Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Akhir April


Dini hari di penghujung April. Merenung dan mendapati betapa banyak nikmat yang saya dapatkan di bulan ini.

Nikmat sehat dan berat badan pun stabil pada posisinya :D .

Nikmat rezeki, kerjaan baru dan honor tulisan dari bulan Februari akhirnya ditransfer, sedikit atau banyak hasil usaha itu memuaskan yaa hehe. Bisa sedikit berbagi dengan teman-teman dan keluarga.

Berkumpul lagi dengan keluarga dan nggak jadi anak kos lagi yang artinya kembali ke Menara Hijau :D dan sedang giat2nya belajar mengurus rumah, semoga tahun depan sudah menempati rumah sendiri bareng si partner.. Aamiin..

Mendapatkan kesempatan untuk belajar hal-hal baru itu seru. Ketemu temen-temen baru itu menyenangkan dan memiliki sahabat-sahabat yang seperti saudara itu membahagiakan :D

Jadi benar ya, bahagia itu sederhana, saat kita bisa berbagi bahagia dengan orang-orang yang kita sayangi :)

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan Ne?”

Yuk, siap-siap menyambut Mei :D

‘Ne
-karena bahagia itu dari hal-hal sederhana tapi rasanya luar biasa :)

Caci Maki


Caci Maki dalam kamus Bahasa Indonesia berarti kata-kata kotor (tidak sopan) yang dikeluarkan untuk mengumpat seseorang; kata-kata makian (sebagai penghinaan) ; celaan; dampratan; maki-makian.

Contoh caci maki adalah menyebut atau memanggil seseorang dengan nama binatang. Lucu kedengarannya saat kata-kata makian itu dilontarkan oleh orang yang notabene berpendidikan. Bukan hanya menyebut nama binatang tapi banyak kosakata lain yang terlontar yang semuanya kotor dan tidak pantas diucapkan. Contoh lain merendahkan dan menghina sebuah pekerjaan dan merendahkan derajat orang lain yang karyawan swasta sedang dirinya pegawai negri. Ini yang lebih lucu, bukankah di mata Alloh semua manusia itu sama? bukan harta, jabatan, atau status yang membedakannya dan apakah hanya karena menjadi pegawai negeri lantas derajatnya lebih tinggi dari karyawan swasta? Betapa dangkalnya pikiran yang demikian.

IQ boleh saja tinggi, tapi EQ juga penting. Sebagai manusia dewasa tentu kita dituntut untuk lebih mawas diri dan mampu mengendalikan emosi. Jangan sedikit-sedikit memaki, lha apa nggak capek? apalagi kalau yang dimaki-maki aja nggak ngapa-ngapain. Kadang suka ngeri sendiri dan sekaligus kasihan sama orang-orang yang dengan mudahnya mencaci maki, mengumbar sumpah serapah, dalam hati saya berdoa semoga semua kata-katanya tidak kembali pada dirinya sendiri. Ada yang bilang kata adalah doa atau kata sebuah iklan, mulutmu harimaumu.

Kadang terlintas pertanyaan dalam hati, saat melihat atau mendengar orang yang sedang memaki dan tidak bisa mengontrol kata-katanya, apakah dengan begitu membuatnya bahagia dan tenang? bukannya malah membuatnya terlihat bodoh dan merendahkan dirinya sendiri. Selain melukai orang lain dengan kata-katanya hal itu juga semakin menunjukkan kualitas pribadinya. Sepertinya dalam agama manapun tidak menganjurkan untuk memaki orang lain, yang ada justru menganjurkan untuk berkata-kata dengan baik. Sedari kecil saat masih sekolah atau juga dirumah pasti sudah diajari sopan santun.

Kata-kata yang keluar dari mulut kita bisa menjadi cerminan hati kita. Jika yang keluar kata-kata kotor bisa jadi hatinya penuh dengan kotoran dan penyakit hati. Wah harus segera dibersihkan tuh. Sayang sekali kan masa cantik atau ganteng kata-katanya kotor. Nggak malu sama Tuhan? :)

Saya menulis ini berdasarkan apa yang saya amati, bukan berarti saya juga paling benar hanya saja membuat saya bercermin dan belajar untuk tidak menjadi orang yang demikan. Semoga saya selalu mampu menjaga lisan ataupun tulisan yang saya keluarkan.

‘Ne
-karena memaki itu tidak baik untuk kesehatan [jiwa] (^_^)

‘Pindah’


Bulan April sudah hampir berakhir dan akan berpindah ke bulan yang baru. Bisa jadi kehidupan pun adalah sebuah perpindahan. Berawal dari kita berada dalam rahim dan berpindah ke dunia, selanjutnya dalam kehidupan yang kita jalani mengalami berbagai macam perpindahan hingga akhirnya kita pindah kembali ke tempat yang seharusnya.

Namanya perpindahan terkadang ada hal-hal menyakitkan yang mengiringi. Pindah sekolah, ataupun pindah kerja, pindah kos atau pindah rumah itu berarti harus meninggalkan orang-orang yang sudah terlanjur dekat dengan kita. Harus beradaptasi lagi dengan orang-orang dan lingkungan yang baru. Begitu pula dengan pindah hati, akan ada hal-hal yang hilang dan akan ada hal-hal yang harus dilupakan. Dari yang single ‘pindah’ dalam kehidupan baru sebagai suami atau istri kemudian menjadi orang tua.

Akan selalu ada perbandingan di awal perpindahan, itu wajar. Tapi pada akhirnya waktu juga yang bisa membuat kita bisa menerima segalanya. Menerima lingkungan baru, menerima pergaulan dan kebiasaan baru dan juga menerima kehidupan baru.

Jika kita memang ingin mendapatkan pencapaian yang lebih dari yang kita bisa saat ini, maka kita hanya harus berani ‘pindah’ dan keluar dari zona nyaman kita. Berani pindah berarti siap menghadapi dan menerima apapun konsekwensi yang akan terjadi di depan nanti.

Jadi nikmati saja setiap hal yang menyenangkan dari proses perpindahan itu. Sampai akhirnya kita akan pindah kembali kepadaNYA.

by Ne
-karena kita tidak bisa menentang waktu-

Namaku Mata Hari


Namaku Mata Hari

Aku pelacur tulen,

Tapi aku penari sejati,

dan aku Belanda berdarah Indonesia

Mungkin sudah banyak yang tahu tentang novel ini, terutama bagi mereka yang menyukai novel sejarah. Saya pribadi baru membeli buku ini pada pertengahan tahun 2012 yang lalu saat ada bookfair di Gramedia dan baru mulai membaca pada Bulan November. Lama buku ini saya tinggalkan untuk membaca buku-buku yang lain terlebih dahulu. Alasannya? ya karena tebalnya itu lho 559 halaman hehe seperti novel Remy Sylado yang lain.

Namaku Mata Hari merupakan sebuah novel sejarah yang diangkat dari kehidupan seorang perempuan Belanda yang berdarah Indonesia. Seorang penari eksotik dan erotik dan sekaligus pelacur, ditambah lagi sebagai seorang mata-mata dua negara pada masa Perang Dunia I, yaitu negara Perancis dan Jerman.  Jujur saya baru tahu kisahnya setelah saya membaca novel ini dan membaca biografinya di Wikipedia. Ternyata sudah banyak sekali literatur yang mengisahkan tentang kehidupannya bahkan sudah beberapa kali difilmkan. Tapi memang tidak banyak yang mengupas tentang kehidupan Mata Hari di Indonesia, dan dalam novel ini hampir sebagian kisahnya adalah saat ia di Indonesia.

Mata Hari bernama asli Margaretha Geertruida Zelle lahir pada 7 Agustus 1876 di Leeuwarden, Belanda, menikah pada usia 18 tahun dengan seorang opsir Belanda bernama Rudolf John Macleod. Ia mengikuti suaminya yang ditugaskan di Indonesia (pada masa penjajahan Belanda), tepatnya di wilayah, Ambarawa. Di sinilah Mata Hari mulai jatuh cinta pada kebudayaan Indonesia terutama tarian Jawa, dan menjadi inspirasinya. Hingga ia belajar langsung pada seseorang yang dipanggilnya Mbah Kung, di sebuah padepokan di Borobudur, Magelang. Dari situlah akhirnya ia menjadi seorang penari Jawa eksotik dan erotik dan berganti nama menjadi Mata Hari.

Bukan hanya menjadi penari, Mata Hari juga menjadi seorang pelacur kelas tinggi. Berawal dari dendam pada suaminya yang suka melacur. “Kalau laki-laki bisa, kenapa perempuan tidak bisa” begitu tekadnya. Tapi bukan hanya di situ ambisinya, Mata Hari ingin menjadi penari terkenal dan menaklukkan Paris, yang merupakan pusat kebudayaan barat. Akhirnya Ia berhasil menjadi penari yang bukan hanya terkenal di Perancis tapi juga di beberapa negara di Eropa. Disamping itu Ia juga tetap menjalani profesinya sebagai pelacur. Mata Hari menjadi pelacur di kalangan pejabat-pejabat tinggi dan pejabat militer dari berbagai negara yang Ia singgahi.

Meski Ia seorang pelacur tapi kesukaannya membaca membuatnya memiliki pengetahuan yang luas, dan menguasai tujuh bahasa, hingga Ia dilirik oleh pemerintahan Perancis untuk menjadi mata-mata. Saat itu di Eropa memang sedang terjadi pertikaian hingga meletuslah Perang Dunia I. Bukan hanya Perancis, Jerman juga merekrut Mata Hari menjadi mata-matanya dan memberinya kode H21. Dengan memanfaatkan profesinya sebagai penari dan pelacur Mata Hari pun dengan mudah menjadi mata-mata bagi dua negara yang sedang bertikai tersebut. Mata Hari mengorek keterangan saat melacur, dan Ia menyebutnya sebagai ‘dialog di atas bantal’

Hingga akhirnya Perancis mengetahui bahwa Mata Hari adalah mata-mata ganda dan menjatuhi hukuman mati atas tuduhan pengkhianatan terhadap Perancis. Mata Hari meninggal dunia pada 15 Oktober 1917 dalam eksekusi mati oleh regu tembak.

Kelam memang kisah Mata Hari ini, mati dengan tragis tanpa satupun keluarganya yang mendampingi. Setelah anak laki-lakinya meninggal karena keracunan, Ia juga dipisahkan dengan anak perempuannya karena hak asuhnya jatuh pada suaminya saat perceraian. Konon anak perempuannya juga tinggal dan menikah dengan orang Indonesia.

Tidak menyesal rasanya membeli dan membaca novel ini, karena saya sendiri menyukai kisah-kisah yang berhubungan dengan sejarah, terutama yang berhubungan  dengan sejarah dan budaya Indonesia.

 

‘Ne

-penikmat novel sejarah-

 

Weekly Photo Challenge : Color


image

Mamy-’Ne-Niek

Lama nggak posting WPC, akhirnya ikutan lagi deh di tema kali ini WPC : Color

Ceritanya kita lagi mau reuni kecil setelah sekian bulan tak berjumpa. Janjian di Happy Puppy dan sebelum masuk ruangan kita foto dulu di ruang tunggu. Baru ngeh kalau fotonya penuh warna-warni ceria pas dilihat hasilnya. Ya sudahlah nggak usah di edit, itu asbak biar ikutan nampang juga deh :mrgreen:

‘Ne..

-karena hidup itu penuh warna-

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 625 other followers

%d bloggers like this: