Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Menularkan Virus [Membaca]


wp-1481099182865.png

Belakangan ini saya sedang suka posting foto buku di instagram atau biasa disebut bookstagram. Rasanya menyenangkan ketika kita bisa berbagi apa yang kita baca, apa yang kita dapatkan dan hal-hal lainnya. Lebih menyenangkan lagi saat postingan-postingan saya itu bisa membuat orang lain tertarik dan ingin membaca buku.

Begitu juga dengan postingan bookstagram saya yang akhirnya banyak membuat teman-teman saya tertarik dan penasaran dengan buku yang saya baca. Tentu saja ini awal yang baik, karena sering saya menawarkan untuk meminjamkan buku-buku saya untuk mereka baca, tapi pasti ada saja alasannya dari yang tidak ada waktu sampai yang memang tidak suka membaca buku. Tapi, dengan postingan bookstagram saya itu bisa membuat mereka tertarik.

Salah satu contoh temen saya yang akhirnya BBM saya selepas saya posting bookstagram dengan salah satu buku Tere Liye, dia langsung bilang penasaran dan mau pinjam baca bukunya. Antara seneng campur heran kok tumben banget temen saya ini mau baca buku, padahal dulu saat masih satu kantor, boro-boro dia mau pinjam, saya tawari pinjam pun dia tidak mau. Tapi setelah meliha bookstagram saya dia jadi tertarik, akhirnya dengan senang hati saya meminjamkan buku tersebut. Terselip harapan saya semoga dengan begitu dia jadi suka membaca buku, ternyata benar setelah buku yang dia pinjam selesai, dia langsung bilang mau pinjam buku lagi yang lain dan berencana untuk membeli buku juga. Senang sekali saya mendengarnya, dan tentu saja dengan senang hati meminjamkan buku-buku saya.

Bukan hanya pada satu orang saja tapi juga dengan teman-teman saya yang lain, mereka mulai meminjam buku-buku saya, ada teman kantor dan teman semasa kuliah juga. Ada kepuasan tersendiri buat saya karena akhirnya bisa menularkan virus membaca pada teman-teman saya.

Sebagai seorang yang cinta membaca buku, saya selalu ingin menularkan kesukaan saya dengan buku pada orang lain. Tidak terkecuali pada orang-orang terdekat saya, di lingkungan keluarga misalnya. Saya suka membelikan buku-buku cerita anak pada keponakan saya dan sekarang pada anak saya sendiri. Saya memangย  memberikan contoh secara langsung pada mereka untuk suka membaca buku, jadi pada saat saya membaca tidak jarang mereka juga ikut serta membaca. Terkadang saya yang membacakan cerita-cerita atau dongeng untuk mereka.

Rasanya ada kebahagiaan tersendiri saat saya bisa membuat mereka menyukai membaca, bisa meminjamkan buku-buku saya untuk dibaca. Seperti cita-cita kecil saya untuk membuka taman bacaan gratis bagi orang-orang sekitar dan siapapun yang mau membaca. Ah, semoga suatu saat keinginan itu bisa terwujud๐Ÿ™‚

 

‘Ne (fitrianelestari)

Lima Tahun Sudah


wp-1479459134599.jpeg

 

Lima tahun sudah umur Selaksakata, blog ini memang bukan yang pertama kali tapi semoga ini blog yang akan terus saya jaga sampai nanti. Sebelumnya sempat berganti-ganti blog dan platform juga tapi saya sudah merasa nyaman di sini. Blog dengan isi yang sangat beragam, tentang catatan random, tentang buku dan juga tulisan-tulisan fiksi bahkan satu dua puisi.

Bukan sekali dua kali saya hiatus dan membiarkan blog ini lama terbengkalai, tapi pada akhirnya saya selalu kembali lagi ke sini. Bukan semacam pelarian, memang tempat untuk mengekspresikan passion saya dalam menulis. Ibarat rumah maya, kemanapun saya berlabuh dalam akun-akun yang lain seperti Twitter, Facebook, Instagram dan yang lainnya muaranya adalah blog ini.

Saya mungkin tidak banyak menghasilkan sesuatu dari blog ini, hanya beberapa hadiah giveaway, beberapa antologi tapi juga banyak teman. Harapannya sih kedepannya saya bisa lebih rajin lagi menulis di blog ini dan ingin menulis sesuatu yang baru, tema yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Biar blog saya makin banyak manfaatnya, berbagi apa yang saya tahu dan pahami, menulis apa yang belum tentu orang lain alami.

Terima kasih untuk semua teman-teman blogger yang sudah singgah dengan sengaja ataupun tidak ke sini๐Ÿ˜€ semoga ada yang bisa bermanfaat untuk semuanya.

Happy blogging and keep writing yes!

 

‘Ne

 

Bersaing Dengan Sehat


poster

-gambar dari sini

Namanya usaha dagang pasti banyak sekali kompetitornya. Apalagi kalau barang yang dijual itu produk yang sama meski berbeda merk. Begitu juga dengan usaha yang sudah saya rintis, berjualan jilbab meski dengan merk sendiri tetap saja kita harus berkompetisi dengan penjual2 lain.

Membuka usaha sendiri tentu butuh orang lain untuk bekerjasama, baik konveksi ataupun pemasarannya. Bersyukur banget bisa bertemu dengan orang-orang baik di balik usaha ini. Awalnya saya memasarkan sendiri melalu akun BBM dan juga Instagram. Sementara ini saya belum bikin web sendiri untuk usaha saya ini, masih dalam proses.

Seiring berjalannya waktu satu persatu reseller mulai berdatangan untuk bergabung dengan saya. Lebih banyak reseller saya adalah dari luar Jawa. Alhamdulillah sampai sekarang terus bertambah reseller yang mau bergabung. Ada cerita yang cukup membuat saya sedih juga, ini cerita salah satu reseller saya.

Ceritanya namanya si A seorang pegawai TU di sebuah sekolah, dia bergabung dengan saya awal Juli. Pertama sih dia ambil sedikit untuk sampel, saat pengiriman pertama sampai dan hari itu juga dia langsung repeat order dengan kuota yang cukup banyak. Jilbabnya laku keras di sana. Begitu seterusnya barang sampai order lagi. Sampai suatu hari ada yang minta untuk menjadi reseller juga, namanya si B. Saat itu saya tidak tahu kalau B ternyata bekerja dalam satu sekolah yang sama. Penjualan si B pun berjalan dengan lancar, saya kirim, habis kemudian order lagi.

Sampai suatu hari si A curhat ke saya kalau si B jualnya matiin pasaran dia, si B jual dengan harga lebih murah dan menjelek-jelekkan si A kalau dia terlalu banyak mengambil untung, padahal harga dari saya sama saja, cuma si B berani ambil untung sedikit. Saya cukup mendengarkan dan tidak mau memihak siapapun, saya juga tidak bisa menghentikan si B untuk tidak ambil lagi ke saya, itu sama saja saya juga menutup jalan rejeki orang. Tapi di sisi lain saya juga tidak setuju jika salah satu dari mereka berjualan dengan saling menjatuhkan.

Akhirnya beberapa hari yang lalu Si A berpamitan kepada saya, dia menyampaikan kalau setelah order yang terakhir dia berhenti, maksudnya dia tidak lagi menjual jilbab dan beralih ke kosmetik. Saya pun tidak bisa mencegahnya, meski agak sedih juga harus kehilangan salah satu reseller. Tapi, ternyata dia sudah mempersiapkan penggantinya yang menggantikan dia untuk melanjutkan jual jilbab. Memang saya tidak kehilangan pelanggan karena setelahnya pun masih ada beberapa lagi yang mendaftar menjadi reseller saya. Saya hanya menyayangkan kenapa sama-sama berjualan tapi harus saling menjatuhkan. Karena tidak perlu sampai begitupun kalau memang sudah menjadi rejekinya tidak akan kemana-mana, tidak akan tertukar dan akan sampai juga ke yang berhak.

Hal ini menjadi pelajaran juga buat saya, menjadi reminder agar saya berbisnis dengan jalan yang benar agar mendapatkan rejeki yang berkah. Dalam akun instagram saya pun sengaja tidak mencantumkan harga karena untuk menghargai reseller-reseller. Ternyata menjalani usaha itu ada banyak ceritanya, ada-ada saja yang terjadi. Tapi semua tetap disyukuri sebagai bagian dari usaha yang dijalani. Ibarat masak, kurang sedap kalau tidak lengkap bumbu-bumbunya, ya kan๐Ÿ˜€

Kira-kira ada yang punya pengalaman kayak saya?

Melangkah Dengan Nyaman


img_20160105_075205-picsay.jpg

Kemanapun tujuannya, pastikan langkah kita harus nyaman terlebih dahulu. Jika langkah kita sudah nyaman niscaya akan lebih mudah untuk sampai pada tujuan. Saat kita harus pergi kemanapun tentu kita menggunakan alas kaki, entah itu sepatu atau sandal. Sebelum pergi kita tentu menyesuaikan sepatu atau sandal apa yang akan kita pakai, yang cocok dan terutama yang nyaman. Seperti apa sepatu/sandal yang nyaman? yang tidak menyakiti kaki saat melangkah, tidak membuat lecet, tidak terlalu kekecilan dan tidak terlalu kebesaran, agar tidak menghambat langkah kita nantinya.

Bagi saya pribadi nyaman menjadi pilihan utama, dan jujur saja sandal/sepatu hak tinggi tidak pernah bisa membuat saya nyaman. Makanya sepatu dan sandal hak tinggi saya semuanya rusak hanya karena tidak pernah dipakai. Akhirnya sekarang saya tidak pernah membeli jenis hak tinggi lagi hehe. Kebetulan saya kerjanya di bagian back office jadi tidak harus menggunakan sepatu hak tinggi tapi sepatu flat biasa. Kalau untuk bepergian jauh saya lebih nyaman menggunakan sepatu daripada sandal, dan sepatu andalan saya adalah Converse Chuck Tylor All Star Shiny Stars HI warna Emerald Gold. Sepatu ini dibeliin sama si partner bukan dalam rangka apa-apa kayaknya waktu itu saya agak lupa hehe. Saya memang suka dengan sepatu jenis sneakers gitu, dan kenapa si partner memilihkan sepatu itu buat saya ya karena bagus dan unik aja katanya๐Ÿ˜† eh tapi karena saya memang suka. Selain itu karena Si partner sendiri pecinta Converse jadi saya dan anak-anak pun ikutan pula.

Tidak mau membahas soal sepatu di atas lebih jauh, intinya jika kita sudah suka maka kita akan nyaman menggunakannya, jika sudah nyaman maka kitapun akan melangkah dengan mantap dan yakin. Begitu juga dalam kehidupan, kemana kita akan melangkah dan dimanapun tujuannya kita harus memikirkan matang-matang apa yang harus dipersiapakan sebelum terlanjur melangkah. Misal jika kita akan menikah, sebelum kita melangkah menjalani pernikahan pastinya terlebih dahulu kita harus menemukan pasangan yang pas dan yang membuat kita merasa nyaman. Nyaman dalam hal ini tolak ukurnya tergantung setiap pribadi masing-masing yah, tapi yang penting juga adalah yakin. Ketika sudah merasa nyaman dan yakin dengan langkah yang kita ambil, apapun rintangan di tengah jalan akan bisa dihadapi dengan baik dan semoga sampai ke tujuan. Ibarat sepatu, partner yang membuat nyaman juga sangat penting saat kita akan melangkah dalam pernikahan. Jangan sampai salah pilih dan jangan ragu, penting juga mendengarkan pendapat orang-orang terdekat kita terutama orang tua.

Jadii, sudah siap melangkah?

 

‘Ne

#30HariMenulisAgustus hari ke-12

*foto diambil oleh si partner

Hari Perenungan


Delapan Agustus, tanggal dimana pertama kali saya mengenal dunia. Saya terlahir dari seorang perempuan yang sangat keibuan. Perempuan yang mendedikasikan seluruh hidupnya demi keluarga. Barangkali memang seperti itulah seorang Mamah.

Ada beberapa kisah berkesan yang saya dengar dari Mamah tentang saya di masa kecil. Saya adalah anak perempuan yang sudah begitu didambakan oleh Bapak dan Mamah. Sebelum saya lahir Mamah sudah terlebih dahulu melahirkan anak laki-laki, usia saya dengan kakak terpaut cukup jauh karena sebelum ada kakak saya, Mamah sudah dua kali mengandung dan keduanya keguguran. Jadi kakak saya adalah anak ketiga, setelahnya Mamah kembali harus kehilangan dua kali lagi sehingga kakak saya seperti anak tunggal.

Sampai usia kakak saya menginjak umur 6 tahun Mamah belum juga ada tanda2 hamil sampai akhirnya berniat untuk mengadopsi anak. Saat niat itulah Mamah saya justru dinyatakan hamil, yang kemudian lahirlah saya. Bukan main bahagianya Bapak dan Mamah saya saat itu. Terutama Bapak yang memang sudah sangat mendambakan untuk memiliki anak perempuan.

Saat umur saya 2,5 tahun hobi saya adalah memanjat pohon jambu depan rumah. Dengan hanya menggunakan kaus dalem singlet dan celana hampir setiap hari saya main di atas pohon jambu tersebut. Saat itu saya memang sudah memiliki adik perempuan jadi Mamah lebih banyak mengurus adik bayi dan saya yang sudah hisa main sendiri dibolehkan memanjat pohon jambu. Setiap ada yang lewat dan menegur atau menasihati saya untuk turun dari pohon pasti orang tersebut saya pelototin habis2an haha. Saya tidak mau disuruh turun, saya justru selalu membawa bantal saat naik dan saya gunakan sebagai alas duduk di dahan pohon jambu. Herannya saya sama sekali tidak digigit semut atau ulat, entah kenapa apa mereka pun sayang sama saya๐Ÿ˜€

Sekarang kelakuan saya saat kecil menurun pada putri kecil saya, Shakila. Shakila sekarang lagi suka memanjat apa saja, kursi, meja, rak buku dan apapun itu yang bisa dia panjat, tentu saja kelakuannya sering membuat saya jantungan.

Tidak terasa, sudah berpuluh-puluh tanggal 8 Agustus saya lewati. Dengan segala indah dan tak indahnya kehidupan yang saya alami, saya patut untuk bersyukur. Sangat bersyukur dengan semua yang pernah terjadi dan saya lewati hingga detik ini. Jika selama ini Mamah dan Bapak yang sudah mengorbankan segalanya demi saya, maka sudah sepantasnya kali ini saya yang harus berbuat sesuatu untuk mereka. Sekecil apapun adalah kewajiban saya membalas jasa mereka dan sebesar apapun tidak akan pernah tuntas saya membalasnya.

Karenanya di hari ini, hari di mana saya dilahirkan,hanya doa yang saya panjatkan pada Alloh SWT, semoga kedua orangtua saya senantiasa diberikan kesehatan dan kesempatan untuk beribadah lebih banyak, lebih khusyuk dan segera dapat ke rumah Alloh SWT. Aamiin.
Untuk saya pribadi, semoga saya mampu memanfaatkan sisa usia untuk lebih bermanfaat agar menjadi berkah untuk semuanya. Aamiin.

#30HariMenulisAgustus Hari ke 8

‘Ne

Post Navigation