8 Comments

[Review] Rumah Kertas


 

Judul Buku : Rumah Kertas
Judul Asli : La casa de papel

Penulis : Carlos Maria Dominguez

Penerjemah : Ronny Agustinus

Cetakan kedua, Oktober 2016

ISBN : 978-979-1260-62-6

Penerbit : Marjin Kiri

Blurb:

Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima : sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya!

Buku mengubah takdir hidup orang-orang. (Hal 1)

Seorang profesor dan dosen di Universitas Cambridge bernama Bluma Lennon meninggal dunia karena di tabrak mobil saat sedang membaca buku puisi karya Emily Dickinson.

Tokoh Aku, menggantikan posisi Bluma di Universitas tersebut. Suatu hari dia mendapati sebuah paket yang ditujukan untuk profesor Bluma. Ternyata paket itu berisi sebuah buku, yang sampulnya penuh dengan debu dan serpihan semen yang menempel pada bukunya.

Berawal dari buku itulah petualangan tokoh Aku dimulai, untuk menelusuri dari mana dan siapa pengirim buku tersebut. Dalam perjalanannya dia bertemu dengan bibliofil dengan segala kegilaannya.

Ada dua golongan bibliofil : pertama, kolektor yang mengumpulkan buku-buku langka hanya untuk pajangan tanpa dibaca. Kedua, kutu buku atau pecinta buku tulen yang rela mengeluarkan uang untuk mengoleksi atau membangun perpustakaan pribadi dan membaca semua bukunya.

Membaca buku ini seperti ikut merasakan apa yang mereka (bibliofil) rasakan. Bagaimana kecintaan terhadap buku membuat seseorang rela menghabiskan uangnya demi bisa membeli buku yang diinginkan.

Ada yang mati gara2 buku, ada yang lumpuh karena kejatuhan tumpukan koleksi bukunya, bahkan ada yang patah kaki karena jatuh saat hendak mengambil buku di rak perpustakaan pribadinya.

Mirisnya, buku-buku yang diagungkan, didapatkan dan dijaga dengan segala cara harus berakhir dengan tragis.

Agak sedikit tersindir dengan membaca buku ini hehe. Kadang kita memang terlalu berlebihan dengan buku-buku yang dimiliki. Lebih posesif atau tepatnya protektif dalam menjaganya. Tapi juga menjadi semacam hiburan saat memandangi rak buku yang penuh dengan buku.

Saya pribadi merasa masih dalam batas kewajaran, membeli dan membaca buku. Kadang prinsipnya beli dulu baru baca kemudian. Terutama saat bazar buku yang penting beli dulu mumpung murah daripada menyesal karena gak jadi beli. Akhirnya tumpukan tbr makin banyak, kadang sampai lupa juga belinya kapan tapi belum dibaca, beberapa masih bersegel juga. Tapi selalu lapar mata saat melihat deretan buku baru. Untungnya sekarang agak berkurang, minimal sebulan satu buku deh.

Menjaganya pun secukupnya, memberinya sampul dan pembatas buku. Tapi saya paling tidak suka jika ada yang membaca buku dengan melipat halaman sebagai penanda. Makanya saat ada yang hendak meminjam bukunya saya sisipkan bookmark jika di dalam bukunya belum ada bookmark bawaan. Dan tak lupa menitipkan pesan untuk jangan melipat halaman saat membacanya.

Wajarkan itu? Hehe. Jadi, kalian masuk golongan yang mana?

8 Comments

Rindu?


Saya agak bingung saat dapat tema “Rindu” mau menulis tentang apa. (Ya tentang rindu kali ‘Ne). Biasanya rindu berhubungan dengan pasangan, puisi dan juga fiksi. Tapi saya benar-benar sedang tidak bisa berfikir tentang hal itu.

Bukan berarti saya tidak punya rindu untuk keluarga, mungkin karena kami berkumpul bersama. Rindu teman-teman barangkali? Ah kami masih saling berkomunikasi.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa sih yang sedang rindukan saat ini. Bukan pada siapa melainkan apa. Dan jawaban saya ternyata lebih dari satu hehe.

Pertama, saya rindu jalan-jalan di toko buku. Merasakan dan membaui harum buku-buku yang berjajar seolah-olah memohon untuk dimiliki. Iya, lama sekali saya tidak membeli buku secara langsung di toko. Selain karena (lagi-lagi) soal waktu, tapi juga karena sudah banyak toko buku online yang bisa menyediakan buku tanpa kita harus keliling-keliling. Bahkan tak sedikit toko buku online yang sering memberi diskon. Meski begitu saya rindu untuk memilih dan menyentuh secara langsung buku yang mau dibeli.

Kedua, saya rindu wisata alam. Sudah lama sekali saya tidak melakukan traveling. Menikmati segarnya rintikan air terjun, berkejaran dengan ombak di pantai, atau segarnya udara perbukitan. Saya rindu, Β tapi waktu yang saya miliki tak mampu menggenapi. Padahal alam selalu memberikan berjuta inspirasi.

Ketiga, saya rindu dan selalu rindu untuk menulis. Menulis puisi? Tak bisa lagi. Menulis fiksi? Apalagi. Tapi setidaknya saya masih berusaha menyempatkan waktu untuk menulis di blog ini meski minimal 1 minggu 1 cerita. Setidaknya saya masih punya rumah maya untuk mengeluarkan sedikit kata-kata yang meletup letup di kepala. Draft atau catatan-catatan kecil masih biasa saya tulis di aplikasi memo di gawai saya. Entah sampai kapan akan berakhir menjadi sebuah cerita, atau justru hanya menjadi draft saja. Serba dilema.

Itulah hal-hal yang saya rindukan. Untungnya saya masih bisa membaca buku meski untuk menyelesaikan satu buku membutuhkan waktu yang lebih lama daria biasanya.

-fitrianelestari-

Untuk #1Minggu1Cerita Tema Rindu.

Catatan: gambar 1 dan 3 dari mbah google, gambar 2 koleksi pribadi.

3 Comments

To Be Read


Bulan April sudah hampir berakhir dan sisa TBR (to be read) saya masih belum selesai. Alasan klasiknya adalah waktu. Iya bukan berarti saya merasa waktu 24 jam itu kurang, tapi memang aktivitas saya belakangan lebih banyak menyita waktu yang ada.

Bulan April ini TBR saya ada 5 tapi baru 3 buku yang saya baca.Itupun yang sudah selese cuma dua aja, yang satunya baru setengahnya.

5 TBR saya adalah seperti yang terlihat di foto :

  1. Perfect Pain by Anggun Prameswari, yang reviewnya juga sudah saya posting di sini. Singkatnya berkisah tentang KDRT dan perjuangan korbannya.
  2. Karena Aku Perempuan by Trie Tea, hampir sama dengan buku no 1 di atas. Ceritanya tentang empat perempuan dengan masing2 kisahnya yang ternyata mereka saling terhubung. Salah satu kisahnya adalah juga tentang KDRT.
  3. Mimi Lan Mintuna by Remy Sylado, ini buku ke tiga yang saya baca di bulan ini, tapi belum selesai. Diawal bukunya si menceritakan tentang perempuan korban KDRT yang akhirnya pergi meninggalkan suaminya. Kisahnya berlanjut ke perdagangan perempuan.
  4. Twivortiare by Ika Natassa, belum dibaca sama sekali.
  5. Yasmin by Diyana Millah Islami, tentang perempuan yang berada di persimpangan keputusan antara memilih melanjutkan studi di pesantren atau tetap menjaga emaknya. Dan buku ini belum saya baca juga πŸ˜….

Biasanya dalam sebulan saya bisa menyelesaikan membaca sampai 4 atau 5 buku. Makanya di bulan April saya membuat Β tbr 5 buku. Apa daya waktu tak sampai untuk saya baca buku.

Masalahnya tepat di minggu kedua saya harus hijrah tempat kerja, dari unit ke cabang. Tentu saja dengan tanggung jawab pekerjaan yang lebih besar. Waktu yang saya gunakan juga lebih banyak untuk pekerjaan.

Meski begitu saya tetap berusaha konsisten setiap hari membawa buku yang memang sedang saya baca, dan buku itu adalah tbr saya yang ketiga Mimi Lan Mintuna by Remy Sylado. Setidaknya siapa tahu jika ada kesempatan bisa saya baca sedikit2. Misal saat saya harus melakukan tugas keluar kota, atau harus antri di suatu tempat yang membutuhkan waktu lama.

Tapii, terkadang godaan selalu saja ada. Buku yang sudah lama saya cari akhirnya bisa saya dapatkan juga. Saya beli di olshop dengan pengiriman yang cepat. Akhirnya saya tergoda untuk mulai membaca buku baru tersebut.

Yup. Rumah Kertas by Carlos Maria Dominguez yang pasti sudah dikenal dikalangan pecinta buku terutama Bibliophile. Karena novel tipis ini berkisah tentang mereka yang menggilai buku bahkan sampai ada yang tewas gara-gara buku.

Saya tergoda baca buku ini duluan karena selain tipis dan gampang dibawa kemana-mana di tas, juga karena sudah lama sekali ingin membaca kisahnya.

Jadi apa kabar tbr saya bulan April ini? Hehe begitulah, baru selesai dua buku dari lima buku yang harusnya dibaca πŸ˜…. Bagaimanapun juga kesenangan saya diusahakan tidak mengganggu apa yang menjadi kewajiban dan prioritas saya sehari-hari.

7 Comments

[Review] Novel : Perfect Pain


 

Judul : Perfect Pain

Penulis : Anggun Prameswari

Penerbit : GagasMedia

Cetakan : Pertama, 2015

ISBN : 979-780-840-8

Tebal : 315 Halaman

Blurb

Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati hati yang berani mencintai.

Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai.

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. karena sejatinya cinta tidak menyakiti.

Orang lain akan mencintaimu persis seperti caramu mencintai diri sendiri, Bi (Bunda Roem, Hal 189)

Bidari, seorang istri yang memiliki satu anak laki-laki bernama Karel. Perempuan yang tidak pernah merasa dirinya cantik dan berharga. Hal ini karena sedari kecil dia sudah mendapatkan didikan yang sangat keras dari ayahnya. Dididik dengan makian dan intimidasi, selalu salah di mata ayahnya, tidak pernah benar, tidak membanggakan dan stigma negatif lainnya yang dilekatkan padanya. Karena masa lalunya yang seperti itulah mengakibatkan Bi (panggilan Bidari) menjadi perempuan yang tidak mampu mencintai dan menghargai dirinya sendiri.

Rumah adalah tempat kau titipkan hatimu agar kau ada alasan untuk Pulang. (Hal 7)

Pelariannya dari rumah setelah lulus SMA dengan seorang Bram yang dianggapnya mencintainya menjadi sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Bi pikir Bram adalah solusi baginya sebagai tiket keluar dari rumahnya dan dari ayahnya. Nyatanya yang terjadi justru sebaliknya. Bram justru lebih menyakitinya lahir dan batin. Pukulan demi pukulan untuk kesalahan kecil sekalipun selalu Bi dapatkan. Bukan satu dua kali Bram melakukannya bahkan Bram selalu melakukannya di depan anaknya, Karel.

Jangan jadikan orang lain alasanmu bahagia atau sedih. Pada dasarnya manusia itu sendiri, kita lahir sendiri, mati juga sendiri. Jadi, jangan takut pada kesendirian (Sindhu, Hal 91)

Karel menjadi satu-satunya alasan kuat Bi untuk terus bertahan, bertahan hidup dan bertahan dari penjara pernikahannya. Dia harus tetap hidup demi Karel meski biru lebam fisik dan hatinya. Karel adalah kekuatan baginya. Sampai suatu hari Bram bukan hanya memukuli dirinya tapi juga Karel, dan nyaris membunuhnya. Saat itu kekuatan seorang Ibu yang akan melakukan apa saja demi anaknya membuatnya berani melawan dan memukul Bram yang sedang mencekik Karel. Sampai akhirnya mereka berhasil melarikan diri ke rumah sakit.

Setelah dirawat mereka ditampung oleh Sindhu, seorang pengacara muda yang khusus menangani kasus-kasus KDRT. Sindhu adalah kekasih Miss Elena, guru menggambar Karel dan Sindhu menjadi pengacara resmi Bi. Sindhu sendiri memiliki alasan khusus yang berhubungan dengan masa lalunya, kenapa dia mau membantu Bi dan Karel.

Setiap orang punya masa lalu, Bi. Hati manusia itu persis koper besar. Terus-terusan dijejali kenangan buruk, emosi negatif, rasa marah, semuanya. Makanya jadi berat, susah dibawa kemana-mana jadinya teronggok begitu saja. Biar enteng, Bi kita harus membuang semua yang memberatkan. Itu proses yang terus berjalan, nggak boleh berhenti. (Sindhu, hal 313)

Masalahnya Miss Elena (kekasih Sindhu) merasa keberatan jika Sindhu membantu mereka terlalu jauh. Apakah Bi dan Karel aman dan terbebas dari Bram? Bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Bacalah sendiri bukunya πŸ˜… 😁.

Ceritanya benar-benar bikin apa yah, banyak adegan yang membuat saya menangis dan sesekali menutup buku saking nggak kuat ikut merasakan sakitnya Bi. Nyesek banget rasanya.

Saya hanya tidak habis pikir apa yang ada di pikiran para lelaki yang melakukannya. Apakah mereka tidak membayangkan bagaimana jika Ibunya, saudara perempuannya atau bahkan anak perempuannya kelak diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Entahlah.

Tema KDRT sebenarnya sudah sering diangkat, tapi penulis menuturkannya dengan bagus, mampu mengaduk emosi pembaca, porsi tokohnya juga pas, endingnya juga memuaskan dan tidak memaksa. Pertama kali baca bukunya Mbak Anggun Prameswari dan jadi ingin baca karyanya yang lain.

Rating : 🌟 🌟 🌟 🌟

-fitrianelestari-

5 Comments

Bookcrossing Yuk!


Bookcrossing itu semacam pertukaran buku atau saling pinjam buku dengan orang lain. Bisa juga disebut buku berjalan, buku yang berpindah dari satu pembaca ke pembaca lainnya. Sebenarnya konsep bookcrossing sudah lama berjalan di luar negeri. Bahkan ada situs yang memfasilitasi kegiatan ini, yaitu Bookcrossing.com. Hampir sama dengan postcrossing yang saling bertukar kartu pos dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Hanya bedanya pada benda yang dipertukarkan saja.

Konsep inilah yang diusung oleh salah satu bookstagram @RachaelsLibrary yang membuat semacam bookcrossing di instagram dengan buku-buku koleksi pribadinya. Siapapun boleh ikut meminjam buku-bukunya dengan mengikuti syarat dan ketentuan yang diberlakukan, dan juga bisa meminjamkan buku-buku milik sendiri untuk dipinjamkan ke teman-teman yang lainnya. Berikut saya tuliskan beberapa ketentuan yang saya rangkum sendiri :

  1. Siapa saja bisa meminjam buku dan meminjami bukunya (domisili Indonesia)
  2. Peminjam tidak dikenakan biaya untuk meminjam buku
  3. Ongkos kirim dibebankan kepada peminjam
  4. Peminjam boleh meminjam maksimal 2 buku
  5. Lama peminjaman max 1 bulan jika ada yang antri untuk meminjam, selama belum ada peminjam berikutnya buku bisa disimpan terlebih dahulu sampai ada peminjam yang baru.
  6. Peminjam wajib follow akun @RachaelsLibrary dan memposting buku yang dipinjam dan mentag akun tersebut, hal ini untuk memudahkan melacak buku-buku yang dipinjam.
  7. Jika ingin meminjam buku yang lain, harus menunggu sampai buku yang dipinjam sebelumnya sudah berpindah tangan ke pembaca yang lain.

Kurang lebih seperti itulah ketentuannya, ini bookcrossing yang saya ikuti di instagram. Saya sendiri sudah meminjam untuk pertama kali dan sekaligus dua buku, setiap buku ditempel sticker khusus yang menandakan bahwa buku itu adalh buku bookcrossing, seperti gambar di atas. Buku yang saya pinjam adalah Perfect Pain karya Anggun Prameswari, saya tertarik meminjam buku ini pertama karena judulnya dan kedua karena saya ingin kenal dengan karya Anggun karena saya belum pernah baca karyanya sebelumnya. Dan setelah membacanya, saya benar-benar puas bacanya (nanti saya review deh). Buku pilihan saya yang kedua adalah Mimi Lan Mintuna karya Remy Silado, alasan pertama karena saya memang penyuka karya-karya beliau dan saya baru punya dua bukunya yang lain (MataHari dan Boulevard de Clichy). Buku ini belum saya baca karena masih sedang baca buku yang lain dulu (kebanyakan TBR hehe).

Bagi saya konsep seperti ini bagus sekali salah satunya untuk meningkatkan minat baca dan sekaligus lebih membudayakan membaca buku. Jika ada yang berminat untuk ikutan boleh banget loh langsung cek IGnya saja ya. Mari budayakan membaca, tularkan virusnya yaa πŸ˜€

-fitrianelestari-

 

 

13 Comments

Respek Terhadap Konsumen


Sikap respek atau menghargai itu penting sekali dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan saja dalam lingkungan kita tapi juga dalam dunia bisnis atau perdagangan. Seperti halnya yang saat ini saya tekuni. Karenanya saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya dalam melayani pembeli/konsumen.

Sebagai penjual pasti sering bertemu banyak orang dengan berbagai karakter, baik itu secara nyata ataupun secara online. Sabar, sudah tentu wajib bagi seorang penjual. Apalagi jika menemui calon pembeli yang sangat rewel, sangat detail, dijelaskan berkali-kali masih tanya lagi, atau nawarnya kebangetan. Padahal bukan satu dua pembeli yang harus saya tanggapi. Maklum konsumen saya hampir sembilan puluh persen adalah perempuan. Karena produk yang saya jual adalah kebutuhan dasar para muslimah, terutama jilbab dan gamis dengan label merk saya sendiri Shakila Nuha.

Kejadian seperti ini sering saya alami, namun lambat laun saya mulai terbiasa dengannya. Secara tidak langsung semakin melatih kesabaran saya. Salah satu kunci untuk menghadapi mereka adalah sikap respek, menghargai dan tidak mengabaikan. Kadang kesal, sakit hati dan ada keinginan untuk mengabaikan dan tidak menanggapi lagi atau ingin menjawab dengan nada ketus, manusiawi kan, iya tapi untungnya saya sejauh ini masih bisa mengendalikan diri untuk tidak pernah terbawa emosi dengan karakter calon pembeli yang menyebalkan. Paling curhat sama suami.

Saya mencoba memposisikan diri seperti mereka, sebagai seorang pembeli tentu ingin tahu dan yakin bahwa produk yang dibelinya benar-benar bagus atau paling tidak sesuai dengan keinginan mereka, sesuai dengan harga yang dibayar. Saya berusaha tetap menanggapi dengan baik dan sering mereka justru yang minta maaf dan tidak enak sendiri dengan sikapnya. Saya juga selalu terbuka mendengarkan pendapat dan masukan mereka untuk produk-produk yang saya jual, terutama para reseller karena reseller adalah jembatan dari konsumen langsung, tapi tentu tidak semua bisa diterima, hanya saja dengarkan saja dulu saat mereka mengungkapkannya. Tidak sedikit reseller atau konsumen yang terkadang dengan sendirinya mereka curhat ke saya, beberapa ada hubungannya dengan urusan jual beli, produk dan kompetitor atau tentang selera pribadi mereka.

Saat mereka merasa diterima, saat mereka merasa dihargai dan didengarkan oleh kita maka ini akan menjadi salah satu pengikat karena mereka juga akan memberikan respek dan kepercayaan balik terhadap kita. Mereka akan kembali lagi mencari kita dan mengingat kita saat mereka membutuhkan kembali produk-produk kita bahkan menjadi pelanggan tetap.

Ini berdasarkan pengalaman saya saja, karena setiap orang itu butuh untuk didengarkan dan dihargai. Dan kesediaan untuk mendengarkan, berbagi apa yang kita tahu itulah yang bisa menjadi nilai plus yang penting untuk dimiliki setiap penjual. Saya pun masih belajar untuk melayani dengan lebih baik lagi.

_fitrianelestari_

*yang masih belajar menjual dengan hati πŸ™‚

 

4 Comments

Melamar Kerja atau Usaha?


Apa yang ada di dalam pikiran kita saat pertama kali lulus kuliah? hampir sebagian besar akan menjawab melamar kerja. Sedikit yang akan menjawab mau berwirausaha atau bahkan mau melamar nikah hehe. Sama halnya dengan saya dulu, saat pertama kali lulus kuliah ya kerjaannya melamar kerja sana sini. Tidak ada sedikitpun dalam pikiran saya untuk berwirausaha atau menciptakan usaha. Apalagi mencoba berdagang.

Pertanyaannya adalah kenapa kok saya dan mungkin sebagian orang berpikir bahwa setelah lulus sekolah harus bekerja dan menjadi karyawan. Kenapa saya tidak mencoba berpikir kreatif? saya kira jawabannya akan sangat berbeda-beda. Karena memang jalan pertama setelah lulus untuk membebaskan diri dari disebut pengangguran adalah dengan bekerja. Orang kebanyakan melihat orang yang kerja di rumah tidak pergi pagi pulang sore itu dianggapnya adalah pengangguran. Padahal bisa jadi penghasilan mereka justru lebih besar dari yang kantoran. Di sini kebalik, orang yang jadi karyawan terlihat lebih keren dari yang berwirausaha. Padahal orang yang berwirausaha jauh lebih keren menurut saya, sekecil apapun usaha mereka. Mereka adalah tuan bagi dirinya sendiri. Saya selalu salut dengan mereka yang berani mengambil langkah pertama untuk memulai usaha sendiri.

Tidak seperti saya, sudah merintis usaha masih saja belum melepaskan diri dari status karyawan. Alasannya? mencari pasar lebih luas dan butuh lebih banyak keberanian. Butuh niat kuat dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan terjun total di dunia bisnis yang saya rintis sekarang ini. Alasan lain? ngumpulin modal lagi untuk pengembangan yang lebih besar. Padahal namanya usaha harus fokus ya kan, tapi dalam waktu dekat saya ingin total. Alhamdulillah usaha yang satu ini sudah jalan dan saya masih banyak plan dengan suami untuk mencoba yang baru lagi buat coba-coba juga. Beruntung suami saya mau bantu usaha saya, bisa dibilang kita tim yang saling melengkapi hehe.

Dimana ada niat dan kemauan di situ ada jalan, ungkapan lama yang memang benar adanya. Terbukti saya yang awalnya nggak pernah kepikiran untuk mulai usaha, tapi saat ada dorongan kuat dari suami dari iseng-iseng akhirnya malah jatuh cinta beneran hehe. Sampai saya berpikir ternyata bisa juga yah kalau kita mau action, mau memulai dan mengambil langkah pertama. Bukan berarti menjadi karyawan itu tidak lebih baik, karena apapun perannya sebagai karyawan tentu karena tenaga dan pikirannya dibutuhkan dan dihargai.

Jadi melamar kerja atau usaha? jawabannya kembali ke masing-masing orang yang penting bertanggung jawab dan dijalankan dengan amanah dan ikhlas biar berkah. Lalu usaha apa dong yang bagus? kalau kata Alm Bob Sadino ya usaha yang dijalankan. Memang benar sih, tanpa mencoba dijlankan kita tidak akan pernah tahu suatu usaha itu bagus atau tidak, berhasil atau tidak. Saya menulis ini juga untuk memotivasi diri sendiri, biar tetap semangat. Lalu kalau yang tidak mau usaha, yang mau jadi penulis misalnya? boleh banget. Toh jadi penulis juga bukan hanya sekadar pintar menulis bagus tapi juga harus bisa menjadi marketing bagi buku-buku yang dia hasilkan. Terlepas dari tujuan materi atau tidak tetap saja pasti ingin bukunya dibaca banyak orang. Trus kesimpulannya apa? yah saya cuma ingin berbagi saja bahwa ada begitu banyak peluang di luar sana jika kita tidak hanya berpikir selepas kuliah lalu melamar kerja. Agar tidak putus asa atau stress hanya karena tidak dapat kerjaan dan menjadi pengangguran selamanya.

-fitrianelestari-

*menulis ini karena terinspirasi dari para sahabat yang sudah mulai sama-sama membuka usaha πŸ™‚