Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Archive for the tag “Flash Fiction”

Jingga Di Ujung Senja


 

“Dulu kita pertama kali bertemu di sini ya sayang, sama-sama sedang menghabiskan sore dan menikmati senja di jembatan Ampera. Ingat tidak, waktu itu kamu sedang memotret suasana di sekitar jembatan, apalagi pada saat matahari mulai tenggelam itu memang momen yang paling menarik untuk di jadikan objek foto”

Lelaki di sampingnya yang diajak bicara pun tersenyum, menerawang namun tatapannya kosong, perempuan itu pun terus saja melanjutkan bicaranya.

“Saat itu aku juga sedang asyik menikmati senja, karena aku memang sangat menyukai langit jingga saat senja. Saking asyiknya sampai aku tidak sadar ada seseorang yang memotretku sejak lama. Hingga akhirnya aku menengokkan kepala dan ternyata kamu pun memandangiku tepat melalui lensa kamera. Aku dan kamu sama-sama tersenyum, malu. dan saat itulah si Cupid kecil memanahkan cintanya pada kita berdua, aku dan kamu jatuh cinta”

Bersamaan dengan kata-katanya, perempuan itu menoleh pada lelaki di sampingnya yang sangat dia cintai, tersenyum dan tangannya semakin erat memeluk lengan lelakinya itu. Lelaki itu pun akhirnya tersenyum, namun tatapannya tetap kosong dan akhirnya dia pun berbicara juga.

“Kamu tahu sayangku, kamu adalah perempuan terindah dalam hidupku, berjuta kata terima kasih pun takkan sanggup mewakili perasaanku padamu. Tapi aku tetap ingin mengatakannya, terima kasih untuk tetap mencintaiku meski kamu sangat mampu untuk meninggalkanku, dan kamu tidak pernah melakukannya, terima kasih untuk tetap memilihku dan bersamaku hingga usia senja kita sekarang. Terima kasih untuk percaya padaku dan menjadikanku satu-satunya lelaki dalam hidupmu pun hingga detik ini”

Mendengar kata-kata dari lelakinya, perempuan itu pun menangis terharu.

“Karena kamu adalah langit jinggaku dan aku adalah lembayung senjamu, kita akan tetap bersama, sampai salah satu dari kita menutup mata, aku bahkan berdoa semoga aku jugalah bidadarimu di surga nanti”

Perempuan itu mengecup kening lelaki yang sudah menjadi suaminya selama dua puluh lima tahun. Satu-satunya lelaki di hatinya yang dicintai dan mencintainya. Lalu lelaki itu meraba wajah istrinya dan balas mengecup keningnya. Seolah menatap istrinya tapi tatapannya tetap saja kosong.

“Terima kasih sekali lagi, karena kamu sudah menggantikanku untuk melihat dunia dan aku melihat dunia yang begitu indah melalui matamu”

“Tentu sayang, bukankah aku sudah berjanji sejak sepuluh tahun yang lalu untuk menjadi pengganti matamu melihat indahnya dunia, hingga aku menutup mata”

Sore itu jingga di ujung senja menjadi saksi cinta sejati dari dua hati.

‘Ne..

note: setelah ketinggalan dua judul dari proyek #15HariNgeblogFF2 akhirnya pada judul yang ketiga ini saya bisa ikutan. Karena saya begitu menyukai senja jadi begitu lihat judulnya langsung pengen ikutan :D selamat menikmati dan semoga berkenan di hati :)

Sepotong Tiramisu Terakhir


Sepotong Tiramisu

Sepotong Tiramisu yang ada di depanku ini, yang kubeli dari toko Bakery sudut jalan, adalah sepotong tiramisu terakhir yang kau inginkan sebelum kepergianmu. Kau bahkan belum sempat memakannya, tentu saja ini salahku sayang. Saat itu aku begitu egoisnya dengan tidak langsung memenuhi keinginanmu untuk membelinya. Aku tidak pernah menyangka bahwa itu adalah keinginan terakhirmu, maafkan aku sayang.

Kepergianmu yang tak terduga jelas mengagetkan begitu banyak orang, tak terkecuali aku yang melewatkan sepanjang malam denganmu. Masih jelas dalam ingatan kau yang tidur dalam dekapanku dan lalu berkata terima kasih karena aku telah menjadi pendamping dan menjadi ayah dari anak-anakmu. Sepanjang malam itu kau tidak tidur, kau lebih cerewet dari biasanya, banyak bercerita tentang anak-anak, tentang kebersamaan kita selama ini. Kau juga bilang bahwa kau begitu bangga dengan kehidupan yang sudah kau jalani. Bukan karena semata-mata kau telah menjadi artis terkenal dan berbakat, menjadi salah satu artis legenda di negeri ini. Bukan itu yang kau banggakan, juga bukan itu yang kau ceritakan. Kau justru merasa sangat bangga menjadi istri dari seorang dosen sepertiku.

Tapi, dari sekian banyak kisah yang sudah aku lewati bersamamu, selama 45 tahun perjalanan pernikahan denganmu tidak ada satu pun penyesalan dalam hidupku. Aku tidak pernah merasa direndahkan olehmu, Seorang Anggita Maharani sang artis besar hanya bersuamikan seorang dosen. Aku tidak pernah malu karena kau pun juga tidak pernah malu mengakui pada dunia siapa suamimu. Kau tetap setia menjadi pendampingku meski aku tahu ada begitu banyak godaan di depanmu. Tentu saja ada begitu banyak laki-laki yang menginginkanmu apalagi mereka tahu aku hanyalah seorang dosen dengan gaji yang tidak bisa dibandingkan dengan penghasilanmu atau dengan harta para pengusaha kaya yang mengejarmu. Hingga usia senja kita, bahkan saat-saat terakhirmu kau habiskan waktu hanya untukku, dalam dekapku kau pergi dengan tenang. Aku menyadari satu hal, ternyata Tuhan begitu menyayangimu hingga memanggilmu lebih dulu.

Tanah merah masih juga basah, berpuluh-puluh karangan bunga memenuhi halaman rumah dan pemakaman, orang-orang dan semua yang datang untuk melayat satu persatu kembali pulang. Tinggallah aku duduk di kursi goyang di teras belakang, tempat kita biasa menghabiskan sore, menikmati senja dengan teh manis dan Tiramisu kesukaanmu. Kursi goyang di sebelahku, dingin. Tidak ada lagi kamu duduk di situ, yang ada hanya aku dan sepotong Tiramisu terakhirmu.

note: photo by @cappucinored, sahabat saya pecinta fotografi dari Bandung, tengkyu neng :-)

‘Ne

Maaf, Aku Sibuk!


Rima semakin gelisah dan berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, berkali-kali dia menengok penuh harap ke ponsel di genggaman tangannya. Bagaimana tidak, dua hari lagi adalah salah satu hari yang cukup bersejarah baginya, penampilan perdananya di kontes pencarian bakat. Rima memang lolos audisi menyanyi yang diadakan oleh salah satu Stasiun Televisi Swasta di Indonesia dan masuk ke sepuluh besar. Tapi, Bian sampai detik ini belum juga memberi kabar apakah dia akan hadir dan memberi dukungan secara langsung. Berpuluh-puluh teleponnya tidak dihiraukan oleh Bian, juga sms-smsnya tidak ada satu pun yang berbalas.

“Maaf, aku sibuk!” itu saja bunyi satu-satunya sms dari Bian dan setelahnya ponsel Bian tidak aktif, Rima mencoba menghubunginya melalui inbox di Facebook juga DM di Twitter pun sama saja hasilnya, nihil. Bian tetap tidak bisa dihubungi. Rima tidak habis pikir kenapa Bian bisa bersikap seperti itu padanya, selama ini Bian selalu mendukungnya untuk mengejar mimpinya sebagai seorang penyanyi. Sekarang, ketika pintu jalan sudah terbuka baginya, Bian justru bersikap sebaliknya.

Meski begitu, Rima masih tetap berusaha untuk menepis kegelisahan hatinya dan bisa latihan dengan maksimal, mungkin ini awal dari salah satu ujian untuk mengejar impiannya. Rima, menyadari impian yang dia kejar selain harus memiliki suara yang berkualitas juga harus memiliki mental yang kuat. Rima mencoba tidur dan masih berharap semoga Bian segera menghubunginya.

***

Satu hari menjelang penampilan perdananya di babak penyisihan besok malam, ada sembilan peserta lainnya yang sama-sama berjuang seperti dia. Melihat wajah-wajah penuh semangat dan sumringah di latihan terakhir tadi siang sedikit mempengaruhi mental Rima, Rima merasa tegang dan masih juga gelisah. Sudah satu minggu dia masuk karantina untuk para kontestan, tidak bertemu keluarga dan juga Bian.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dari Bian. Seketika Rima memencet tombol untuk menerimanya.

“Halo! Bian kamu kemana ajaa? badly need you Bi” Rima tak kuasa menahan air matanya yang selama ini dia tahan. Tapi kali ini dia begitu rindu kekasihnya, ingin menumpahkan segala kegelisahan hatinya.

“Sayang, maafin aku ya. Sikapku konyol sekali” ada nada penyesalan dalam kata-kata Bian.

“Iya, tapi kenapa? dan apa alasanmu bersikap seperti itu padaku? bukankah kamulah orang pertama yang paling mendukungku selama ini?” sembari mengusap air matanya Rima bertanya pada Bian.

Aku hanya takut, takut jika kamu sudah terkenal nanti kamu akan terlalu sibuk dengan duniamu dan tidak akan ada lagi Rima yang kucintai dan mencintaiku. Oke aku sadar pikiranku ini konyol karena itu, sekarang aku menelponmu” Demi mendengar penjelasan Bian barusan, Rima merasa sangat lega, segala kegelisahannya sirna.

“Bian, Bian, jika pun itu mungkin terjadi, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bagaimana bisa aku melupakan orang yang aku cintai, yang selalu ada untuk mendukungku. Aku justru ingin membagi segala kebahagiaan dari apa yang aku raih ini denganmu. Aku ingin kamu masih tetap ada saat dimana impianku terwujud, maukah kamu?”

I’ll be there for you, Rima. Aku akan selalu mendukungmu, dan besok malam aku akan datang langsung untuk menyaksikan penampilanmu, sayang. Tunjukkan kemampuanmu dengan maksimal ya”

Siiip!! pasti sayang” Rima menutup teleponnya dengan penuh kebahagiaan. Rima merasa sangat siap untuk penampilan perdananya besok malam.

***

“Rima, bangun! sudah siang sayang, anak perawan kok bangunnya siang, mentang-mentang Hari Minggu. Makanya jangan suka begadang nonton TV sampai malam” suara khas Mama terdengar dari lantai dapur yang kebetulan berada di bawah kamarku.

“Jadi yang semalam cuma mimpi??” Rima bergumam sendiri, mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, nyanyi lagi.

“Rimaaa.. hentikan!!” serempak seluruh isi rumah berteriak sembari menutup telinga, seluruh dunia juga tahu seperti apa suara Rima.

***

‘Ne

*ditulis untuk ngejar #FFHore dalam keadaan minim ide :-D

Selamat Ulang Tahun, Kamu


Besok adalah hari ulang tahunku, tapi tidak ada tanda-tanda Bian akan memberiku kado atau kejutan berarti. Biasanya jauh-jauh hari dia sudah sibuk menanyakan hadiah apa yang aku inginkan, tapi kali ini Bian cuek saja. Sebenarnya bukan hadiah atau semacamnya yang aku inginkan, aku hanya tidak ingin Bian melupakannya, meski hanya sekedar ucapan sederhana. Siapa sih perempuan di dunia ini yang tidak ingin mendapatkan perhatian dari kekasihnya? Begitu juga aku.

Sudah pukul 12.00 lewat, banyak sms masuk ke ponselku untuk mengucapkan selamat, juga telepon dari sahabat dekat. Aku bahagia di hari ulang tahunku ini penuh dengan limpahan doa-doa, tapi tidak bisa di pungkiri dalam hati aku sedih sekali karena tidak ada ucapan atau pun sms dari Bian. Jadi benar Bian lupa hari ulang tahunku.

***

Come closer.. Come closer to me now.. Can’t wait any longer Come closer to me now..

Tiba-tiba lagunya Rico Blanco dalam sebuah iklan pasta gigi, mengalun di ponselku, seketika aku terbangun dari tidurku, pukul 03.00 dini hari. Aku langsung tahu siapa yang menelponku. Masih dengan sisa-sisa kesal semalam aku pun mengangkat telponnya.

“Halo Rima sayang, bangun dan wudhu dulu sana, setengah jam lagi aku telepon lagi ya” hanya itu dan Bian sudah menutup teleponnya sebelum aku memarahinya. Bian memang selalu membangunkanku setiap pukul tiga dini hari dan lalu kita bersujud bersama. Seketika rasa kesalku hilang, aku malu yang terlalu memikirkan diri sendiri, yang selalu ingin diperhatikan. Padahal yang terpenting dari ulang tahun bukanlah perayaan dan kado-kado semata. Doa yang tulus bukan hanya sekedar ucapan, perhatian bukan sekedar hadiah tapi meski hanya dengan mengingatkanku untuk beribadah itu juga merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang.

***

Come closer.. Come closer to me now Can’t wait any longer Come closer to me now..

Setengah jam kemudian ponselku kembali berdering. Kali ini aku mengangkatnya dengan hati yang ringan dan bahagia, aku tidak akan marah meski dia lupa ulang tahunku, karena aku tahu dan merasakan ketulusannya.

“Halo, dengan Rima cantik di sini”

“Iya selalu cantik, apalagi kalau hatinya bersih haha.. Oya Selamat ulang tahun ya sayang, aku gak lupa kok tapi semalam memang ketiduran” ternyata Bian tidak lupa dengan ulang tahunku, meski terlambat tapi aku tetap senang. Aku semakin malu.

“Makasih ya sayang, aku kira kamu lupa, maaf ya aku sempat kesal sama kamu”

“Aku yang minta maaf harusnya, ya udah sekarang coba buka Laptopmu”

“Laptopku? untuk apa?” Meski heran tapi aku pun tetap menuruti kata-katanya. Aku mengambil laptop di meja dan menyalakannya.

“Sudah? sekarang kamu buka C dan klik Users lalu klik Rima, nah selanjutnya kamu buka folder Video kamu klik lagi dan di situ ada file dalam bentuk RAR kamu klik dua kali, lalu akan muncul tampilan dalam bentuk kolom kemudian kamu pilih ekstrak dan ok saja. Sekarang kamu kembali lagi ke folder Video tadi nah kamu sudah lihat file yang tadi di ekstrak? bukalah” sepanjang Bian menjelaskan aku hanya mengiyakan dan menuruti perintahnya.

“Iya ada video dengan judul Selamat ulang Tahun, Kamu” kataku padanya, apa ini untukku? hatiku masih bertanya-tanya apa isi video tersebut.

“Iya untukmu, bukalah” Bian seperti mendengar pertanyaan dalam hatiku.

Aku pun membukanya, dan Video itu diawali dengan ucapan “Selamat Ulang Tahun, Rima Perempuanku. Dengan segenap cinta dan sayang, Bian” setelah itu di video tersebut terlihat keluargaku satu persatu mengucapkan selamat ulang tahun untukku, juga sahabat-sahabatku yang sudah lama tidak bertemu. Aku tidak menyangka Bian melakukan ini untukku, sengaja membuat video ini dan mendatangi satu persatu orang-orang tersebut. Memasukan video ini diam-diam ke laptopku. Aku pun tak kuasa menahan haru, apalagi di akhir video tersebut, Bian sengaja memainkan gitar dan menyanyi lagu khusus yang dia ciptakan untukku. Aku tergugu. benar-benar tidak tahu harus berkata apa selain terima kasih berkali-kali.

“Rima, aku hanya ingin menjadi orang yang bisa mewujudkan mimpi-mimpimu, kebahagiaanmu dan yang harus kamu lakukan adalah percaya padaku bahwa aku sanggup melakukannya” ucapnya lirih di seberang telepon, dan aku semakin sesenggukan masih tidak mampu berkata-kata. Tapi aku yakin Bian tahu, sangat tahu apa yang aku rasakan.

***

‘Ne..

di tulis sembari mendengarkan lagu dari Rico Blanco- Come Closer yang merupakan jingle iklan Close Up :-D

Semangkuk Bakso Tahu


Sore itu aku dan Bian duduk santai menikmati senja di alun-alun kota sembari ngeronde, itu istilahku dan Bian untuk minum wedang ronde, selain ngeronde salah satu kebiasaanku dan Bian adalah makan semangkuk bakso tahu, kalau yang terakhir ini sebetulnya kebiasaannya Bian. Kebetulan warung tenda bakso tahu itu ada di sebelah penjual wedang ronde dan tikar tempat untuk duduk pun bisa berbarengan.

Aku memesan segelas wedang ronde dan Bian memesan segelas ronde sekaligus bakso tahu. Aku dan Bian sedang asyik menikmati santapan sembari berbincang tentang banyak hal dari masalah kenaikan BBM, tentang Film The Raid yang baru saja diluncurkan, sampai masalah sinetron yang bertele-tele. Tiba-tiba ada sepasang suami istri yang sudah berumur, ikut duduk di sebelah kami. Mereka berdua tersenyum ramah pada kami, begitu juga aku dan Bian membalas senyuman mereka dan kembali dengan kesibukan kami.

“Rima sayang, ayo donk cobain deh” bian berusaha membujukku.

“Gak mau ah, kamu aja”

“Aku tahu kamu sudah beralasan berkali-kali kalau kamu itu gak doyan bakso tahu, tapi alasan kamu itu gak masuk akal”

“Aku gak suka, itu saja titik” kataku sedikit jengkel.

“Iya tapi bagaimana kamu bisa bilang gak suka kalau nyobain aja belum pernah?”

“Pokoknya aku gak suka sama tahu, jadi mau dibikin seperti apapun aku tetep gak suka”

Saat kami sedang asyik-asyiknya berdebat, tiba-tiba bapak yang tadi datang dengan istrinya ikut berkomentar

“Maaf nak, kalau bapak ikut campur, kebetulan bapak denger dan bapak juga punya pengalaman yang sama soal menangani orang yang tidak suka bakso tahu” katanya sambil menghadap Bian.

“Beneran pak, wah boleh donk pak bagi-bagi ceritanya, trus gimana cara membujuknya pak?” tanya Bian antusias, dia memang terobsesi untuk membuatku suka dengan bakso tahu.

“Saya tidak pakai cara yang aneh-aneh kok nak, waktu dulu saya juga seumuran dengan kalian, saya punya pacar yang kalau makan suka pilih-pilih, ini tidak suka, itu tidak suka, jadi susah kalau mau ngajak dia makan”

Aku pun ikut mendengarkan cerita si bapak, sambil sesekali melirik Bian yang sepertinya antusias sekali.

“Nah suatu hari saya yang memang suka sekali bakso tahu, mencoba mengajaknya dan harus berhasil membujuknya. Awalnya dia menolak terus, dengan alasan yang sama ketika saya ajak dia makan yang bukan kesukaan dia. Karena sudah sangat kesal dengan alasan dia saya pun tidak memperdulikan penolakan dia, saya tetap melajukan motor saya ke sebuah warung bakso tahu, tanpa bertanya padanya saya pun memesan dua mangkuk bakso tahu, satu untuk dia dan satu untuk saya sendiri”

Si bapak berhenti sejenak untuk minum dan lalu melanjutkan kembali ceritanya.

“Setelah pesanan datang, saya cuma bilang begini padanya, makanlah, dia hanya menggeleng, lalu saya mengambil sendok dan menyuapkan padanya sembari berkata, kalau kamu sudah makan ini dan ternyata tidak enak, aku tidak akan pernah memaksamu lagi dan aku juga tidak akan makan bakso tahu lagi”

“Trus apa jawabnya pak?” tanya Bian tidak sabar.

“Dia tidak menjawab dan mencoba untuk memakannya, dan akhirnya satu mangkuk bakso tahu itu habis olehnya”

“Waah kira-kira apa ya alasan dia sampai akhirnya mau makan bakso tahu itu?” tanya Bian. Diam-diam dalam hatiku juga ikut penasaran.

“Silahkan tanyakan sendiri pada orangnya” jawab si bapak sambil tersenyum dan menunjuk perempuan di sampingnya, yang tak lain adalah istrinya.

“Oh, jadi Ibu yang diceritakan tadi? memangnya apa alasan Ibu mau menerima bujukan bapak, Bu?”

Ibu itu mengangguk dan tersenyum, lalu dia pun menceritakan semuanya.

“Memang yang dikatakan suami saya itu benar, dulu saya susah sekali kalau makan, apa-apa bilang gak doyan, padahal seringkali saya belum mencobanya sama sekali. Hanya karena sugesti saya sendiri yang sering berpikiran makanan ini gak enak, makanan itu gak bergizi, makanan anu gak higienis” Bian pun melirikku, aku tahu pandangan matanya seolah berkata kalau Ibu itu sama denganku.

“Hari itu saat suami saya memaksa saya untuk makan semangkuk bakso tahu, dengan cara seperti itu saya sadar, bagaimana bisa saya bilang tidak suka, padahal mencoba memakannya saja belum pernah, saya juga merasa sangat egois karena setiap kali makan selalu memikirkan apa yang saya suka saja, tanpa memikirkan dia juga mungkin ingin makan makanan kesukaannya. Bahkan dia rela untuk tidak memakan bakso tahu lagi jika ternyata setelah mencicipinya saya tetap tidak suka padahal itu adalah salah satu makanan kesukaannya. Saya melihat ada ketulusan di matanya, saya pun mau memakannya, sesuap demi sesuap saya makan sampai akhirnya habis.  Saat itulah ada kesadaran menyeruak dalam benak saya, saya sadar apa maksud dia sebenarnya. Bukan untuk menyukai apa yang dia suka, hanya untuk menyadarkan saya bahwa janganlah buru-buru menilai sesuatu yang kita belum tahu kebenarannya, dan nyatanya benar ternyata bakso tahu itu enak sekali lho” Si Ibu mengakhiri ceritanya sembari tersenyum manis pada suaminya.

Aku dan Bian saling pandang, dia hanya tersenyum dan menyuapkan sesendok bakso tahu padaku sembari berkata “mau coba?” aku mengangguk dan menerima suapannya, mengunyahnya perlahan takut tidak enak dan ternyata, benar kata si Ibu kalau bakso tahu itu ternyata enak. Tanpa basa basi aku pun langsung memesan semangkuk bakso tahu pada penjual bakso yang diam-diam ternyata mendengarkan perbincangan kami.

“Dijamin setelah makan bakso tahu saya, pasti ketagihan Neng” penjual itu berkata, dan disambut dengan tawa dari sepasang suami istri itu, dan juga Bian, aku pun ikut tertawa untuk menutupi sedikit rasa malu karena telah menilai tanpa mencobanya.

Akhirnya sore itu aku mendapatkan pengalaman dan pelajaran baru. Dalam hati aku berjanji untuk tidak buru-buru menilai dan bilang tidak sebelum mencobanya.

***

‘Ne..

ditulis di detik-detik terakhir Dead line, selamat menikmati :-)

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 625 other followers

%d bloggers like this: