Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Drummer Pensiun


Teruntuk Kamu

My Partner, drummer yang sudah pensiun (terinspirasi dari preman pensiun hehe). Tiba-tiba teringat saat dulu sering menemanimu latihan dan manggung. Bisingnya suara musik saat itu terdengar asik-asik saja di telinga. Iya, mungkin itu efek dari jatuh cinta. Untungnya aku suka dengan acara musik live, karena mendengar lagu secara langsung itu sensasinya berbeda. Pertama kali ikut latihan, masuk studio jujur aku tidak paham sama sekali dengan lagunya. Musik metal sebelumnya asing buat aku, paling-paling musik rock, itupun juga modern rock yang paham, selebihnya kalau metal dan berbagai macam aliran di dalamnya benar-benar aku tidak paham. Aku tidak bisa membedakan apakah lagu A beraliran heavy metal atau B aliran trash metal dan lainnya masih banyak lagi. Tapi setelah mengenalmu aku sedikit tahu meski masih tetap tidak bisa membedakannya tanpa harus bertanya padamu. Setidaknya itu menambah sedikit pengetahuanku tentang musik.

Setelah menikah, kamu pelan-pelan meninggalkan duniamu itu. Tidak pernah ada larangan dariku, semuanya atas inisiatifmu. Aku sangat hargai, meski aku tidak keberatan jika kamu masih ingin sesekali bermain. Aku tetap suka. Tapi aku juga tetap menghargai keputusanmu, mungkin kamu ingin lebih memprioritaskan keluarga. Bagiku kamu adalah partner yang sangat bertanggung jawab dan sayang dengan keluarga. Itulah salah satu pertimbanganku memilihmu menjadi imamku.

Kini tidak terasa, dua tahun sudah kita melangkah bersama. Rasanya masih seperti baru kemarin saat kamu dan ayahku berjabat tangan saling melepas dan menerima beban tanggung jawab. Betapa waktu begitu cepat berlari dan banyak hal yang sudah terjadi tanpa kita sadari. Tapi sebaliknya, dua tahun juga bisa berarti baru kan, ya baru dua tahun kita melangkah bersama. Meski tidak sedikit drama, tapi tak sedikit pula bahagia tercipta. Kamu, dengan segala kesabaranmu membimbingku, dan semoga tidak akan pernah lelah melakukannya. Agar kelak kita bisa bertemu kembali di surga, bersama anak-anak kita.

Sayang, dengan surat ini aku hanya ingin berterima kasih untuk segalanya, terima kasih sudah memilihku dan melengkapi hidupku. Terima kasih untuk tetap setia membimbingku menjadi perempuan yang lebih baik.

 

Salam dan doaku selalu untukmu

‘Ne *teman hidupmu

 

 

 

Belajar Pada Lautan


Dear Laut

Barangkali aku harus belajar banyak darimu. Terutama belajar tentang kesabaran. Iya, aku tidak sedang bercanda, kesabaranmu tak berbatas, bukankah begitu seharusnya?. Kesabaran yang berbatas tidak lagi disebut sabar. Bukan tanpa alasan aku bilang kesabaranmu tak berbatas. Kamu mampu menampung segalanya tanpa keluhan. Apapun itu yang datang padamu kamu terima dan tampung semuanya. Segala rasa kamu simpan di palung-palung terdalam.

Barangkali, begitulah seharusnya menjadi perempuan. Mampu menampung segalanya, tanpa keluhan. Menyimpan segala rasa di palung hati terdalam. Tahu kapan harus disimpan dan kapan harus diungkapkan.

Laut, aku salut.

Salam dariku

‘Ne

Surat Pendek Untuk Calon Bukuku


Untuk Calon Bukuku,

Surat ini singkat saja. Tunggulah aku dengan sabar. Semoga akan datang waktu dimana aku mewujudkanmu menjadi nyata.

 

Salam Penulismu

‘Ne

 

Bapak Tua Penjual Roti


Kepada Pak Tua,

Maaf sebelumnya kalau saya hanya memanggil dengan sebutan Pak Tua saja, karena saya memang tidak tahu nama lengkap bapak. Surat ini juga tidak akan panjang. Saya hanya ingin berterima kasih sudah memberikan pelajaran berharga meski tanpa bapak tahu. Saya menulisnya selepas Bapak keluar dari kantor saya setelah saya dan teman saya membeli roti pada Bapak. Hari ini hujan, tapi tidak menghalangi bapak untuk berjalan keliling menjajakan roti.

Saya belajar tentang kesabaran, kegigihan dan konsistensi Bapak dalam mejalani profesi. Kita memang tidak kenal dekat hanya sebatas penjual dan pembeli. Hampir setiap hari Bapak datang ke kantor saya menawarkan roti, tanpa kendaraan dan berjalan kaki, dari satu kantor ke kantor yang lain dan dari satu toko ke toko yang lain, bahkan dari satu kota ke kota yang lain. Bapak lebih pantas dipanggil kakek, karena memang Bapak begitu renta. Untuk berjalan saja sudah sedikit membungkuk dan pelan, tetapi Bapak selalu dengan gigih menawarkan roti dari satu pintu ke pintu yang lain. Tidak pernah marah saat kami menolak untuk membeli, selalu tersenyum sambil berlalu. Besoknya Bapak akan datang lagi dan menawarkan kembali.

Saya malu, saya yang masih muda terkadang mengeluh capek harus kerja dari pagi sampai sore, dan terkadang harus pulang malam. Sedangkan Bapak harus berjalan kaki dengan dua tangan membawa dagangan kue-kue yang tidak sedikit, jarak yang jauh dari tempat tinggal Bapak sehingga terkadang harus naik bus. Saya salut sama Bapak, karena dengan usia senja yang seharusnya sudah duduk manis menimang cucu tapi masih harus berjuang untuk mendapatkan rejeki yang halal.

Saya hanya bisa berdoa, semoga Bapak diberi kesehatan agar Bapak masih dapat berjualan dan semoga dilapangkan rejekinya.. Aamiin.

 

Salam saya

‘Ne

Untuk Putri Kecilku, Shakila


Dear Shakila Khairunnisa Nuha

Tak terasa sudah satu tahun usiamu. Mamah sengaja menulis surat ini untukmu di hari ulang tahunmu yang pertama. Tidak ada kado dan hadiah apapun dari Mamah, selain doa yang Mamah panjatkan pada Tuhan. Mungkin kamu akan membaca surat ini saat kamu dewasa kelak.

Shakila Khairunnisa Nuha, ada untaian doa Mamah dan Papah dalam namamu. Meski awal kehamilan Mamah tidak berfikir bahwa bayi yang mamah kandung adalah perempuan, saat itu yang ada di pikiran Mamah itu adalah laki-laki. Makanya mamah tidak menyiapkan nama untuk anak perempuan, yang Mamah persiapkan justru nama anak laki-laki. Shakila yang artinya cantik,  Khairunnisa artinya sebaik-baik wanita dan Nuha artinya berakal, mamah berharap kelak kamu akan menjadi wanita yang solekha, pintar dan berilmu yang tentu cantik akan datang dengan sendirinya.

Mengandungmu adalah sebuah perjuangan. Delapan bulan setelah pernikahan, Alloh baru mengirimkanmu ke rahim Mamah. Takjub dan entah perasaan apalagi yang tak terdefinisikan. Jujur, ada rasa takut yang entah kenapa. Tiga bulan pertama kehamilan adalah masa-masa yang cukup berat, kondisi badan seperti tidak stabil, untungnya Mamah tidak merasakan mual-mual ataupun muntah yang berlebihan, hampir jarang sekali terjadi mual, jadi Mamah tidak perlu minum obat anti mual.

Memasuki kehamilan bulan keempat, datang cobaan cukup berat. Pada suatu pagi, menjelang akhir Bulan Agustus 2014, bangun dari tidur dan masih bercanda dengan Papah, tiba-tiba Mamah langsung ambruk. Saat itu bumi terlihat seperti jungkir balik, tempat tidur seperti terbalik sampai Mamah berpegangan erat-erat ke tepi tempat tidur dan berteriak-teriak memanggil Papah, rasanya seperti mau jatuh ke jurang. Setelah dibawa ke dokter ternyata kondisi Mamah drop sampai akhirnya Mamah terkena Vertigo. Kagetlah Mamah, karena seumur hidup Mamah tidak pernah terkena yang namanya Vertigo. Akhirnya dokter memutuskan Mamah harus istirahat total selama satu minggu. Untungnya itu adalah yang terberat sepanjang kehamilanmu. Setelah kejadian itu Alhamdulillah mamah tidak lagi merasakan sakit yang berat. Mamah beraktifitas seperti biasa, berangkat kerja pagi pulang sore, begitu seterusnya sampai usia kehamilan hampir delapan bulan baru mamah cuti.

Setiap interaksi denganmu di dalam perut adalah hal yang sangat menakjubkan saat itu. Setiap gerakmu, setiap denyutanmu selalu mampu membuat Mamah tertawa. Mamah sering mengajakmu berbicara, membacakan ayat-ayat suci, mendengarkan musik bersama dan bercanda dan kamu selalu merespon dengan lembut dan bahkan dengan tendangan kecil.

Sekarang di satu tahun usiamu, kamu sedang berlatih untuk berjalan sendiri, kamu sudah bisa berdiri sendiri dan melangkah satu dua tapak. kamu selalu berjoget saat mendengarkan musik dan lagu. Sudah banyak berceloteh, cerewet sekali seperti Mamah kecil katanya. Kamu juga sudah bisa meniru Mamah membaca, saat kamu pegang kertas atau buku kamu akan berpura-pura membaca, seperti saat Mamah membacakanmu dongeng. Mungkin saat kamu membaca surat ini, kamu sudah mewarisi buku-buku Mamah ya.

Shakila, betapa Mamah berterima kasih padamu, terima kasih sudah hadir dan memberi warna baru di kehidupan Mamah, Papah dan Mba Ivone. Doa Mamah, semoga kelak kamu menjadi wanita yang solekhah, amanah, barokah, pintar dan bermanfaat bagi orang banyak. Aamiin. Tunggu surat-surat berikutnya dari Mamah ya, sayang.

Peluk cium dari Mamah, love U.

 

 

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 678 other followers