suka mbak, dengan alasan jelas tentunya hehe

  6. lozz akbar on said:

    mana..mana baksonya?

    lah terus saya siapa yang mau nyuapin? apa bapak tukang bakso aja yang saya suruh suapin🙂

  7. huaaaa romatis benjudh mbak ceritanya, hihihi. Ih pengen romantis kayak bapak2nya itu..

  8. laik thisss,,
    ne tuh keren banget kalau bikin cerpen
    *jempol*

  9. Bakso tahunya satu dong… Tapi nggak pake suap…😀

  10. coba dulu baru boleh bilang ga suka yah..hehe

  11. waahh ceritanya dalem..
    bagus🙂

  12. Romantis yang ga romantis…
    hihiihii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: